Berita Metro

Rabu, 11 April 2018  22:20

Tunjungan Jadi Perhatian Pansus RDTRK

Tunjungan Jadi Perhatian Pansus RDTRK
SURABAYA (BM) – Pembahasan Raperda Rencana Detil Tata Ruang dan Kota (RDTRK), terus bergulir. Saat ini, Pansus RDTRK bersama pemerintah kota (pemkot) sudah masuk dalam pembahasan kesebelas. Sementara waktu pembahasan yang diberikan sudah berakhir. Untuk itu, pansus meminta perpanjangan waktu untuk menyelesaikan pembahasan lebih lanjut.
 
“Jangan sampai ada saling kontradiksi antaraturan satu dengan yang lain, makanya harus detil, lebih baik kami melakukannya beberapa kali dalam waktu yang panjang, bahkan kami kembali meminta waktu perpanjangan 60 hari lagi untuk pembahasan, karena semangatnya melindungi kepentingan semua pihak, ketimbang cepat tetapi bermasalah dibelakang hari,” papar Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Syaifuddin, Rabu (11/4).
 
Syaifuddin mengatakan, saat ini pembahasannya telah masuk dalam materi zona, namun hanya menyangkut soal kawasannya, tidak menyangkut soal detil persil di kawasan tersebut. Khusus untuk kawasan Ampel, pansus akan mengembalikan peradaban seperti jaman dahulu, yaitu pusat perdagangan di Surabaya.
 
“Ada beberapa zona, tapi salah satu adalah soal kawasan di Ampel, bagaimana peradaban, kondisi dan lingkungannya dulu, sehingga ini merupakan bentuk konsistensi Pemkot Surabaya dalam menjaga eksistensi sejarah, makanya kami butuhkan pendapat dari para ahli,” ungkapnya.

Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, secara makro tata kota di Surabaya ini akan mengatur zona (kawasan) secara rinci yang dituangkan dalam RDTRK ini, sehingga semua pihak bisa mengetahui detailnya. Draf Raperda ini juga akan dikonsultasikan kepada pusat, agar berintegritas saat perda sudah disahkan. 
 
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Ery Cahyadi mengatakan, ada pembagian beberapa zona, seperti zona bangunan Cagar Budaya itu meliputi jl Tunjungan,  Jl Darmo dan kawasan Ampel. Zona pergudangan serta zona perdagangan dan industri.
 
“Jadi bagaimana bentuk bangunannya, kawasannya harus seperti apa, itu akan diatur dalam Perda RDTRK ini, seperti untuk kawasan Ampel yang kita masukkan dalam zona cagar budaya, sehingga ke depannya harus ditindaklanjuti dengan rencana tata bangunan dan lingkungan (RTPL),” terangnya.
 
Ery mengatakan, khusus untuk Jalan Tunjungan, rencananya bangunan-bangunan disitu akan kita kembalikan seperti jaman dulu (sebelumnya), oleh karenanya kita akan memanggil para ahlinya untuk dimintai pendapatnya. “Zona cagar budaya itu zona pertampalan (zona tempel), artinya warna apapun di zona itu, bisa saja menjadi zona budaya, yang artinya jika ada rencana renovasi atau pembangunan baru harus mengacu kepada aturan yang menempel tersebut,” pungkasnya. (dji/udi)
 



Berita Terkait