Berita Metro

Kamis, 26 April 2018  23:09

Tiga Film Pendek Karya Siswa Smekdors Lolos FFS

Tiga Film Pendek Karya Siswa Smekdors Lolos FFS
Lolos FFS: Supardi (kanan) bersama Stya Wisnu Pradana (tengah) menunjukkan poster film yang lolos FFS.
SURABAYA (BM) – Film-film pendek karya tiga pelajar SMK Dr. Soetomo Surabaya (Smekdors) mampu menembus ketatnya persaingan di ajang Festival Film Surabaya (FFS) 2018. Dari 309 karya film yang masuk secara nasional, hanya 44 yang berhasil lolos kurasi tahap awal dan tiga (3) di antaranya merupakan film buatan siswa Smekdors. FFS ke-7 ini diselenggarakan selama tiga hari mulai Jumat (27/4) sampai Minggu (29/4).

Tiga karya film siswa Smekdors tersebut, antara lain milik Stya Wisnu Pradana dengan judul film The Box, Aditya Yudha Islamic dengan judul film Duel Viral, dan terakhir karya milik Dimas Khoiril dengan judul Monokrom Ibu. Semuanya merupakan siswa jurusan Multimedia di Smekdors.

Salah satu juri FFS, Enggong Supardi mengatakan, proses kurasi film yang masuk didasarkan pada ide dan teknis perwujudan ide. Dua hal ini menjadi dasar penilaian untuk menyeleksi 309 karya yang masuk menjadi 44 karya. “Untuk level setingkat SMK tidak perlu tinggi-tinggi menilainya,” katanya saat ditemui di Smekdors, Kamis (26/4).

Dia menjelaskan, teknis perwujudan ide bisa bermacam-macam, mulai dari sinematografi, artistik, pengambilan suara, penataan cahaya, dialog, dan lain sebagainya. Meski secara umum masih banyak karya film yang perlu dikoreksi, ada pemakluman tersendiri untuk menentukan 44 karya yang lolos FFS.

Enggong menegaskan, siswa SMK jurusan multimedia memang belum diajari khusus tentang pembuatan film. Kurikulumnya belum tercantum tentang bagaimana menulis skenario yang baik, bagaimana pengambilan gambar yang bagus, dan lain-lain. Film buat siswa SMK masih semacam ekstrakurikuler. “Kami juga melihat ini sebagai dasar penilaian,” terangnya.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Smekdors Supardi mengatakan, sekolahnya mengirim 11 film pendek di ajang FFS 2018. Dari puluhan karya itu, hanya tiga yang berhasil lolos seleksi. “Ada 11 karya yang diikutkan FFS. Memang kelas 12 diwajibkan punya karya dan oleh pembimbing ternyata diikutkan FFS namun hanya tiga saja yang lolos,” katanya.

Kewajiban memiliki karya sendiri itu untuk memotivasi siswa agar memberanikan diri dan mencoba. Sebab, jika tidak ada keberanian, lanjut dia, maka tidak akan mencapai keberhasilan.

Sutradara film The Box, Stya Wisnu Pradana menjelaskan, film pendeknya lolos FFS kategori film fiksi pelajar. The Box bercerita tentang seorang anak yang ingin mengubah seorang pengemis yang masih muda agar lebih berusaha lagi dan tidak mengharapkan belas kasihan orang.“Seorang anak itu memberikan sebuah kotak yang berisi semir sepatu kepada si pengemis dengan tujuan agar dia mau berusaha lagi,” ujarnya.

Setya mengatakan, selama proses penggarapan film berdurasi enam menit itu menghabiskan waktu satu bulan dan dirinya tidak menghadapi masalah berarti. Hanya terdapat kendala pada pencahayaan dan audio. Selain itu sempat terkendala kamera namun bisa diselesaikan dengan meminjam sekolah dan kamera di tempat magangnya.

Direktur FFS, Ashari Cahyono menambahkan, film karya pelajar Smekdors bukan kali ini saja lolos di ajang FFS. Sebelumnya di tahun 2013 dan 2016 juga pernah lolos. “Tapi, tahun ini yang paling banyak lolos dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya. Di FFS ini akan diambil kategori penyutradaraan terbaik, penulisan naskah terbaik, penata suara terbaik, dan insan di balik layar. (sdp)



Berita Terkait