Berita Metro

Rabu, 03 Januari 2018  20:04

Yenny Wahid Tolak Pinangan Prabowo

Yenny Wahid Tolak Pinangan Prabowo
Yenny Wahid usai bertemu Ketua Umum Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/1/2018).

JAKARTA (BM) — Nama Putri kedua presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid menjadi pembicaraan hangat terkait Pilgub Jatim. Yenny disebut-sebut bakal dipinang partai poros Gerindra-PAN dan PKS, diharapkan menjadi penantang kuat bagi Gus Ipul dan Khofifah yang saat ini telah menyatakan maju di Pilgub Jatim. Namun, kabar terbaru, Yenny telah menyatakan menolak pinangan itu.

Pemilik nama lengkap Zannuba Arrifah Chafsoh Rahman Wahid itu mengaku ditawari Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk maju dalam Pilkada Jawa Timur.

"Tawaran tersebut saya pertimbangkan dengan matang, tetapi kami keluarga Gus Dur meyakini punya tugas sejarah untuk menjaga bangsa ini dan memastikan keluarga NU (Nahdlatul Ulama) tidak pecah," kata Yenny di rumah Prabowo di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/1/2018).

Ia menambahkan, sebagai anggota keluarga Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dirinya diminta untuk tidak masuk dalam kontestasi yang sedang berlangsung.

Yenny pun berterima kasih kepada Prabowo karena telah menawarinya untuk maju di Pilkada Jawa Timur.

Ia mengaku sangat menghormati mantan Komandan Jenderal Kopassus itu meski menolak tawaran Prabowo.

Menurut dia, Prabowo merupakan sosok dengan visi yang jauh ke depan. "Sejak saya kenal beliau (Prabowo), visinya sangat jauh ke depan, beliau punya gagasan besar untuk Indonesia," tutur Yenny.

Sementara itu, Prabowo menghormati sepenuhnya keputusan Yenny itu. "Kami hormati keputusan keluarga Gus Dur, NU, dan kami yakin beliau akan terus berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tutur Prabowo dalam kesempatan yang sama.

 

Gus Ipul- Anas Istikharah

Sementara itu, pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul)- Abdullah Azwar Anas segera mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jawa Timur setelah para kiai pendukungnya beristikharah.

"Kami masih menunggu hasil istikharah para kiai agar mendapat barokah dan diridhoi Allah SWT," ujar Ketua Tim Pemenangan Gus Ipul-Mas Anas, Hikmah Bafaqih ketika dikonfirmasi di Surabaya, Rabu (3/1).

Menurut dia, petunjuk dari Allah SWT sangat dibutuhkan agar langkah yang dilakukan ke depan tidak keliru sehingga cita-cita mampu terwujud sesuai harapan.

"Terlebih Gus Ipul-Mas Anas ini juga sesuai arahan kiai-kiai sepuh di Jatim, termasuk hasil istikharah ketika merestui kandidat," kata Ketua Pengurus Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama tersebut.

Selain itu, jadwal pendaftaran pasangan bakal calon yang diusung PKB-PDI Perjuangan tersebut juga berdasarkan kelengkapan dokumen sehingga kekurangan berkas dapat diminimalisasi.

Tak itu saja, pihaknya juga menyesuaikan jadwal pasangan kandidat sendiri, apalagi keduanya masih menjabat di wilayahnya masing-masing, yakni Gus Ipul sebagai Wakil Gubernur Jatim dan Anas sebagai Bupati Banyuwangi.

"Hari apapun semua baik, tapi kami memilih yang paling baik, yaitu sesuai istikharah para kiai," ucapnya.

Hal senada disampaikan bacagub Jatim Gus Ipul yang menyerahkan sepenuhnya kepada tim, termasuk teknis pendaftaran yang akan dilakukan.

"Sampai sekarang belum ada kepastian hari H kami mendaftar. Namun, semuanya sudah disiapkan dan tinggal tunggu saja," katanya.

Khofifah Mantap

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa dirinya sudah cukup bekal untuk menurunkan ketimpangan dan kemiskinan yang ada di provinsi Jawa Timur. Karenanya, ia mantap maju bertarung di Pilkada Jatim 2018 berpasangan dengan Emil Elistianto Dardak.

"Saya merasa tiga tahun di Kemensos sudah cukup bekal untuk bisa mencoba bersinergi (dengan) seluruh elemen secara terukur, bagaimana menurunkan gini ratio dan kemiskinan di Jatim," ucap Khofifah di kantor DPP Partai NasDem, Gondangdia, Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Apalagi, menurut Khofifah, potensi pertumbuhan ekonomi Jatim sudah di atas 2 persen rata-rata nasional dan produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim nomor 2 di Indonesia setelah DKI Jakarta.

"Kontribusi nasional sudah di atas 15 persen. Kemiskinannya juga di atas nasional. Jadi ini bagian penting untuk memberi jawaban bahwa pertumbungan yang di atas rata-rata nasional itu harus beriringan dengan penurunan kemiskinan dan gini ratio," kata dia.

Bersama Emil, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdhatul Ulama (NU) itu optimistis bisa berbuat banyak di tanah kelahirannya tersebut.

"Bersama dengan mas Emil yang punya basis keilmuan pengembangan wilayah, saya rasa kita bisa lakukan pemetaan. Untuk Jatim selatan harus banyak didorong agar lebih produktif," kata dia.

"Harus ada pemerataan untuk seluruh lini di Jatim. Harus dibangun dengan pendekatan yang memeratakan kesejahteraan masyarakat Jatim," tambah Khofifah. (mer/kom/det/tit)




Berita Terkait