Berita Metro

Rabu, 25 April 2018  19:55

UINSA Tambah Dua Prodi Baru

UINSA Tambah Dua Prodi Baru
Beri Penjelasan: Wakil Rektor I UINSA Syamsul Huda saat memberi penjelasan kepada wartawan tentang pembukaan prodi baru.
SURABAYA (BM) – Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menambah jumlah program studi (prodi) umum. Bila sebelumnya memiliki 17 prodi umum, tahun ini menjadi 19 prodi seiring keluarnya izin dari Kemeterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk prodi sastra Indonesia dan pendidikan IPA.

Wakil Rektor I UINSA Syamsul Huda mengatakan, total prodi di UINSA saat ini menjadi 43. Rinciannya, 19 prodi umum dan 24 prodi keagamaan. Dua prodi yang baru keluar izinnya hanya menerima mahasiswa baru melalui jalur mandiri. “Prodi sastra Indonesia dan pendidikan IPA sudah kami ajukan izinnya tahun 2015 lalu, tapi baru keluar tiga minggu yang lalu,” katanya, Rabu (25/4).

Dengan begitu, lanjut dia, dua prodi tersebut belum bisa diikutkan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri di UINSA buka mulai 14 Mei sampai 11 Juli mendatang.

Syamsul kemudian menjelaskan latar belakang pendirian dua prodi tersebut. Untuk prodi sastra Indonesia dilatari belum mampunya UINSA menyuplai pengajar maupun tenaga-tenaga yang bisa diperbantukan di Atase atau staf diplomat. Padahal, bahasa Indonesia itu sudah dipelajari lebih dari 70 negara di dunia. “Nah, mungkin karena Indonesia ini pasar yang luar biasa sehingga mereka ingin belajar bahasa Indonesia,” terangnya.

Tentu saja, kata Syamsul, mempelajari bahasa Indonesia itu karena memiliki misi. Bisa misi ekonomi, misi budaya, atau mungkin misi pendidikan. Apalagi, Indonesia menjadi bagian yang diharapkan dunia internasional untuk bicara tentang Islam yang berperadaban dan Islam yang moderat. “Bahasa Indonesia menjadi penting, bukan sekadar jadi bahan kajian tetapi juga sebagai diplomasi,” ungkapnya.

Terkait prodi pendidikan IPA, Syamsul menjelaskan, madrasah selama ini belum memunyai semacam pembeda (diversity) antara sains umum dengan sains yang ada di agama. Maka, UINSA menggagas di dalam kurikulum pendidikan IPA itu adalah IPA yang terintegrasi dengan agama dan sains. Sehingga, mereka bisa memahami satu sisi secara sains, tapi sisi lain mereka juga memahami bahwa nilai-nilai nalar Islam itu mengandung nilai-nilai sains. “Dan itu bisa dibuktikan dalam bentuk kajian-kajian maupun dalam bentuk empiris,” tuturnya.

Dia menyebut contoh kasus mengenai kebersihan. Kebersihan ini bukan persoalan taharah, tetapi bagaimana bersih secara IPA dari Biologi, Fisika, maupun kimia. Sehingga orang tahu bahwa najis bukan hanya bagian dari pengertian syariah, tetapi tahu alasan-alasan. “Ini bukan islamisasi, tetapi nalar Islam. Prinsip-prinsip di dalam agama itulah kita pakai di dalam membangun nilai-nilai peradaban dalam bentuk sains,” tandasnya.

Kabag Akademik UINSA Abdullah Rofiq Mas’ud menambahkan, dua prodi baru itu masing-masing akan menerima mahasiswa baru jalur mandiri sebanyak 30 mahasiswa atau satu rombongan belajar. “Untuk sastra Indonesia masuk Fakultas Adab dan Humaniora (Fahum) sementara pendidikan IPA di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK),” pungkasnya. (sdp)




Berita Terkait