Berita Metro

Senin, 05 Juni 2017  19:08

Bulan Ramadan Menjadi Tolak Ukur Evaluasi Diri

Bulan Ramadan Menjadi Tolak Ukur Evaluasi Diri
Suli Da'im S.Pd, M.M, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim
Bulan suci Ramadan adalah bulan pengampunan dan penuh hikmah yang ditunggu oleh banyak umat Islam. Di dalam bulan ini, banyak ibadah yang bisa dilakukan mulai puasa, sholat terawih dan tadarus (baca Al-Qur’an).  Tuntutan puasa sebagai mana surat Al Baqarah 183 yang berbunyi, “yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba ‘alaykumu alshshiyaamu kamaa kutiba ‘alaa alladziina min qablikum la’allakum tattaquuna” yang berarti “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
 
Sesuai definisinya, puasa dibagi menjadi tiga hal yaitu amanu yang berarti orang beriman, kemudian bersiam atau perintah berpuasa, kemudian menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Dan tiga hal ini menjadi perintah buat kita umat Islam untuk melakukan dan mengerjakan puasa Ramadan sehingga ibadah tersebut menjadi hal yang sangat bermanfaat. 

Cermin orang beriman adalah melaksanakan perintah Allah seperti menjalankan puasa Ramadan dan juga meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Tentu sebagai proses menuju ketakwaan, kita akan menemui beberapa ujian di bulan Ramadan. Tapi setelah itu, kita akan mendapatkan ‘sertifikat’. 
 
Karena itu, maka harus ada perubahan termasuk keteguhan keimanan kita. Apakah di bulan Ramadan bisa tetap menjaga tingkat ketakwaan? Apakah ada peningkatkan pasca bulan Ramadan? Itulah yang menjadi ukuran kita. Apakah beramal dan beribadah pada bulan Ramadan sebagai bagian ujian kita untuk mendapatkan taqwa? Bagaimana kita mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. 
 
Di bulan Ramadan ini, kita harus evaluasi diri, merenungkan diri kita,  menjaga keteguhan keimanan kita agar tetap pada posisi puncak dan sesuai harapan. Di bulan suci Ramadan, hendaknya kita bisa menolong orang lain, perubahan perilaku kita. Perubahan merupakan tingkat kualitas keimanan kita. Untuk merubah harus kembali pada kita karena Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubah. Kita juga harus memiliki prinsip bahwa hari ini harus lebih bak dari bulan kemarin. 
 
Sebenarnya substansi mendasar, bagaimana Bulan Ramadan menjadi tolak ukur kita untuk mengevaluasi diri ke arah yang lebih baik, kualitas keimanan kita meningkat sesuai derajat ketakwaan kita kepada Allah SWT. (era/tit)



Berita Terkait