Berita Metro

Senin, 19 Maret 2018  19:52

Mau Diganti, Mahyudin: Bunuh Saya Dulu!

Mau Diganti, Mahyudin: Bunuh Saya Dulu!
Mahyudin

JAKARTA (BM) – Golkar akan mengganti posisi Wakil Ketua MPR yang saat ini diduduki Mahyudin, kepada calon penggantinya Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto. Rencana itu sesuai keputusan DPP Golkar dalam rapat pleno pada Minggu (18/3) kemarin.

Menanggapi hal itu, Mahyudin menegaskan, ada tiga syarat yang harus dipenuhi fraksi sebelum menarik wakilnya di pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagaimana diamanatkan UU MD3. 

Tiga syarat yang dimaksud, pimpinan dapat diganti jika mengundurkan diri, berhenti atau diberhentikan, dan berhalangan tetap.

"Jadi kalau mau memenuhi unsur itu, saya kira satu bunuh saya dulu, bisa aja gua pulang ditabrak di pinggir jalan kan bisa aja, itu boleh kalau mau ganti saya," katanya dengan nada tinggi di ruang kerjanya, Nusantara III, Senayan, Jakarta, Senin (19/3).

Mahyudin secara tegas menolak dirombak oleh partainya. Dia hanya mau berhenti sebagai pimpinan MPR jika dirinya sudah menanggalkan jabatan sebagai anggota dewan.

"Tapi kalau diberhentikan dari DPR kan itu mekanismenya panjang, saya akan menggugat dasarnya apa saya diberhentikan," tegasnya.

Mahyudin menyebut alasan pergantian dirinya dari kursi Wakil Ketua MPR terlalu mengada-ada. Ia pun mengungkap dapat iming-iming jabatan menteri dari Ketum Golkar Airlangga Hartarto dengan rencana pencopotannya ini.

"Dia (Airlangga) bilang cuma rotasi. Penyegaran. Supaya Pak Mahyudin banyak jabatan, jadi kalau nanti periode yang akan datang mau dipromosikan jadi menteri gampang. Kan bullshit aja yang begitu," kata Mahyudin di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/3/2018).

Menurut Mahyudin, tak ada alasan genting terkait pergantiannya di MPR. Ia menyebut pencopotan ini hanya persoalan perbedaan pandangan politik antara dirinya dan Airlangga.

"Mungkin karena saya ada perbedaan gaya politik dengan ketua umum. Bisa jadi ini karena masalah suka dan tidak suka," jelas Mahyudin.

DPP Golkar dalam rapat pleno kemarin (18/3) menyepakati pergantian Wakil Ketua MPR F-Golkar. Mahyudin akan digantikan oleh Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto.

Gagasan pergantian itu disebut Mahyudin melanggar pasal dalam UU MD3. Ia sama sekali tak berniat melepaskan jabatannya secara sukarela.

"Dalam UU MD3 itu, pimpinan MPR bisa diganti kalau dia mengundurkan diri, meninggal dunia, atau berhalangan tetap," ujarnya.

"Saya tidak ada agenda mengundurkan diri!" tegasnya.

Terkait rencana pergantian itu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan telah bertemu dengan Airlangga Hartarto. Zulkifli menyebut Golkar punya hak mengganti Mahyudin dengan Titiek Soeharto.

"Soal pimpinan MPR, itu haknya Partai Golkar sebagaimana saya haknya PAN, gitu. Kami hormati, kami hargai. Sedang berproses, tadi ketum mengatakan. Kita tunggu perkembangan selanjutnya," kata Zulkifli usai bertemu Airlangga di Rumah Dinasnya, Jalan Widya Chandra IV, Jakarta Selatan.

Ketua Korbid Kepartaian Golkar Ibnu Munzir menyatakan akan ada pertemuan lebih lanjut antara Mahyudin dan Ketum Golkar Airlangga Hartarto untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

"Saya kira nanti dua pihak saja. Ketum mungkin akan buat langkah. Saya kira buat Pak Mahyudin juga bisa bijaksana bertemu, lalu kemudian menyelesaikan lebih baik," kata Ibnu di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/3/2018).

Terkait tudingan Mahyudin bahwa pergantiannya tersebut melanggar pasal dalam UU MD3, menurut Ibnu, hal itu sudah melalui diskusi di Golkar. Airlangga, sebut Ibnu, memastikan tak akan menyandung urusan konstitusi.

"Saya sempat mengingatkan, tapi kemudian ketum menjawab nggak ada soal," jelasnya.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto enggan berkomentar banyak soal penolakan Mahyudin untuk diganti sebagai Wakil Ketua MPR.  "Dari segi Golkar sendiri kami sudah berproses internal," ucap Airlangga di rumah dinas Ketua MPR Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (19/3/2018).

Airlangga mengaku menanyakan prosedur pergantian pimpinan MPR dalam pertemuan dengan Zulkifli. "Jadi kami sudah mendapatkan mekanisme tentu kami akan berproses," ucap Airlangga.

Saat ditanya bagaimana jika Mahyudin menempuh jalur hukum, Airlangga menjawab,"Saya dua hari yang lalu ketemu Pak Mahyudin, enggak begitu. Saya sudah ketemu kok." (kom/det/rmo/tit)




Berita Terkait