Berita Metro

Senin, 12 Juni 2017  01:18

Al-Qur’an, Peta Jalan Kehidupan

Al-Qur’an, Peta Jalan Kehidupan
A. Halim Iskandar Ketua DPRD Jatim
Oleh: A. Halim Iskandar
Ketua DPRD Jatim

"Telah datang kepadamu bulan Ramadan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah dengan selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa membawa segala rupa keberkahan, maka alangkah mulia nyatamu yang agung itu." (HR Imam Bukhari).
 
Kini, bulan penuh berkah itu datang lagi. Sudah selayaknya kita menyambutnya dengan penuh sukacita sebagaimana sabda Nabi di atas. 
 
Kita harus mampu mengambil berkah yang terkandung di dalamnya. Dalam bulan Ramadan berlimpah berjuta nikmat, beribu rahmat, bejibun ampunan Allah, pada bulan ini pula untuk pertama kalinya Al-Qur'an diturunkan, agar menjadi petunjuk yang sempurna dan paripurna bagi orang-orang yang bertaqwa.
 
Pertanyaanya, bagaimana seorang muslim memaknai peristiwa penting dalam sejarah Islam ini, yaitu Nuzulul Qur’an; Pertama,Memperingatinya sebagai peristiwa sejarah. Peristiwa penting penurunan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad, merupakan momentum penting untuk kita mendekatkan diri kepada Allah. Peristiwa yang terjadi saat sepertiga malam akhir Ramadan itu, selayaknya kita manfaatkan sebaik mungkin/ untuk meraih hikmah puasa dan Al-Quran.
 
Peringatan Nuzulul Quran yang secara rutin digela rsetiap Ramadan, hendaknya bukan berarti serimonial belaka, akan tetapi dapat dijadikan momentum untuk lebih meningkatkan pembelajaran sejarah, karena dengan mempelajari sejarah, kita akan lebih bisa meneladani Rasulullah, di mana akhlak Nabi SAW adalah al-Qur’an itu sendiri. 
 
Karena itu, kita harus membudayakan membaca dan mempelajari Alquran, karena kita yakini bahwa Alquran merupakan pedoman hidup yang kompleks, dan memuat sejumlah kebutuhan manusia, baik materiil maupun spiritual.
 
Kedua,menjadi peta jalan kehidupan. Sudah semestinya, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman setiap langkah dalam semua aspek kehidupan kita, menjadi pijakan setiap amal kita, sebagai parameter serta barometer segala kehidupan kita. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah, bahwa petunjuk Al-Qur'an lah yang paling 
"terjamin" segala kesempurnaannya, ia mengatur pranata kehidupan seluruh umat manusia.
 
Namun, nyatanya masih banyak dari kita, hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai alternatif terakhir pemecahan masalah, tidak sedikit dari kita, kembali kepada Al-Qur'an setelah mengalami berbagai masalah kehidupan. Al-Qur'an hanya dijadikan pelarian ketika tidak ada lagi "cara pemecahan" lainnya. Ini berarti Al-Qur'an yang asalnya adalah "cahaya kehidupan", yang harus kita letakkan di depan langkah kita, kenyataannya Al-Qur’an hanya menjadi jujukan terakhir mendapat petunjuk.
 
Karena itulah, hendaknya kita tempatkan Al-Qur'an selalu berada di depan kita, memandu seluruh amal kita. Al-Qur'an harus menjadi satu-satunya dan yang utama, peta jalan kehidupan manusia, agar kita mendapatkan keberkahan hidup, serta kebagian dunia dan akhirat. (era/tit)



Berita Terkait