Berita Metro

Rabu, 02 Mei 2018  17:30

Tanpa Dinormalisasi, Plengsengan Candipari Diprediksi Ambrol

Tanpa Dinormalisasi, Plengsengan Candipari Diprediksi Ambrol
SIDOARJO (BM) - Ambrolnya plengsengan Afvoer Kedungan di Desa Cabdipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, ternyata sudah diprediksi sejak jauh sebelum dilakukannya pengerukan.
 
Sejumlah warga Desa Candipari ditemui terpisah mengaku sudah menduga proyek pelengsengan itu sudah pasti bakal ambrol tanpa harus terkena alat berat proyek normalisasi berupa pengerukan.
 
“Kami orang awam, bukan insinyur-insinyur kayak bapak-bapak di PUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang). Tapi kami sudah bisa menduga plengsengan itu sudah pasti bakal ambrol, tinggal menunggu waktu saja,” ujar seorang warga.
 
Menurut warga lain yang keberatan disebut namanya, proyek pembangunan, peningkatan, rehabilitasi dan pemeliharaan saluran (DAK APBD) yang dikerjakan CV Putra Daerah memang terlihat amburadul. Pengerjaan proyek menggunakan dana APBD 2017 dengan anggaran Rp 629.427.000 itu, sudah terlihat rusak dan retak-retak di beberapa bagian.
 
Amburadulnya hasil pekerjaan proyek itu, kata beberapa warga, juga disebabkan waktu pengerjaannya yang terkesan dipaksakan. “Waktu itu, pengerjaananya pas waktu hujan dan volume air sungai juga sedang meningkat. “Tidak heran kalau hasilnya seperti ini,” ujar seorang warga.
 
Hendra, salah seorang aktivis LSM juga membenarkan amburadulnya pengerjaan proyek tersebut. Sebelum ambrol, dia mengaku sudah sempat melihat lokasi dan mengingatkan pihak-pihak terkait agar segera dilakukan perbaikan. “Seperti juga warga, saya juga menduga seperti itu. Suatu saat pasti ambrol,” katanya, Kamis (3/4).
 
Saat melihat lokasi, Hendra mengaku sempat pula melihat adanya pasangan batu yang kurang campuran semen. Di beberapa tempat, juga terlihat pasangan batu di bagian bawah menggantung. Malahan, ada bagian yang juga mulai anjlok karena tidak adanya pondasi memadai.
 
“Kalau memang hasil pekerjaannya sesuai spesifikasi, kena benturan alat berat tidak ambrol seperti itu. Paling-paling cuma retak atau ambrol di satu titik. Ini yang terjadi ambrol sampai bermeter-meter. Menunjukkan kalau pasangan batunya memang kurang campuran semen. Ya wajarlah kalau ambrolnya seperti itu,” paparnya.
 
Kepala Dinas  PUPR Kabupaten Sidoarjo, Siigit Setyawan mengatakan, sudah koordinasi dengan kontraktor pelaksana. “Kami sudah koordinasi dengan kontraktor karena masih masuk masa pemeliharaan untuk melakukan pemeliharaan,” katanya.
 
Pernyataan senada dilontarkan Kabid Pembangunan dan bina Manfaat Dinas PUPR Kabupaten Sidoarjo, Bambang Tjatur Miarso, dan Kabid Operasional dan Pemeliharaan Dinas PUPR, Agus Hidayat. Malahan Bambang terkesan tidak terlalu mempersoalkan ambrolnya plengsengan itu.
 
“Kan masih dalam masa pemeliharaan. Sekarang sudah diperbaiki oleh kontraktornya,” ujanya enteng tanpa sedikitpun ada rasa bersalah pada raut wajahnya seraya berupaya bergegas menghindar dengan alasan terburu-buru karena ada urusan.
 
Kasus ambrolnya ambrolnya plengsengan di Candipari itu, sempat pula mendapat perhatian dari Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polresta Sidoarjo. Kepala Unit (Kanit) Tipikor Satreskrim Polresta Sidoarjo, Iptu Hari S dan anak buahnya, sempat mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan lapangan.
 
Soal kedatangan peugas kepolisian ke lokasi, disebutkan Agus Hidayat hanya sekadar mampir. Sementara Bambang Tjatur Miarso mengatakan tidak ada masalah. “Polisi itu saya kok yang bawa. Kan memang sudah tugasnya polisi untuk melakukan pengusutan yang semacam itu,” katanya.
 
Sementara itu, Direktur CV Putra Daerah, H Kikin, saat kembali dikonfirmasi mengaku sudah pasrah. “Wis aku pasrah. Terserah. Aku gak iso mikir (sudah, saya pasrah. Terserah. Saya tidak bisa mikir),” sahutnya melalui pesan yang dikirimnya lewat WhatsApp.
 
Sebelumnya, H Kikin yang saat dihubungi mengaku sedang berada di Malang lantaran harus menunggui mertuanya yang sedang sakit, terkesan menyalahkan pihak yang melakukan pengerukan untuk normalisasi saluran.
 
Disebutkan H Kikin kala itu, proyek plengsengan sudah selesai dikerjakan dengan benar dan sesuai spesisifikasi pada akhir 2017. “Saat penyerahan proyek tak masalah. Tetapi kemudian Dinas PUPR melakukan pengerukan sungai lalu ambrol,” kilahnya waktu itu.
 
Secara terpisah, M. Sokran Haris dari LSM Gapura Jatim  menyoroti menyangkut perencanaan oleh dinas teknis, ULP dan bagian terkait lainnya. Menurut dia, plengsengan itu pasti tidak mampu berdiri bila tanah penahannya tidak ada.
 
“Dalam kasus ini, harus dilihat dulu apakah proyek itu ada fondasinya. Fondasinya harus besi. Selain itu, mestinya normalisasi juga dikerjakan dulu, setelah itu baru mengerjakan pembangunan plengsengan. Bukan malah sebaliknya,” ujarnya.
 
Menanggapi kedatangan petugas kepolisian ke lokasi untuk melakukan pengecekan, M. Sokran Haris dan Hendra mengaku sangat mengapresiasi. Namun begitu, tidak cukup sekadar melakukan pengecekan lalu ikut-ikutan mengatakan tidak ada masalah karena masih dalam masa pemeliharaan.
 
“Mestinya, juga harus dilihat secara detail kualitas pekerjaannya. Apakah tidak ada penyimpangan dan sudah sesuai spesifikasi. Kalau memang ada dugaan penyimpangan dan tidak sesuai spesifikasi, ya harus dilakukan pengusutan lebih lanjut,” cetus keduanya. (omu/udi) 



Berita Terkait