Berita Metro

Sabtu, 08 April 2018  18:02

Luhut: 'Serangan Balik' Jokowi Wajar

Luhut: 'Serangan Balik' Jokowi Wajar
Luhut di acara Rakosbidnas PDIP, Minggu (8/4)

Jakarta (BM) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melancarkan ‘serangan balik’ atas berbagai isu yang menyerang dirinya. Di antaranya isu PKI, dan membengkaknya utang negara.

 Menurut Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, 'serangan balik' yang dilakukan Jokowi adalah hal wajar. "Ya memang aneh (isu-isu yang diarahkan ke Jokowi). Saya setuju kalau presiden agak jengkel ya sah-sah saja. Kan beliau juga manusia, tuduhan soal PKI kan tidak beralasan sama sekali," kata Luhut di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (8/4/2018).

Luhut juga menyatakan Jokowi merupakan sosok yang religius. Ia mengaku heran jika ada yang membuat isu yang 'menyerang' masalah keislaman Jokowi.

"Keislamannya, itukan ketua komisi I kan temannya beliau di Solo. Teman beliau dari kecil katanya, dari mulai beberapa jaman. Mereka berdua selalu salat Jumat bersama-sama dan malah beliau bilang sama saya, aneh juga ada orang meragukan keislaman Pak Joko Widodo. Soal PKI aneh lagi, beliau baru umur 3 tahun saat peristiwa itu," ucap Luhut.

Menurut Luhut, rakyat tidak boleh dibohongi dengan informasi yang tidak benar. Ia memuji Jokowi sebagai sosok yang berani dan bertanggungjawab.

"Jadi saya pikir rakyat jangan dibohongi dengan informasi yang tidak benar, itu saya berani ngomong itu. Kita beruntung ada Presiden Joko Widodo yang menurut saya orangnya berani, mau bertanggung jawab, ambil resiko, dan punya visi ke depan. Dan tidak ada bisnis beliau atau istri dan anaknya dalam pemerintahan sekarang," ujarnya.

Sebelumnya, Jokowi menanggapi berbagai isu dan tudingan yang 'menyerang' dirinya. Dia menegaskan banyak cara tidak beradab yang dipakai untuk menyerangnya, seperti isu antek asing dan PKI.

"Sekarang isunya ganti lagi, isu kaus. #GantiPresiden2019 pakai kaus. Masak kaus bisa ganti presiden? Yang bisa ganti presiden itu rakyat," kata Jokowi di hadapan relawan yang hadir dalam Konvensi Nasional Galang Kemajuan 2018,di Ballroom Puri Begawan, Bogor, Sabtu (7/4).

 

Segelintir Orang

Luhut mengaku tak masalah soal gerakan #2019GantiPresiden. Ia menilai gerakan itu hanya berupa keinginan segelintir orang.

"Ya orang mau bilang ganti silakan saja, hak dia. Tapi kan kita melihat yang akhirnya rakyat yang memutuskan. Jadi saya pikir dari indikasi semua tadi apa yang kita lihat, keinginan itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja sampai hari ini yang saya lihat ya. Saya nggak tahu perkembangan ke depan," kata Luhut di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (8/4/2018).

Luhut menyebut saat ini ia memiliki data yang menunjukkan banyak kesuksesan dari pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Namun, ia tidak memungkiri jika masih ada yang kurang selama 3,5 tahun pemerintahan saat ini.

"Saya pikir data-data semua yang kami punya dan kami lihat ke bawah juga tanya sana sini ya sucsess story dari presiden Joko Widodo itu kan sangat banyak, sangat kuat. Bahwa masih ada yang kurang ya tidak kita juga pungkiri ya, tetap saja sampai kapanpun juga pasti ada yang kurang. Jadi kita juga tidak mau mengatakan bahwa kita nggak ada kurangnya," ujar Luhut.

Selain itu, Luhut menantang siapa pun yang memiliki data jika pemerintahan Jokowi tidak ada kesuksesan. Ia juga meyakinkan masalah utang pemerintah saat ini masih terkendali.

"Saya boleh bertanggungjawab dengan itu dan saya juga ingin bertemu sama orang yg menyatakan tidak ada sucsess story-nya. Bahwa masih ada masalah, yes, jadi jangan tadi masalah utang dibicarakan begitu-begitu masalah utang kita sangat-sangat terkendali," ucap Luhut.

 

PDIP Puji Jokowi

PDIP memuji tanggapan dan klarifikasi yang disampaikan Jokowi. "Itu bagus, Pak Jokowi bisa menunjukkan kualifikasi kepemimpinan dengan baik blusukan saat bersamaan beliau bisa menjawab dengan baik kritik yang diberikan. Dan inilah seorang pemimpin memberi jawaban dan pertanggungjawaban politik pada rakyat," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (8/4/2018).

Menurut Hasto, apa yang disampaikan Jokowi bukanlah bentuk serangan balik. Ia menyatakan Jokowi hanya memberi klarifikasi soal menjadi pemimpin harus bisa memberi optimisme pada masyarakat.

"Itu bukan serangan balik. Pak Jokowi melakukan klarifikasi bahwa menjadi pemimpin itu harus membangun optimisme. Menjadi pemimpin itu harus menggelorakan harkat dan martabat bangsa untuk menyatukan semangat gotong royong bahwa kalau kita bersama seberat pun berat masalahnya bisa diatasi," tuturnya.

 

Tak Seperti Biasanya

Terpisah, Ketua DPP PAN Viva Yoga Mauladi menyebut Jokowi tampil agresif dan bersemangat ketika berbicara di hadapan relawan di Bogor. Dalam kesempatan itu Jokowi memang buka suara soal tudingan yang ditujukan padanya seperti isu PKI, hingga utang negara.

"Pak Jokowi tampil agresif dan bersemangat. Tidak seperti biasanya," kata Viva lewat pesan singkat, Sabtu (7/4/2018) malam.

Viva menduga antusiasme massa memantik Jokowi untuk menyampaikan gaya orasi yang berbeda.

"Mungkin karena di depan massa yang banyak sehingga gaya orasinya berbeda agar menarik. Dinilai dari gaya orasinya, Pak Jokowi bersemangat," ujarya.

Sementara itu, Wasekjen PKB Daniel Johan menilai, apa yang disampaikan Jokowi sebagai bentuk pemberi semangat ke relawan.

"Ya, kan ketemu bicaranya di depan sukarelawan. Jadi memang memberikan semangat ke relawan supaya bergerak kenceng," kata Daniel Sabtu (7/4/2018) malam.

Daniel membenarkan jika saat ini Jokowi memang makin mantap menatap Pilpres 2019. Apalagi sudah ada lima parpol yakni PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, dan PPP yang menyatakan dukungannya.

"Sangatlah, pasti panas kan nggak mungkin 5 partai sudah memberi dukungan. Pak Jokowi pasti ya percaya diri untuk maju," ujar Daniel.

Dia menyebut aksi Jokowi itu sebagai penanda Jokowi siap maju di Pilpres 2019. "Maksudnya kita mulai, 'Yuk kita mulai start!'," ucap Daniel.

Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romy) menilai wajar jika Jokowi mulai bersuara terkait dengan serangan isu yang dialamatkan kepadanya. Apalagi belakangan ini tudingan tersebut sudah mengarah ke fitnah dan berita bohong.

"Selama ini Jokowi kan sudah biasa diam meski dihujat sana-sini. Tapi belakangan bukan lagi hujatan, melainkan fitnah dan hoax. Wajar lah kalau sesekali beliau bereaksi meluruskan," kata Romy melalui pesan singkat, Sabtu (7/4/2018).

Romy mengatakan memang sudah waktunya Jokowi untuk mengklarifikasi tudingan-tudingan yang tak berdasar tersebut.

"Sekarang sudah tahun politik. Jokowi harus mengklarifikasi tegas tudingan-tudingan miring yang sering menyesatkan publik. Kasihan rakyat kita menjadi korban hoax," ucapnya. (det/tit)




Berita Terkait