Berita Metro

Rabu, 07 Maret 2018  22:10

Gagasan Tahir Sesuai dengan Semangat Unair

Gagasan Tahir Sesuai dengan Semangat Unair
Jelang Pengukuhan: Rektor Unair Prof Nasih (kiri) bersama Dato' Sri Prof Dr. (H.C.) Tahir menunjukkan materi orasi pengukuhan.
SURABAYA (BM) - Universitas Airlangga (Unair) kembali memberikan gelar kehormatan doktor honoris causa. Setelah melalui proses panjang selama dua tahun, pemilik Mayapada Grup, Dato' Sri Prof Dr. (H.C.) Tahir akan dikukuhkan Unair menerima doktor honoris causa bidang ilmu ekonomi dan kebijakan publik, Kamis (8/3).
 
Rektor Unair Prof Moh. Nasih mengatakan, dari sisi akademik, sosok Tahir tidak perlu dipertanyakan. Orang terkaya nomor lima di Indonesia itu sudah menyandang gelar guru besar atau profesor. Bahkan, sudah tiga perguruan tinggi yang memberi gelar doktor honoris causa. "Pemikirannya sudah kami telaah," kata Nasih, Rabu (7/3).
 
Tahir, lanjut Nasih, sudah mengaplikasikan tacit knowledge menjadi explicit knowledge. "Badan Pertimbangan Fakultas (BPF) sudah oke, senat oke, kementerian juga oke. Besok tinggal dikukuhkan," ujar pria asal Gresik ini.
 
Gagasan Tahir di bidang ekonomi diakui Nasih sangat sesuai dengan semangat yang dimiliki Unair. Yakni bidang ekonomi berkeadilan. Sebuah gagasan tentang Indonesia yang adil dan beradab tanpa kesenjangan. “Mulai dari Indonesia barat hingga Indonesia timur kita harapkan akan memiliki kesejahteraan di masa mendatang,” terangnya.
 
Nasih berharap, dengan diberikannya Tahir gelar kehormatan Unair, Tahir dapat ikut membantu penguatan tri dharma perguruan tinggi. Yakni penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat.
 
Sementara itu, Prof Tahir dalam pengukuhan doktor honoris causa di Unair akan berorasi Menjadikan Ekonomi Indonesia Berdaya Saing Global dengan Mengelola Sumber Daya Secara Berkeadilan: Perspektif Resource Theory. Tahir mengaku, dirinya tengah mendapat tantangan dan tugas baru setelah mendapati gelar doktor Unair. Menurut dia, setiap gelar yang diberikan kepadanya ada pengharapan terhadap dirinya untuk menunaikan tanggung jawab. “Setiap gelar atau penghargaan yang kita dapat itu bukan akhir dari keberhasilan. Justru itu awal dari sebuah tanggung jawab,” ujarnya.
 
Tahir menyatakan, selain empat doktor yang telah dia kantongi saat ini. Dia juga telah memiliki gelar setara doktor yang diberikan University of California Berkeley. “Hidup ini sangat ajaib. Anak seorang penyewa becak yang pernah sakit dan hampir tidak bisa keluar rumah sakit menjadi seperti sekarang,” tuturnya.
 
Menyinggung konsep ekonomi yang adil, Tahir menceritakan tentang prinsipnya dalam membelanjakan uang. Menurut dia, banyaknya uang tidak diukur dari berapa banyak yang didapat atau dimiliki seseorang. Tetapi kekayaan seseorang itu diukur dari uang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. “Karena itulah, konsep filantropi yang saya pegang bukanlah sedekah, CSR atau apapun. Tapi filantropi itu komitmen. Tidak harus menunggu untung, hari baik, atau mood untuk membantu,” ungkapnya.
 
Dari gelar kehormatan tersebut, Tahir berharap bisa membantu Unair dalam membangun kerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi di luar negeri. Menurutnya, persaingan antarperguruan tinggi di Indonesia sudah cukup dan sudah waktunya untuk bersaing dengan kampus asing.
 
Selain itu, Tahir menginkan adanya solusi atas problem yang dihadapi profesor di perguruan tinggi saat ini. Menurutnya, masalah yang dihadapi dokter dan profesor di Indonesia nyaris sama. Jika dokter terlalu banyak menangani pasien, dia tidak akan sempat mengupdate ilmunya, tidak membaca buku, tidak menulis jurnal atau paper. Begitu juga dengan profesor yang sedang beruntung dan memiliki jabatan khusus di luar. Sehingga fokusnya terhadap pendidikan menurun.
 
“Universitas di Indonesia jarang membangun kerjasama. Jika diizinkan rektor, saya ingin membangun kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di luar negeri seperti yang sudah kami lakukan di UGM,” pungkas Tahir.(sdp/udi)



Berita Terkait