Berita Metro

Sabtu, 18 Maret 2018  17:00

PPP Tak Ngotot Ajukan Cawapres

PPP Tak Ngotot Ajukan Cawapres
Arsul Sani

Jakarta (BM) - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengaku tidak ngotot untuk memajukan cawapres dari partainya. Sekjen PPP Arsul Sani menuturkan partainya tidak akan memaksakan diri untuk hal nama cawapres. Pasalnya, perolehan suara PPP pada Pemilu 2014 hanya sebesar 6,57%.

"PPP itu dalam pemilu itu kan 6,57%. Masa dengan 6,57% itu ngotot (memajukan cawapres). PDIP yang 19% saja belum ngotot atau nggak ngotot setidaknya pada ini. Kami kan juga harus tahu diri berapa banyak sih sehingga kita harus ngotot," kata Arsul di Hotel Sari Pan Pasific, Sarinah, Jakarta Pusat, Minggu (18/3/2018).

Seperti diketahui, PPP saat ini mendukung Jokowi sebagai Capres pada Pilpres 2019 mendatang. Meski begitu, Arsul menuturkan partainya bersama partai mengusung Jokowi lainnya belum bertemu untuk melakukan pembahasan terkait sosok cawapres pendamping Jokowi.

"Kita belum kumpul baik dengan sesama partai yang sudah mendeclare Pak Jokowi maupun kami juga belum mendengar Pak Jokowi sendiri inginnya siapa. Pak Jokowi juga bahkan belum menyampaikan, baru meminta kepada semua partai koalisi itu memberikan masukan," tuturnya.

Masukan yang dimaksud, dilanjutkan oleh Arsul, adalah masukan terkait kriteria cawapres Jokowi. Masukan tersebut didapat melalui pembahasan bersama berbagai lapisan masyarakat yang diteruskan kepada partai pengusung Jokowi.

Bukan masukan orang tapi masukan kriteria. Masukan kriteria dibentuk tentu dari pendapat-pendapat, kemudian juga sisi-sisi pandang yang disampaikan oleh berbagai elemen masyarakat yang kemudian masuk ke masing-masing partai koalisi," tutupnya.

Sebelumnya, Ketum PPP M Romahurmuziy menyebut calon wapres pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019 harus mampu membantu mengerjakan tugas-tugas presiden. Dia menyebut ada lima syarat cawapres pendamping Jokowi.

"Kami harus fokus pada apa yang dibutuhkan (Jokowi). Wakil presiden itu membantu presiden. Karena itu, PPP fokus pada apa-apa yang dibutuhkan presiden ke depan. Saya menyebutnya lima syarat, kebutuhan beliau ini harus kita ikuti," ujar Romahurmuziy seusai mengikuti 'Bedah Pemikiran KH Hasyim Asy'ari' di PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (17/3/2018).

Sosok cawapres yang ideal, menurutnya, harus mampu menjaga nasionalisme dan agama, menghadapi generasi milenial, serta intelektual.

"Keempat, harus ada kontribusi elektoral. Kelima, kebutuhan meredam ujaran kebencian yang bermotif SARA, yang sampai hari ini masih dialamatkan oleh lawan-lawan politik Pak Jokowi," ujarnya.

Bila ada tokoh yang memenuhi kelima syarat tersebut, menurut Romahurmuziy, pilihan tetap berada di tangan Jokowi.

"Yang paling penting, siapa yang duduk adalah siapa yang hatinya diterima oleh Presiden. Karena menjamin kekompakan dwitunggal dalam mengendalikan bangsa ini," terangnya.

Dia juga mengaku siap bila dipercaya menjadi pendamping Jokowi pada pilpres.

"Setiap ketua umum partai politik yang diberi amanah harus siap. Karena ini pasangan calon, kesiapan itu harus dihubungkan dengan penerimaan calon presidennya, itu yang lebih penting," ujarnya. (det/tit)




Berita Terkait