Berita Metro

Selasa, 09 Januari 2018  23:02

Mahasiswa Ubaya Buat Deodoran dari Ekstrak Pohon Kesambi

Mahasiswa Ubaya Buat Deodoran dari Ekstrak Pohon Kesambi
SURABAYA (BM) – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya, Yudith Pratusi, menginovasikan kulit pohon kesambi, yang merupakan tanaman lokal Nusa Tenggara Timur menjadi deodoran.
 
Yudith  mengatakan, inovasi itu tercipta setelah dia menggali berbagai literatur yang dibaca bahwa Pohon Kesambi memiliki zat antibakteri. “Bakteri itu ada dua, positif dan negatif. Cairan ekstrak dari kulit kayu Kesambi cocok untuk membunuh kedua bakteri itu,” katanya saat ditemui di Laboratorium Farmasi Fisika Ubaya, Selasa (9/1).
 
Dia menjelaskan, dalam beberapa penelitian, cairan ekstrak kulit kayu Kesambi mengandung dua jenis zat, yakni zat Taraxerone dan zat Tricadinenic acid A yang memiliki antimikroba dan antioksidan. Karena manfaat antibakterinya, dirinya berusaha memanfaatkan sebagai deodoran yang mekanismenya digunakan menghambat bakteri di ketiak.
 
“Bau badan disebabkan oleh adanya pertumbuhan bakteri yang terdapat pada aksila (ketiak) yang mendegradasi sekresi dari kelenjar apokrin, Penanganan terhadap bau badan sendiri sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kepercayaan diri manusia.” ungkap perempuan yang sedang mengambil profesi Apoteker ini.
 
Sebelum dijadikan deodoran, diperlukan pembuatan ekstrak atau sari dari kulit kayu Kesambi. Kemudian hasil ekstrak tersebut perlu dilakukan formulasi dan evaluasi stabilitas pH pada deodoran yang mengandung ekstrak kulit kayu Kesambi. Tujuannya untuk mengetahui apakah produk tersebut sudah aman dipakai atau belum, lanjutnya. Yudith melakukan pengembangan pada 6 formula sediaan deodoran dengan ekstrak etanol kulit kayu Kesambi yang kemudian diambil 3 formula terbaik untuk dievaluasi stabilitas pH. 
 
“Bahan-bahan yang digunakan dalam formula tersebut adalah Carbopol 940 sebagai pembuat deodoran dengan menggunakan rentang safety dari BPOM, Gliserin, Etanol sebagai pelarut untuk menghasilkan zat yang diinginkan. Kemudian ada Triethanolamine sebagai netralisir, DMDM Hidantoin, dan ekstrak kulit kayu Kesambi,” jelasnya.
 
Setelah memilih 3 formula terbaik dari 6 formula, ketiga formula tersebut kemudian diuji stabilitas pH. Dari hasil formulasi dan evaluasi stabilitas, diambil 1 formula deodoran yang mengandung ekstrak kulit kayu Kesambi yang mempunyai pH stabil yang disesuaikan dengan pH kulit. Selain itu dipilih kekentalan cairan yang tidak terdapat perubahan warna selama 30 hari penyimpanan dan memiliki kekentalan gel yang pas untuk digunakan.
 
“Formula yang saya buat sudah terbukti menghilangkan bakteri, namun perlu ada penelitian lanjutan jika ingin diproduksi masal terkait dengan jangka waktu deodoran ini membunuh kuman,” katanya. Dia mengaku tidak menemukan hambatan dalam pembuatan deodoran. Hanya saja kesulitannya pada penentuan formula yang tepat, karena membutuhkan berbagai pengujian.
 
Christina Avanti, dosen pembimbing Yudith mengungkapkan, Yudith memang cukup kesulitan mencari literatur dasar dalam penelitian Pohon Kesambi. Sehingga, harapnya, ke depan akan ada penelitian lanjutan yang bisa menjadi kajian literatur peneliti lainnya dalam mengembangkan potensi lokal NTT. “Yudith adalah satu putra daerah, harapan saya masih banyak lagi putra daerah yang dapat mengembangkan potensi daerah," tandasnya. (sdp/udi)
 



Berita Terkait