Berita Metro

Minggu, 29 April 2018  23:24

Gunakan Bahasa Suroboyoan dan Hasil Kolaborasi dengan SMK

Gunakan Bahasa Suroboyoan dan Hasil Kolaborasi dengan SMK
Peluncuran Film: Para pendukung Film Jack meluncurkan film disela acara FFS 2018.
SURABAYA (BM) – Sebuah film layar lebar dengan dialog bahasa Suroboyoan diluncurkan di sela acara Festival Film Suroboyo (FFS), Jumat (27/4). Film berjudul Jack tersebut merupakan hasil kolaborasi SMK Dr. Soetomo (Smekdors) dengan para profesional di bidangnya. Rencananya, film itu tayang di bioskop pada awal Juli mendatang.

Sutradara sekaligus Produser film Jack, M. Ainun Ridho mengatakan, lokasi syuting Jack dilakukan di Surabaya. Tokoh utama diperankan pendatang baru yang asli warga Surabaya. “Kenapa saya lakukan itu? Karena saya asli Surabaya. Kalau disuruh untuk Bandung, misalnya, belum tentu saya mau,” katanya usai peluncuran film Jack di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.

Dia menegaskan, proses pembuatan film dibantu tenaga Smekdors dan peralatan juga 100 persen milik SMK. Kebetulan, SMK itu memiliki jurusan film dan multimedia, jadi tidak gagap. Meski sedikit alami kesulitan dibanding bekerja sama dengan kru profesional dari Jakarta, hal itu dianggap wajar.

“Tetapi motivasi kita sejak awal memang ingin kolaborasi. Selain itu juga, pembiayaan produksi bisa ditekan. Tidak apa-apa saya capek sedikit, tapi ada tujuan mulia juga dengan mentransfer pengalaman, transfer pengetahuan, kebetulan juga di Surabaya,” ungkap Ridho.

Dalam dunia perfilman, lanjut dia, Surabaya sejatinya memiliki potensi besar. Hal itu dapat dilihat dari sisi jumlah gedung bioskop. Gedung bioskop di Surabaya jumlahnya terbanyak nomor 2 setelah Jabodetabek. “Surabaya itu ada 15 gedung, lo. Per gedung bisa 3-6 layar,” terangnya. Dibanding Bandung yang hanya punya 9 gedung, Yogjakarta 4, Makassar 2, Surabaya lebih besar.

Sayangnya, Surabaya tidak masuk lima besar dari sisi potensi film. Kalah jauh dengan Yogjakarta, Bandung, dan Makassar. Salah satu kekurangannya, kata Ridho, belum ada film yang berciri khas Kota Pahlawan. “Itu ada perasaan tidak enak. Padahal potensi pasar Surabaya itu besar. Mungkin karena belum ada film khas Surabaya,” terangnya.

Film Jack, lanjut Ridho, bisa dikatakan film pertama kali yang secara total menggunakan bahasa Suroboyoan dan aktor-artis asli orang Surabaya. Termasuk film layar lebar pertama yang dikerjakan bersama-sama siswa SMK.

Produser Eksekutif film Jack, Juliantono Hadi menambahkan, sebanyak 35 siswa Smekdors terlibat dalam pembuatan film. Rinciannya, 30 siswa jurusan perfilman dan 5 siswa jurusan multimedia. “Syuting film dua minggu lebih. Lokasi yang dipilih untuk syuting ada sisi heritage, seperti Kampung Maospati, Hotel Majapahit, dan lain-lain,” katanya.

Pria yang juga Kepala Smekdors ini menjelaskan, biaya pembuatan film tidak sampai angka miliaran. Biaya dapat ditekan karena tidak menggunakan artis Jakarta dan kru dari Jakarta. “Target minimal bisa bertahan dua minggu tidak turun layar. Atau minimal balik modal dengan 50 ribu jumlah penonton di bioskop,” jelasnya.

Salah satu siswa Smekdors yang menjadi kru adalah Bayu Rizki Hariyono. Siswa kelas XI jurusan multimedia ini bertugas menjadi clapper. “Setiap pengambilan gambar saya selalu ikut. Biasanya dimulai jam 7 pagi sampai jam setengah 4 pagi,” katanya. Total ada 1.146 slate yang diambil. (sdp)



Berita Terkait