Berita Metro

Rabu, 03 Januari 2018  21:23

Kejutan 2019, KedaiKopi: Prabowo King Maker

Kejutan 2019, KedaiKopi: Prabowo King Maker
Prabowo Subianto

JAKARTA (BM) – Memasuki Tahun Politik 2018, sejumlah partai politik semakin gencar melakukan konsolidasi. Iklim yang semakin panas, membuka peluang –peluang baru untuk terciptanya konstalasi politik baru, yang lebih dinamis.

Survei dari Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) memunculkan enam nama yang diprediksi bakal meramaikan Pemilu Presiden 2019. "Nama-nama seperti Samad, Gatot, Rizal Ramli, Tuan Guru Bajang, Tito Carnavian, dan Anies kami prediksi memiliki peluang untuk meramaikan persaingan 2019 selain nama Jokowi dan Prabowo. Nama-nama ini sering muncul saat diskusi kelompok terfokus dan survei, " kata Hendri Satrio, pendiri Lembaga Survei Kedai Kopi di Jakarta, Rabu (3/1).

Hensat sapaan akrab Hendri Satrio menambahkan bahwa pada 2019 fokusnya memang masih pada Jokowi dan Prabowo, tapi besar kemungkinan Prabowo akan mengambil peran berbeda.

"Posisi Jokowi saat ini memang masih terlalu kuat bagi penantangnya, makanya saya menggunakan istilah meramaikan 2019. Prabowo kemungkinan akan memainkan berbeda, mungkin sebagai king maker ya, beliau kan tercatat lebih sukses jadi king maker, Jokowi adalah buktinya," jelas Hensat.

Selanjutnya Hensat mengatakan bahwa nama-nama yang disebutkan tadi bisa saja menjadi calon presiden atau calon wakil presiden, terutama untuk posisi yang akan ditinggalkan Jusuf Kalla lantaran menurut undang-undang sudah tidak bisa mencalonkan lagi. 

Tokoh nasional yang juga ekonom senior DR Rizal Ramli berpeluang meramaikan Pilpres 2019. Rizal bisa menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

Demikian disampaikan pendiri Lembaga Survei Kedai KOPI Hendri Satrio dalam diskusi 'Ngopi Bareng' bertajuk "Dari Seberang Istana; 2019; Selain Jokowi dan Prabowo, Siapa Berani?" di Jakarta, Rabu (3/1).

Rizal adalah satu dari enam nama yang menurut Hendri berpeluang meramaikan persaingan 2019 selain nama Jokowi dan Prabowo Subianto.

"Kami prediksi mereka memiliki peluang untuk meramaikan persaingan 2019. Nama-nama ini sering muncul saat diskusi kelompok terfokus dan survei," kata Hendri.

Rizal Ramli yang dikenal Sang Rajawali Ngepret dianggap kandidat mumpuni untuk urusan ekonomi. 

Adapun Abraham Samad sempat ramai diperbincangkan sebagai kandidat kuat pendamping Jokowi sebelum memutuskan bersanding dengan JK. Namanya kembali diperbincangkan sebagai calon pengganti JK bila Jokowi mencari pendamping dengan kriteria ahli hukum dan pejuang anti korupsi.

Nama Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi dianggap berpeluang maju ke level nasional sebagai representasi Islam. Hanya saja belum tentu Partai Demokrat mendorong TGB lantaran saat ini Demokrat sibuk mendorong Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara Tito Karnavian yang dekat dengan Jokowi pun masuk radar.

Berbeda dengan tiga nama tadi, nama Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan dianggap sebagai calon penantang kuat Jokowi di 2019. Nama-nama lain yang beredar pun tetap berpeluang menjadi pendamping Jokowi atau memang siap menjadi penantang Jokowi.

Selanjutnya Hendri Satrio mengatakan keenam nama tersebut bisa saja menjadi calon presiden atau calon wakil presiden. Namun posisi cawapres Jokowi lebih ramai diperebutkan dibandingkan capres penantang atau cawapres penantang karena tingginya elektabilitas Jokowi.

"Hanya saja keputusan siapa pendamping Jokowi ya ada pada Jokowi. Kondisi ini memang berbeda dengan 2014 saat Jokowi harus mengikuti saran partai pengusungnya untuk urusan cawapres. Saat ini dengan elektabilitas menjulang Jokowi bisa memilih wakilnya sendiri," demikian Hendri Satrio.[dem]

 

Calon PKS

Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengatakan, partainya belum tentu mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi kandidat calon presiden RI 2019 mendatang.

Menurutnya, PKS yang nantinya berkoalisi dengan Partai Gerindra dan PAN, kemungkinan mengusulkan Capres dari partainya masing-masing.

"2019 Belum tentu Prabowo, tapi kan Gerindra bisa Prabowo, PKS bisa usulin Sohibul Iman, PAN Zulkifli Hasan, ini di antara mereka saja. PKS akan ngusulin juga, kita kan partai kader," kata Mardani di restoran Ajag Ijig, kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (3/1).

Pembahasan Calon Presiden itu, kata Mardani, akan dibahas pada pertengahan Januari. Kadernya juga berasal dari internal partai. Sederet nama kader dinilai layak maju jadi capres atau cawapres. Selain Sohibul, ada nama Ahmad Heryawan, gubernur Jabar dua periode.

"Capres dan cawapres, majelis syuro pertengahan Januari akan buat. Kemungkinan kader internal. Nanti 14 sampai 16 Januari majelis syuro akan ada pengumuman," bebernya.

Sebelumnya, Mardani mengatakan, PKS akan tetap menghargai usulan dari partai koalisi lainnya bilamana mengusung Prabowo Subianto sebagai Capres 2019. Sebab dirinya menilai semua parpol punya hak untuk menyodorkan nama calon Presiden.

"Kami menghargai apapun masukan usulan dari tiap partai di 3 partai koalisi itu. Kalau usulnya prabowo ya kita terima, karena etikanya tiap partai punya wewenang dan hak mengusulkan," pungkasnya.

 

Voting Capres

Terpisah, Waketum Gerindra Fadli Zon menggelar voting head to head capres 2019 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Hasilnya, Jokowi menang dalam voting ini.

Voting digelar di akun Twitter-nya, @fadlizon, pada Rabu (3/1/2018) sejak pukul 07.17 sampai 13.20 WIB. Para pemilik akun Twitter tinggal memilih antara Jokowi dan Prabowo.

"Jika pemilihan Presiden dilakukan hari ini, siapa yang akan anda pilih...," cuit Fadli.

Berdasarkan hasil voting, Jokowi meraih 55% suara dan Prabowo 45%. Jumlah pemilih dalam voting sebanyak 30.336 pengguna Twitter.

Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan, Jokowi dan Prabowo selalu menduduki posisi 2 teratas dalam hal elektabilitas capres dari survei. Yang terkini, lembaga Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menggelar survei elektabilitas capres 2019 yang dirilis pada Selasa (2/1).

Hasilnya, Jokowi meraih 38,9% dan Prabowo 10,2%. Jika dibandingkan dengan survei SMRC sebelumnya, elektabilitas Jokowi stagnan dan Prabowo menurun (sebelumnya 12,0%). (det/rmo/tit)




Berita Terkait