Berita Metro

Senin, 29 Mei 2017  19:01

Dengan Puasa, Hidup Lebih Baik

Dengan Puasa, Hidup Lebih Baik
Dr. KH. Amad Subakir, M.Ag.
Oleh: Dr. KH. Amad Subakir, M.Ag.
(Dosen STAIN, dan Mantan Ketua PC. NU Kota Kediri )

Semua orang pasti ingin hajatnya terkabul. Untuk mencapai itu macam-macam cara dilakukan manusia. Cara itu ada yang sudah sesuai dengan Al-Quran dan Hadist, namun adakalanya dengan cara yang tidak dibenarkan ajaran islam. Seperti orang yang punya keinginan dengan pergi ke dukun. Perbuatan tersebut jelas tidak diperkenankan oleh ajaran islam, karena termasuk Syirik yang tergolong dosa besar.
 
Cara yang sudah sesuai dengan ajaran islam, contohnya adalah melakukan puasa agar hajatnya terkabul. Karena puasa adalah amalan yang langsung pahalanya dari Allah yang dapat mendekatkan diri kepada - Nya. Seperti didalam hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman, semua amal perbuatan anak Adam - yakni manusia - itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku akan memberikan balasan dengannya.”  Dari hadis tersebut dapat diketahui, betapa pentingnya puasa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
 
Ada hadis lagi yang menyebutkan,  “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760). Kalau seorang sudah dekat dengan Allah, dan dosa-dosanya sudah diampuni, Insya Allah kalau berdoa akan mudah terkabul.
 
Seperti yang saya alami dulu, sekitar tahun 1980 ketika berada di pondok, saya melakukan amalan puasa dalail. Yaitu puasa selama 3 tahun berturut-turut dan tidak boleh batal selama melakukan amalan tersebut. Dan alhamdulilah begitu selesai mengamalkan itu, saya bisa melanjutkan kuliah tanpa bantuan biaya dari orang tua. Dan begitu lulus sekitar tahun 1989, beberapa bulan berikutnya langsung diangkat menjadi Dosen dengan status PNS, tepatnya di kampus STAIN Kota Kediri.
 
Padahal di dalam keluarga saya, tidak ada yang namanya budaya sekolah apalagi sampai Kuliah. Meskipun keluarga saya sebenarnya mampu untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Akan tetapi setelah melakukan puasa, begitu saya ijin kepada orang tua langsung direstui. Dan hal itu tanpa dibiayai oleh orang tua. Dan Alhamdulilah, sambil bekerja saya berhasil meraih gelar S-2 di UIN Jakarta di tahun 2000. Dan di tahun 2010 saya berhasil menyelesaikan S-3 di Universitas Merdeka (Unmer) Malang.
Oleh karena itu saya menghimbau, kepada masyarakat agar di bulan suci Ramadan ini, harus tetap melakukan puasa meskipun sambil bekerja. Karena orang yang sudah bekerja berat, terus tidak puasa dimungkinkan hartanya kurang berkah. Dan juga kalau orang yang bekerja sudah berat, dan gajinya pas-pasan akan tetapi mau melakukan puasa Ramadan insya Allah di bulan berikutnya rezekinya akan semakin luas.
 
Untuk itu juga diperlukan manajemen yang baik untuk menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat ini dengan sebaik-baiknya. Di antaranya dengan cara sebelas bulan digunakan untuk bekerja sambil menyisihkan uang,. Dan begitu Bulan Ramadan tiba, maka hasil uang yang disisihkan tersebut, bisa digunakan untuk ibadah di bulan puasa dengan sungguh-sungguh. Kalau mau seperti itu Insya Allah hidup menjadi berubah lebih baik lagi. (bad/tit)



Berita Terkait