Berita Metro

Sabtu, 15 April 2018  19:30

Voxpol Centre: Prabowo Nyapres, Geng Jokowi Senang

Voxpol Centre: Prabowo Nyapres, Geng Jokowi Senang
Jokowi dan Prabowo di Hambalang

JAKARTA (BM) – Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Gerindra memutuskan untuk mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Namun ada yang aneh dan menggelitik nalar politik terhadap fenomena politik ini.

Pasalnya, pendukung, relawan dan partai-partai pendukung Presiden Joko Widodo seolah bersorak sorai bergembira mengetahui lawan Jokowi adalah Prabowo di pilpres tahun depan. Ada apa?

“Pertanyaannya sederhana siapa yang senang ketika Prabowo menerima mandat dari kader Gerindra sebagai capres. Kita lihat saja siapa yang riang gembira dan bertepuk tangan. Ternyata yang senang adalah ‘geng’ Jokowi bukan koalisinya Prabowo,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago dalam rilisnya, Sabtu (14/4).

Pangi menilai ada upaya dari kubu Jokowi agar Pilpres dimenangkan secara mudah, yakni dengan mengajak Prabowo berlaga kembali. Nampaknya skenario ‘geng’ Jokowi akan berhasil.

Salah satu indikasinya adalah langkah Luhut Binsar Pandjaitan yang kabarnya meminta Prabowo maju sebagai capres. Kalau Prabowo maju, maka mungkin ada deal lain atau bonus yang diperoleh Prabowo.

Seharusnya, Prabowo harus belajar banyak dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang selalu kalah saat maju sebagai capres. Kemudian Megawati lebih memilih menahan diri dan merelakan PDIP untuk mengusung Jokowi sebagai presiden di Pilpres 2014.

Menurutnya hal ini karena masyarakat juga sudah jenuh terhadap Prabowo dan elektabilitas Prabowo sudah klimaks jenuh. Ibarat film, Prabowo adalah film lama, sudah usang dan tidak menarik lagi ditonton.

“Padahal masyarakat ingin pertarungan aktor baru sehingga film menjadi menarik," tegasnya.

Ketakutan ‘geng’ Jokowi justru apabila Gatot maju dan Prabowo menjadi king makernya. Karena saat ini adalah momentum emas untuk Gatot dengan pertumbuhan elaktabilitasnya yang masih terus menanjak.

“Jika dibandingkan dengan Prabowo yang digadang-gadang akan maju dalam pilpres 2019 nanti, nama Gatot bisa dikatakan bisa menjadi penantang tangguh Jokowi,” jelasnya.

Mengenai adanya dugaan jika Prabowo tidak maju maka akan menenggelamkan Gerindra, hal ini perlu diuji kembali. Hal ini seperti teori lokomotif effect dalam upaya menyelamatkan Gerindra.

Akan tetapi, jalan tengahnya bisa saja dengan mengkaderkan atau menggerindrakan Gatot dan Anies Baswedan sebagai capres atau cawapres justru kemungkinan bisa menyelamatkan elektabilitas Gerindra menjadi lebih besar.

“Karena ketika Anies ditarik jadi capres atau cawapres, ada keuntungan lain yang diperoleh Prabowo dan Gerindra yaitu Sandiaga sebagai kader Gerindra akan naik menjadi Gubernur DKI,” paparnya.

Karena Prabowo pernah berhasil meracik pasangan Joko Widodo-Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama dan Anies-Sandi yang kemudian menjadi pemenang di Pilkada DKI. Maka itu, Prabowo sebenarnya lebih piawai atau ahli dalam memilih calon pemimpin dan mengantarkannya pada kemenangan ketimbang dirinya maju sebagai kontestan di pilpres.

“Sudah saatnya Prabowo realistis, momentum beliau yang sudah lewat dan ayo kembali menghitung serta mengkalkulasi secara matematika politik sehingga tidak salah hitung. Prabowo bisa memberikan kejutan untuk meruntuhkan skenario ‘geng’ Jokowi,” ungkapnya.

 

Prabowo Tolak Cawapres Jokowi

Sementara itu, Presiden PKS Sohibul Iman menyebut Luhut Binsar Pandjaitan sebagai utusan Joko Widodo (Jokowi) untuk melobi Prabowo Subianto. Lobi itu agar Ketua Umum Partai Gerindra itu sudi berpasangan dengan Jokowi tahun depan dalam Pemilihan Presiden-Wakil Presiden.

Namun, Sohibul menyebut Prabowo selalu menolak. Ada 2 jawaban Prabowo yang diingat betul oleh Sohibul setiap kali bertemu Luhut.

"Beliau (Prabowo) sampaikan kepada saya, beliau menjawab 'Itu tidak mungkin, tidak mungkin'," kata Sohibul di sela acara senam dan jalan sehat dalam rangka Milad PKS yang ke-20 di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (15/4/2018).

Sohibul mengaku selalu diceritakan Prabowo tentang pertemuannya dengan Luhut. Dalam setiap pertemuan itu, menurut Sohibul, Prabowo selalu menolak.

"Ada juga jawaban beliau saya kira sangat mencerminkan firm bahwa beliau tidak mau, adalah ketika diminta lagi, dan Pak Luhut katanya mengatakan, 'Wo, udah kalau kamu jadi cawapresnya Pak Jokowi, ini nanti semua bereslah gampang. Capres cawapres ini dengan mudah bisa direalisasikan. Presidennya Jokowi dan Wapresnya kamu', katanya gitu," kata Sohibul.

"Tapi apa jawaban Pak Prabowo? 'Bang abang jangan underestimate bahwa kalau Jokowi dengan Prabowo bersatu, itu belum tentu belum tentu ada yang bisa mengalahkan. Nanti pasti ada calon yang bisa mengalahkan dan kalau Jokowi-Prabowo kalah oleh calon yang tidak diperhitungkan atau underdog, itu lebih memalukan. Seperti di DKI'. Itu jawaban beliau 2 kali. Karena itu saya yakin Pak Prabowo tidak mungkin mau dibujuk," sambung Sohibul panjang lebar.

"Itu saya sudah dengar lama, bahwa Pak Prabowo diminta jadi cawapresnya Pak Jokowi, itu sudah lama sekali," ucap Sohibul di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (15/4/2018).

Menurut Sohibul, isu itu sudah didengarnya sekitar setengah tahun lalu. Dari cerita Prabowo padanya, Sohibul menyebut Luhut B Pandjaitan sebagai utusan Jokowi yang menawari Prabowo untuk menjadi cawapres.

"Beberapa bulan lalu, mungkin ada setengah tahun lalu. Tetapi Pak Prabowo sudah menegaskan di hadapan utusan dari Pak Jokowi, dalam hal ini yang selalu disebut adalah Pak Luhut yang selalu meminta itu. Beliau sampaikan kepada saya, beliau menjawab 'Itu tidak mungkin, tidak mungkin'," kata Sohibul.

"Bahkan dengan bahasa candaan, Pak Prabowo bilang 'Bang, apa abang nggak kasihan sama saya', katanya, 'Saya sudah berjuang seperti ini masak ujung-ujungnya cuma jadi calon wakil presidennya Pak Jokowi', beliau sampaikan begitu. Itu satu jawaban yang saya ingat," imbuh Sohibul panjang lebar.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis tentang adanya utusan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mendatangi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Utusan itu sebelumnya disebut Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) menanyakan tentang kepastian Prabowo sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk Jokowi.

"Nggak benar alias fiktif. N sdh jd FAKTA bhw @prabowo capres @Gerindra," kata Fadli dalam akun Twitter resminya seperti dikutip, Minggu (15/4/2018).

Kemudian Fadli juga me-mention akun Twitter Rommy. Dia meminta Rommy untuk mengurusi partai politiknya saja.

"@MRomahurmuziy urus partai n capresnya sendiri sj jgn sok tau," imbuh Fadli.

Sebelumnya, Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) mengungkap adanya utusan Ketum Gerindra Prabowo Subianto yang mendatangi Presiden Joko Widodo. Utusan itu menanyakan soal kepastian apakah Prabowo akan dipilih sebagai Cawapres Jokowi di Pilpres 2019.

"Utusan Prabowo. Saya nggak bisa sebut. Intinya orang itu diutus untuk menanyakan kemungkinan Prabowo digandeng oleh pak Jokowi," ungkap Rommy saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (14/4/2018) malam.

Rommy hanya menyebut, utusan itu merupakan tokoh yang langsung dikirim oleh Prabowo, bukan lewat Partai Gerindra. Namun dia tak bersedia menyebut siapa nama utusan itu.

"(Pertemuan) 2 pekan lalu. Saya tidak bisa menjawab di mana," sebutnya.

Apa yang ditanyakan utusan Prabowo ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Jokowi dan Prabowo pada November 2017 lalu. Dalam kesempatan itu memang dibahas kemungkinan Prabowo menjadi cawapres bagi Jokowi di Pilpres 2019. (rep/det/tit)




Berita Terkait