Berita Metro

Jumat, 04 Mei 2018  23:33

Opinium Jadi Jembatan Akademisi-Masyarakat

Opinium Jadi Jembatan Akademisi-Masyarakat
Dukung Opinium: Rektor Unair Prof Moh. Nasih (enam dari kanan) saat menerima inisiator Opinium.
SURABAYA (BM) - Jurnal ilmiah karya dosen atau akademisi di perguruan tinggi selama ini sulit terakses publik. Padahal, berbagai isi jurnal ilmiah itu mengandung informasi yang tak jarang dibutuhkan masyarakat belakangan ini.

Kehadiran aplikasi penguji hoax, Opinium, diharapkan menjadi jembatan teraksesnya karya ilmiah akademisi oleh publik. "Dengan begitu, berbagai informasi-informasi tertentu di dunia maya bisa terbantu proses kurasinya dan klarifikasi melalui jurnal ilmiah," kata inisiator Opinium, M. Hasanudin saat di Universitas Airlangga (Unair), Jumat (4/5).

Dia berharap, teraksesnya jurnal ilmiah ini membantu mengurangi persebaran informasi sampah atau hoax di dunia maya. Selain itu dengan fasilitas fact check yang ada, dapat meningkatkan kemampuan literasi digital pengguna dan konsumen informasi.

Sementara itu, Rektor Unair Prof Mohammad Nasih meminta akademisi Unair bergabung ke Opinium guna ikut membahas terkait isu-isu nasional. Pihaknya kasihan ternyata ada informasi yang tidak benar ditelan mentah-mentah dan menjadi informasi bagi masyarakat.

Nasih menyatakan Unair sangat mengapresiasi dan mendukung aplikasi itu. Dia menilai, saat masyarakat sedang menghadapi persoalan yang sangat besar di mana informasi yang beredar hampir tidak diketahui validitasnya.

"Mas Sabrang (Noe Letto) dan kawan-kawan menyiapkan media yang bisa digunakan untuk melihat informasi nilainya seperti apa dan akurasinya seperti apa. Dalam posisi seperti ini kita patut memberi apresiasi sehingga informasi yang beredar paling tidak akan diketahui dan mereka mengambil keputusan dari informasi itu akan lebih baik keputusan-keputusan yang diambil," ujarnya.

Hadirnya Opinium, kata Nasih, juga sesuai dengan misi Unair. Untuk itu, hasil karya dari para akademisi Unair akan didorong untuk dimasukkan ke Opinium sehingga bisa diketahui banyak orang. Selain itu, Nasih juga mendorong pencari informasi untuk membaca secara komprehensif.

"Ini yang menurut saya menjadi fokus Unair, sehingga patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap aplikasi yang digagas dan diluncurkan oleh Sabrang dan M Hasanudin ini," tuturnya. Dalam Opinium, semua hal yang memerlukan tanggapan, partisipasi dan pendapat dari publik bisa diunggah serta didiskusikan sehingga tidak ada batasan.

Dia menilai, hal itu sesungguhnya adalah demokrasi yang akan dibangun terkait informasi yang ada. Bukan tidak ada pilihan terkait isu apa yang mau dinilai seperti saat ini. "Dari aplikasi ini, semua kita siapkan tikarnya, kita bersihkan, semua orang berhak untuk menggunakan untuk misalnya tahlilan, salat, diskusi. Ini wahana demokrasi bagi kita untuk berdemokrasi secara ilmiah," kata Nasih.

Selain itu, aplikasi Opinium merupakan media untuk mempersatukan berbagai macam ide. Selama ini, lanjut Nasih, ide, gagasan dan iformasi yang ada cenderung memecah belah. "Dengan aplikasi Opinium, masyarakat diajak bertinju di satu ring, dan menjadi penikmat untuk mengetahui mana yang benar," tandasnya.(sdp)



Berita Terkait