Berita Metro

Rabu, 14 Maret 2018  17:21

PKS: Jokowi Bisa Dikalahkan

PKS: Jokowi Bisa Dikalahkan
Hidayat Nurwahid

Jakarta (BM) - PKS merasa yakin, bakal memunculkan lawan tangguh bagi petahana Jokowi Widodo pada helatan Pilpres 2019. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid menyebut partainya akan memperjuangkan calon pemimpin yang lebih baik daripada Jokowi.

"Kami ingin presiden yang terbaik. Ingin menghadirkan yang lebih baik dari Jokowi. Kami punya kesempatan dan akan perjuangkan kehadiran presiden yang lebih baik demi Indonesia yang lebih baik," kata Hidayat di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Menurutnya, kinerja Jokowi sebagai presiden pada periode 2014-2019 tidak menggembirakan. Hidayat menyebutkan sejumlah 'cacat' Jokowi, di antaranya soal utang negara, lapangan pekerjaan, dan struktur kabinet yang tak ramping.

"Pak Jokowi ada baiknya, tapi tentu kami ingin mempertimbangkan yang lebih baik. Karena melihat beberapa hal yang dijanjikan beliau tidak terlaksana," ujar Wakil Ketua MPR itu.

"Melihat ini, menghadirkan yang lebih baik adalah salah satu yang bisa jadi momentum sejarah dan akan kami lakukan," sambungnya.

Sementara sinyal dukungan PKS terhadap Jokowi memudar, PKS sejak awal seolah menyatakan siap mengusung Prabowo Subianto bersama Gerindra. Lantas apakah Prabowo adalah sosok yang dianggap lebih baik dari Jokowi?

"Prabowo sendiri belum sampaikan. Kami akan menunggu komunikasi dengan semua partai untuk kami sepakati bersama," sebut Hidayat.

Hal senada sebelumnya disampaikan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera. Ia mengatakan PKS siap menghadirkan lawan bagi Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019.

Potensi untuk mengalahkan Jokowi juga diungkapkan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera. Menurutnya,  Partai Keadilan Sejahtera punya target besar mengalahkan Jokowi pada Pilpres 2019.  "Secara umum kan elektabilitasnya 40 persenan ya, incumbent 40 persen, sudah tinggal setahun setengah lagi, ya masih jauh dari aman," kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera kepada wartawan, Rabu (14/3/2018).

Karena itu, mengalahkan Jokowi bukan hal mustahil. Pengalaman di sejumlah pemilu juga calon yang menang di semua survei tetap bisa dikalahkan.

"Semua yang belum maju bisa dikalahkan. Kan ketetapannya sesudah pemilu. Hillary saja di semua survei menang, tapi bisa dikalahkan sama Donald Trump. Waktu 2008 saja, Kang Aher itu siapa, bisa menang Pilkada Jabar dengan izin Allah dan dengan dukungan ulama dan umat," kata Mardani.

Lantas bagaimana cara PKS mengalahkan Jokowi?

"Koalisi dengan Gerindra sudah cukup untuk mengusung capres. Kan sudah 113 kursi, melebihi 20 persen. Monggo Gerindra mengajukan siapa nama yang akan diusung, PKS juga mengajukan kan kita punya 9 capres. Jadi kita bahas bersama," kata Mardani.

"Saya kira masih terbuka juga PAN dan PKB gabung, masing-masing nanti ajukan nama juga. Setahu saya komunikasi berjalan, beberapa kali bertemu," ujar Mardani memaparkan bangunan koalisi yang tengah disiapkan.

Jika Gerindra mengajukan nama Prabowo, apakah PKS yakin bisa menang di duel kedua kali lawan Jokowi? "Ya kita harus yakin, namanya berjuang. Kalau Pak Prabowo diajukan Gerindra, ya kita bersama-sama menangkan," pungkasnya.

 

Poros Baru

Ketua MPR Zulkifli Hasan mengakui telah bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, alis JK. Dalam pertemuan tersebut, sempat dibahas kondisi politik terkini, termasuk adanya wacana poros baru jelang Pemilu 2019 mendatang.

"Ya, Pak JK kan negarawan, ya tentu sangat menginginkan agar Pemilu berkualitas. Diskusilah. Paling tidak, saya menyampaikan pikiran agar tidak ada koalisi itu seperti dua blok. Ya, pemerintah atau antipemerintah, kan bahaya itu," kata Zulkifli di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu 14 Maret 2018.

Ketua Umum PAN ini mengatakan, pembicara dengan JK utamanya adalah soal topik kepentingan rakyat Indonesia dalam Pemilu 2019, dan untuk menghindari gesekan yang tak perlu pada tahun politik.

"Kami bicara koalisi nasional, bicara kepentingan rakyat sejahtera, bicara agar umat bahagia, negara maju kira kira begitu. Jadi, kami tukar pikiran menyampaikan pikiran kita dan juga Pemilu atau Pilpres, Pileg yang berkualitas," ungkapnya.

Mantan menteri Kehutanan ini menjelaskan, yang dimaksud dengan Pemilu berkualitas adalah tidak ada gesekan antarkelompok, sehingga hasil Pemilu bisa berjalan demokratis, jujur, dan adil.

"Ya, Pemilu yang berkualitas jangan sampai ada blok kayak Pilgub gitu ya. Seperti musuh gitu ya antipemerintah, propemerintah, jangan begitulah. Jadi, ini kan kontestasi biasa bagaimana mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka rakyat sejahtera, umatnya enggak gaduh, senang, dan Indonesia bisa berjaya," papar besan Amien Rais ini.

Mengenai kemungkinan terbentuknya poros ketiga, menurut Zulkifli, hal tersebut tidak mudah. "Itu bagaimana poros 1, 2, poros 3. Saya kira, tadi saya mengatakan perlu keajaiban," kata dia.

Menurutnya, yang terpenting adalah menghindari kegaduhan dan gesekan tahun politik di masyarakat.

Sementara itu, Politisi Partai Demokrat, Azam Azman Natawijana mengaku beberapa bulan kedepan DPP Partai Demokrat akan mengumumkan arah koalisi dalam Pilpres 2019.

Azman menjelaskan saat koalisi atau poros tengah untuk mengusung Capres dan Cawapres sudah digodok oleh Majelis Tinggi Partai. Namun dirinya tak mau banyak komentar ketika ditanyai mengenai arah poros tengah yang akan digagas Demokrat. tersebut.

"Ya kira-kira empat atau lima bulan lagi, Majelis Tinggi kami akan bersuara, dan untuk arah poros sendiri ini masih rahasia, rahasia majelis tinggi. Tunggu Keputusan SBY," ujarnya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3).

Sebelumnya rencana membentuk poros tengah ini juga dilontarkan Politisi Partai Demokrat, Andi Nurpati Baharuddin.

Menurutnya dalam waktu dekat ini Partai Demokrat, PKB dan PAN bakal mengadakan pertemuan. Tidak menutup kemungkinan dari pertemuan tersebut akan ada keputusan atau kesepakatan bersama untuk mengunsung Capres dan Cawapres alternatif dalam Pilpres 2019.

"Jadi masyarakat punya pilihan-pilihan, punya pilihan yang tidak kemarin-kemarin," ujarnya dalam diskusi 'Ngopi Ngerumpi' dengan tema Menakar Potensi Terbentuknya Koalisi Poros Ketiga Dalam Pilpres 2019 di Jakarta Pusat, Selasa, (13/3).

 

Sulit Kalahkan Jokowi

Wacana pembentukan poros baru dengan menggabungkan kekuatan Demokrat, PKB, dan PAN tetap akan sulit mengalahkan dominasi Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.

Sebab, capres yang diusung PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, dan PPP itu memiliki elektabilitas yang tinggi dan cenderung naik.

 “Sulit kalau untuk mengalahkan Jokowi," ujar pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi, Rabu, (14/3).

Meski demikian, Ari menilai bahwa poros baru ini tetap akan diperhitungkan. Ia bahkan menilai poros ini berpotensi mengungguli perolehan suara poros Prabowo Subianto.

“Bisa jadi poros baru akan mengungguli Prabowo karena faktor kejenuhan dari pemilih," tukasnya.

Sebanyak 5 partai di parlemen telah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi di Pilpres 2019. Bahkan dukungan untuk Jokowi juga diberikan dari 3 partai non parlemen, yakni PSI, Perindo, dan PKPI.

Sementara itu, Gerindra tinggal menunggu waktu untuk mendeklarasikan Ketua Umum Prabowo Subianto sebagai capres. Dalam mengusung Prabowo, Gerindra telah melirik mitra koalisinya di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, PKS. 

Di antara partai di parlemen, hanya Demokrat, PKB dan PAN yang belum menentukan pilihan. Demokrat sejauh ini digadang-gadang tengah menyiapkan Ketua Komando Tugas Bersama (Korgasma) Pemenangan Pemilu Nasional Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon yang akan diusung di pilpres.

Sementara PKB telah jauh hari mendeklarasikan Ketua Umum Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden (cawapres) di 2019, meski belum menentukan kepada siapa Cak Imin akan disandingkan.

Sedangkan PAN, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bandung tahun lalu sudah menyatakan dukungan kepada Ketua Umum Zulkifli Hasan untuk maju di pilpres.

Demokrat, PAN, dan PKB bisa saja bersatu di pilpres mengusung calon di luar Jokowi dan Prabowo. Penggabungan ketiga partai ini cukup untuk mencalonkan pasangan calon di pilpres. (viv/det/rmo/tit)




Berita Terkait