Berita Metro

Selasa, 24 April 2018  23:06

Era Milenial Menguntungkan Kaum Perempuan

Era Milenial Menguntungkan Kaum Perempuan
Paparan: Prof Emy Susanti saat paparan mengenai Pemikiran Kartini dan Peran Perempuan di Era Milenial.
SURABAYA (BM) – Pokok-pokok pemikiran Raden Ayu (R.Ay.) Kartini yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang memuat tiga hal penting. Pertama adalah upaya Kartini untuk memerangi kebodohan kaum perempuan dengan bersekolah. Kedua, memerangi kemiskinan, dan ketiga memerangi ketidakadilan pada perempuan.

Tiga pokok pemikiran itu bila ditarik ke era milenial masih kontekstual. Hal itu diungkapkan Prof. Emy Susanti dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) dalam Gelar Inovasi Guru Besar bertajuk Peran Wanita di Era Milenial, Selasa (24/4). Selain Prof Emy, Prof Anis Eliyana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) turut menjadi pembicara.

Prof Emy sendiri memaparkan Pemikiran Kartini dan Peran Perempuan di Era Milenial. Menurut dia, realitas era milenial sekarang ini telah banyak kaum perempuan yang terdidik secara formal. Misalnya saja terlihat dari jumlah mahasiswa yang mendaftar ke perguruan tinggi di Indonesia yang didominasi kaum perempuan. “Angkanya pasti di atas 50-60 persen,” katanya. Namun, kalau melihat angka yang lulus, ternyata jumlah perempuan justru menurun.

Apalagi, lanjut Emy, untuk jenjang di atasnya seperti magister atau doktor. Jenjang ini dari awal laki-lakinya sudah banyak, jadi tambah sedikit lagi kaum perempuannya. “Artinya, semakin tinggi jenjang pendidikannya, apalagi kalau melihat jumlah yang lulus, perempuan itu ternyata menurun jumlahnya,” terang dia. Salah satu alasan penurunan ini karena pernikahan.

Pada pokok pemikiran Kartini kedua, era milenial justru menguntungkan kaum perempuan. Emy menyatakan, perempuan bisa melakukan banyak hal kalau mereka mau dan berusaha. Kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat ini membuat perempuan bisa berpartisipasi dibidang apapun. “Saat ini perempuan tidak harus pergi ke ruang publik karena bisa dilakukan di rumah,” ujar perempuan yang juga Ketua Asosiasi Pusat Studi Gender (PSG) Indonesia ini.

Emy menjelaskan, yang masih dalam tanda tanya adalah pokok pemikirian Kartini ketiga. Sampai sekarang ini masih ditemukan ketidakadilan kepada kaum perempuan. Contohnya saja tentang poligami, pernikahan paksa, serta pernikahan di bawah umur. “Ini yang terus kami perjuangkan di PSG,” katanya.

Dia menyatakan, pekerjaan rumah (PR) lain yang masih terus diperjuangkan adalah kaum laki-laki ikut terlibat dalam menyelesaikan kesetaraan gender. “Laki-laki sebaiknya mengikuti perkembangan dan tidak mengungkung perempuan pada sektor-sektor domestik saja,” jelasnya. Dan, menurut dia, semua diskusi-diskusi, pembicaraan tentang perempuan, kesetaraan perempuan, laki-laki harus diajak. “Partisipasi laki-laki dan perempuan harus sama di semua hal,” tandasnya. (sdp)



Berita Terkait