Berita Metro

Selasa, 12 Maret 2019  12:48

Khofifah Harap Tiongkok Transfer Teknologi Pertanian

Khofifah Harap Tiongkok Transfer Teknologi Pertanian
SURABAYA (BM) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indah Parawansa melakukan audensi bersama Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok Gu Jingqi di gedung negara Grahadi, Selasa (12/3) pagi. Dalam pertemuan tersebut beberapa hal yang dibahas diantaranya terkait pendidikan dan pertanian.


"Saya beberapa kali ke Tiongkok dan di sana saya melihat tanaman yang indah. Karena waktu itu tahun 2003 hingga 2006, saya mendapat tugas dari Gus Dur untuk masuk ke pedesaan-pedesaan dan melihat bagaimana proses pengentasan kemiskinan di sana. Mimpi saya waktu itu adalah bagaimana kita bisa transfer teknologi bunga mawar," ungkap Khofifah saat mengenang dirinya ketika diajak melihat ke halaman luas yang dipenuhi oleh mawar sewarna di Tiongkok beberapa tahun lalu. 


Lanjutnya, merubah warna dengan teknologi yang dimiliki Tiongkok merupakan hal yang sederhana. Jadi jika misalnya di negara lain sedang booming bunga mawar warna purple maka di Tiongkok juga akan mudah merubah warna mawar tersebut. "Mawar yang saya lihat di tahun 2003 hingga 2006 itu mirip tape. Jika kita di Amsterdam, kita bisa melihat warna Tiongkok yang kita bisa tahu mawar tersebut mekar di tanggal berapa. Keren kan? Dan mawar di sana juga tanpa duri."



Mawar tanpa duri merupakan teknologi yang dapat ditransfer di Jawa Timur karena banyak tempat budidaya mawar di sini. Lebih dari itu, lahan petani di Jawa Timur rata-rata seluas 0,2 hektar, jika ditanami padi maka profitnya kurang. Tapi jika ditanami mawar maka bisa dapat profit yang lebih besar.


"Ini sangat friendly buat perempuan yang kurang mampu. Di mana mereka bisa memanfaatkan lahan seluas 0,2 hektar tersebut," ungkap wanita pecinta anggrek ini.



Khofifah juga mengatakan bahwa pasar anggrek juga jauh lebih besar dibandingkan pasar mawar. Anggrek yang ada di sini ada penguatan warna. Teknologi di China terkait pertanian memang sangat canggih. Dua hal ini ingin ditekankan untuk penanganan  kemiskinan di Jawa Timur, karena kemiskinan di Jawa Timur ini kebahanyakan di desa. 


"Itu tadi terkait sektor pertanian. Tapi tadi saya juga membahas di penguatan pendidikan vokasi terutama di SMK. Beliau ingin diadakan semacam MoU, agar pendidikan vokasi lebih berkembang. Karenan banyak lulusan SMK yang menganggur jadi diharapkan memiliki fasilitas yang lengkap seperti laboratorium, dan tempat yang membuat mereka seolah mereasa didekatkan dengan dunia kerja yang sebenarnya," ungkap Khofifah.


Diharapkan lulusan SMK memiliki skill yang cukup untuk dimasukkan ke dunia kerja dan diberikan recruitment yang lebih besar. Karena pengangguran terbesar di Jawa Timur adalah lulusan SMK, kedua lulusan SMA. (Era)

 



Berita Terkait