Berita Metro

Sabtu, 25 Maret 2018  18:31

PDIP: Wapres 2019 adalah Capres di 2024

PDIP: Wapres 2019 adalah Capres di 2024
Eriko Sotarduga

JAKARTA (BM) – Sejumlah politisi dan pengamat politik menyatakan, calon Wapres Jokowi di Pilpres 2019 memiliki posisi yang strategis. Karenanya, mencari figur cawapres Jokowi tak kalah pentingnya dibanding sosok capres penantang Jokowi.

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Eriko Sotarduga mengungkapkan alasan mengapa posisi calon wakil presiden (cawapres) menjadi sangat penting untuk dibahas. Menurutnya, siapa yang menjadi wapres di 2019 nanti, kemungkinan besar menjadi calon presiden (capres) di 2024 mendatang.

"Kemungkinan untuk menjadi capres 2024 paling besar itu adalah wapres di 2019. Dalam hal ini, partai-partai juga berkepentingan supaya  starting point semuanya sama," tutur Eriko di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (25/3).

Selain itu, Eriko juga menuturkan pandangannya terhadap munculnya poros ketiga dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang. Menurutnya, ada tiga faktor yang membuat munculnya poros ketiga ini kecil untuk terealisasi.

Pertama, kata dia, karena pemilihan legislatif (pileg) dan pilpres dilakukan secara serentak. Banyaknya kertas suara yang akan dibawa para pemilih ke dalam bilik pencoblosan membuat mereka tak memiliki banyak pilihan.

"Bayangkan, itu nanti kertas suara ada lima, DPRD tingkat dua, tingkat satu, DPR RI, DPD, dan presiden," katanya.

Faktor kedua,  adalah elektabilitas calon. Menurut Eriko, partai pasti memperhitungkan kansnya memenangkan pemilu dalam membentuk poros dan mengusung calonnya berdasarkan elektabilitas. Tidak ada satu partai yang ingin mengajukan calon lalu kalah.

"Kita tidak usah munafik. Kita tidak mungkin mencalonkan untuk kalah. Biayanya tidak sedikit. Pengorbanan dan untuk menyosialisasikan, kan perlu dihitung betul," jelas dia.

Faktor berikutnya, adalah tak ada satu partai pun yang bisa mencalonkan capres sendirian. Tidak ada partai yang mencapai ambang batas pengajuan calon presiden sebesar 20 persen.

"Bagaimana mau mencalonkan poros ketiga kalau tidak ada koalisi yang sepadan. Jadi, tiga faktor ini penting sekali. Ini bisa dilihat kapan? Tiga bulan ke depan ditentukan oleh dinamika proses intensifitas hubungan komunikasi dari partai-partai ini," terangnya.

 

Pemetaan

Pengamat politik dari Indikator Dodi Ambardi menilai, calon presiden pejawat Joko Widodo mulai melakukan pemetaan terhadap calon yang akan mendampinginya di Pilpres 2019. Jika terlambat memutuskan calon yang sesuai dengan kriteria maka Jokowi bisa tertinggal dari calon lainnya.

Ia menanggapi sejumlah pertemuan Jokowi dengan pimpinan parpol, dalam sejumlah momentum. Seperti yang dilakukan Jokowi, yang berolah raga bareng dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Pertemuan Jokowi dan Airlangga Hartarto adalah langkah yang lumrah dilakukan. Sebab waktu untuk mencari calon pendamping Jokowi dalam pemilihan presiden semakin sempit. Lobi-lobi politik, menurut Dodi,  bisa dilakukan di meja makan, di lapangan golf, atau kegiatan lain selain jam kerja.

Menurut Dodi, langkah Jokowi yang membawa sejumlah ketua partai politik dalam sejumlah agenda, karena banyak pihak yang mulai menggadang-gadang cawapres pendamping Jokowi. Sehingga Jokowi melakukan komunikasi terkait kriteria yang pas bersama partai pendukung.

"Beberapa Ketum Partai menawarkan diri untuk jadi cawapres pak jokowi secara terbuka, dan itu normal saja. Juga sebagian tokoh mencalonkan diri terbuka juga. Jadi, kalau pak Jokowi, pak Prabowo atau yang lain melakukannya, kan normal semuan," kata Dodi, Ahad (25/3).

Sementara itu, pengamat politik LIPI Siti Zuhro melihat bahwa saat ini Jokowi mulai melakukan penjajakan ke semua ketua umum partai politik. Selain mencari calon cawapresnya, Jokowi juga ingin mengetahui aspirasi, kepentingan parpol, dan kehendak publik.

"Tampaknya jokowi sedang menakar-nakar keuntungan dan kerugian berpasangan dengan ketum parpol, sambil melakukan /testing the water/ apa respons publik bila jadi pasangannya," kata Siti.

Dalam mencari cawapres, menurut Siti, Jokowi tak hanya menjajaki calon-calon dari partai politik. Siti menyebut  Jokowi pun pasti mencari sosok yang lain di luar partai.

"Dia akan mencari pendamping yang memiliki integritas, ketokohan, dan kepemimpinan yang baik,” ungkapnya. (rep/tit)




Berita Terkait