Berita Metro

Senin, 26 Februari 2018  22:22

Mahasiswa Untag Buat Tongkat Tuna Netra Sensor Ultrasonik

Mahasiswa Untag Buat Tongkat Tuna Netra Sensor Ultrasonik
SURABAYA (BM) - Jarot Bangun Purnomo, mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, memiliki teman SD yang mengalami low vision (tuna netra). Meski kekurangan, sahabatnya ini sering membantunya dalam belajar. Teman SD ini yang kemudian menginspirasi Jarot untuk membuat tongkat pendeteksi halangan untuk tuna netra dengan sensor ultrasonik menggunakan tenaga surya.

Jarot mengatakan, setelah lulus SD, dirinya tidak bertemu lagi dengan teman yang mengalami low vision tadi. Namun, dari temannya itu, dia menekuni dunia komputer saat masuk SMP dan SMK. Kemudian dilanjut saat masuk pendidikan tinggi. "Dari situ saya berpikir, kira-kira apa yang bisa saya buat untuk penderita low vision atau tuna netra," katanya saat ditemui di kampusnya, Senin (26/2).

Akhirnya, muncul ide pembuatan tongkat yang menggunakan dua sensor ultrasonik. Padahal, tugas akhirnya semula adalah membuat website. Setelah seminar dan menunggu sidang, tugas akhirnya diubah menjadi membuat tongkat tersebut. "Saya membuatnya selama dua bualn," ucap mahasiswa asal Sidoarjo ini.

Bahan pembuatan tongkat itu cukup ekonomis. Dia membeli tongkat bekas, kemudian menggunakan alat getar pada joystick playstation, arduino, receiver, sensor ultrasonik, panel tenaga surya, serta baterai li polymer dari handphone bekas. Total biaya yang dibutuhkan tidak sampai Rp 200 ribu.

Cara kerja sensor ultrasonik itu seperti pada hewan kelelawar. Dengan mamancarkan pancaran gelombang, bisa mendeteksi objek apapun di depannya. "Untuk saat ini sensor masih membaca lurus ke depan dengan jarak 1 meter," ungkapnya. Ke depannya, lanjut dia, akan dikembangkan bisa mendeteksi objek sampai 180 derajat.

Saat digunakan oleh tuna netra, tongkat itu bisa memberitahu kalau ada objek di depannya melalui suara dan getaran. Istimewanya lagi, untuk mengisi daya pada baterai cukup terkena sinar matahari. "Bisa terisi otomatis. Tidak perlu repot untuk mengecas," ujarnya.

Baterai tersebut memiliki daya 1.500 miliampere. Awet digunakan selama empat hari tanpa mengecas. Meski demikian, tongkat tersebut belum tahan terhadap hujan. Bila ingin antiair, cukup dilapisi silikon. "Belum pernah saya ujicoba kepada tuna netra. Saya cari teman SD dulu juga belum ketemu sampai sekarang," tandasnya. (sdp/udi)





Berita Terkait