Berita Metro

Senin, 07 Januari 2018  19:26

DPW PPP Muktamar Jakarta Desak Cabut Dukungan Jokowi

DPW PPP Muktamar Jakarta Desak Cabut Dukungan Jokowi

SOLO (BM) –  Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muktamar Jakarta mendesak pimpinan pusat mencabut dukungan kepada Presiden Joko Widodo. Pencabutan itu termasuk untuk tidak mengusung Jokowi pada Pilpres 2019 nanti. Permintaan seluruh DPW se-Indonesia diwakili Ketua DPW PPP Jawa Tengah KH. Muhammad Wafi Maimoen di sela peringatan Hari Lahir ke-45 PPP di Stadion Manahan, Solo, Minggu (7/1).

Peringatan Harlah PPP sendiri dihadiri sekitar 10 ribu kader yang terdiri pengurus DPP, DPW, serta simpatisan dari tiga dari DPC se-Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.

Gus Wafi, begitu dia biasa disapa, meminta agar PPP pimpinan Ketua Umum Djan Faridz dapat segera menarik dukungan untuk Presiden Jokowi. "Kami sebagai perwakilan PPP di daerah Jawa Tengah mendesak agar ketua umum PPP yang sah Haji Djan Faridz serta DPP dapat mencabut dukungan untuk Presiden Jokowi, karena telah mendzolimi umat Islam melalui PPP," jelas Gus Wafi.

Di kesempatan yang sama, Ketua DPW PPP Papua Indira Kasim juga mengamini permintaan Gus Wafi agar PPP pimpinan Djan Faridz segera mencabut dukungan kepada Jokowi. Menurutnya, selama hampir tiga tahun pemerintahan Jokowi mendzolimi PPP yang merupakan partai Islam karena telah membiarkan konflik internal berlarut-larut.

"Hampir tiga tahun lebih Presiden Jokowi mendzolimi PPP dengan membiarkan perpecahan ini terjadi. Untuk itu, kami meminta agar PPP Muktamar Jakarta mencabut dan tidak mendukung Jokowi di 2019," beber Indira.

Senada juga disampaikan Ketua DPW PPP Sumatera Utara Aswan Jaya. Dia dengan lantang menyebut bahwa Presiden Jokowi melalui Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah mendzolimi PPP.

"Di sini, di tempat lahir Presiden RI Joko Widodo kami meminta agar Ketua Umum PPP Haji Djan Faridz dapat segera mencabut dukungan kepada beliau, karena melalui menkumham telah mendzolimi umat Islam," tegasnya.

 

Dukung Jokowi-Cak Imim

Di tempat terpisah, sembilan pimpinan pondok pesantren dan Forum Tuan Guru Di Lombok Tengah mendeklarasikan dukungan kepada Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar untuk berpasangan di Pilpres 2019.

Pimpinan Ponpes Manhalul Maarif, Lombok Tengah, Tgh. Maarif Makmun Diranse mengakui jajaran pimpinan dan tuan guru sepakat jika Jokowi merupakan presiden yang sudah terbukti memiliki banyak prestasi, terutama dalam bidang infrastruktur.

"Prestasinya itu terlihat tak hanya di pulau Jawa tapi juga di luar," katanya usai deklarasi, Minggu (7/1).

Selain itu, Maarif juga menilai Jokowi yang lahir dari kaum nasionalis perlu didampingi oleh kaum religius. Seperti Cak Imin yang merupakan sosok yang mewakili kalangan religius.

"Cak Imin kan sekarang didaulat menjadi panglima santri dan lahir dari kalangan santri," jelasnya.

Secara rekam jejak, berbagai macam terobosan yang diinisiasi Cak Imin untuk meningkatkan martabat santri dan pesantren. Di tengah pembangunan sumber daya manusia di tingkat nasional yang sudah terbukti.

"Mulai dari Nusantara Mengaji, Liga Santri Nusantara dan yang peling luar biasa perannya Cak Imin adalah lahirnya Hari Santri," ungkap Maarif.

Dia mengatakan, dalam sejarah bangsa, jika dua arus besar antara nasionalis dan religius ini disatukan maka Indonesia akan semakin kuat. Salah satunya lahirnya Resolusi Jihad yang merupakan hasil dari kepiawaian Bung Karno yang mampu menyatukan kaum religius.

"Jadi deklarasi Jokowi-Cak Imin juga hasil ikhtiar ulama dan tuan guru di Lombok agar pimpinan nasional lebih baik," demikian Maarif. 

Dukungan kepada Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, untuk maju sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) RI pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 juga datang dari ujung Timur Indonesia yaitu Nabire Papua.

Adalah KH Ihsan, Rois Suriah NU & Pengasuh Ponpes Al Falah Nabire Papua yang menyatakan bahwa ia dan teman-temannya mendukung pencalonan Cak Imin sebagai Cawapres berpasangan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).  “Saya kenal kiprah beliau (Cak Imin) baik di masyarakat dan di politik cukup bersih,” kata KH Ihsan.

Bentuk dukungan yang akan diberikan adalah suara yang ada di Nabire. Kyai Ihsan berharap jika Cak Imin terpilih menjadi cawapres kelak akan lebih memperhatikan umat di Papua dan berharap Cak imin mau berkunjung ke Papua. Apalagi di era Presiden Jokowi, Papua kini menjadi fokus pembangunan infrastruktur.

Menurut KH Ihsan, sosok Cak Imin sudah memenuhi syarat untuk menjadi cawapres. “Dari segi organisasi, pengalaman berpolitik sudah mumpuni. Sejak muda beliau sudah terjun di dunia politik dengan sangat bagus,” katanya.

 “Bicara soal kebangsaan, persatuan, menjaga kesatuan NKRI sudah ada dalam diri Cak Imin. Ini karena beliau berasal dari lingkungan NU,  organisasi masyarakat yang sudah sejak awal menanamkan keharusan mempertahankan kesatuan NKRI.”

KH Ihsan menambahkan bahwa Cak Imin memiliki karakter seperti Gus Dur yang bisa menjadi daya tarik massa di Papua.

 “Gusdurlah yang memberi nama Papua dan itu sangat membekas bagi warga Papua. Cak Imin menjadi daya tarik masyarakat Papua baik muslim maupun nonmuslim.”

Seperti diketahui, Muhaimin Iskandar belakangan gencar melakukan promosi sebagai Cawapres pada Pilpres 2019 nanti.

Beberapa waktu lalu, Ketua Umum PKB tersebut menghadiri peresmian kereta cepat Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (2/1/2017) bersama Jokowi.

 

Sinyal Jokowi

Sementara itu, dosen Sosiologi Universitas Andalas Indraddin menilai, hadirnya Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, dalam peresmian stasiun kereta bandara Soekarno-Hatta, memberikan isyarat sinyal kuat dari Presiden Joko Widodo untuk proyeksi pemilihan presiden tahun 2019.

"Ada sinyalnya, Jokowi menunjukkan kalau Cak Imin pasangan yang strategis di Pilpres 2019," kata Indraddin, Minggu (7/1/2018).

Menurutnya, jika dilihat dari sisi sosial, kata Indra, masyarakat melihat sosok Cak Imin memikili basis Islam Nadlatul Ulama (NU) yang secara kultural cukup netral.

"NU itu kan netral, jadi bisa menyentuh seluruh masyarakat Indonesia. Jadi dari sisi pemilih partai Islam dan lainnga Cak Imin strategis," kata Indra.

Indra menilai, tidak hanya dari kacamata Islam, sosok Cak Imin secara nasional juga dinilai sebagai tokoh muda yang enerjik dan rekam jejaknya punya perhatian yang khusus pada kesejahteraan masyarakat.

"Jadi kalau Jokowi-Cak Imin berpasangan akan dinilai cocok dan ada hawa positifnya di Pillres 2019. Jokowi mau memperlihatkan Cak Imin bisa menunjang dan memperkuat posisinya," kata Indra. (tri/rmo/tit)




Berita Terkait