Berita Metro

Senin, 25 September 2017  17:36

Gubernur Bali: Kalau Ada Turis Ngotot, Tangkap dan Suruh ke

Gubernur Bali: Kalau Ada Turis Ngotot, Tangkap dan Suruh ke
Hingga Minggu (24/9/2017), sebanyak 15.758 orang mengungsi di 113 titik pengungsian di wilayah Kabupaten Klungkung.

Karangasem (BM) – Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta kepada semua pihak untuk mematuhi imbauan otoritas berwenang ihwal bencana Gunung Agung. Usai levelnya dinaikkan menjadi awas, semua orang yang berada di zona merah atau 12 kilometer dari puncak Gunung Agung wajib dievakuasi.

Mantan Kapolda Bali itu meminta kepada turis, baik asing maupun domestik untuk tidak berada pada zona yang dekat gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl tersebut.

"Kalau boleh jangan dekat-dekat. Kita lagi sibuk mengurusi pengungsi," kata Pastika, Selasa 25 September 2017.

Pastika mengaku tidak akan bertanggung jawab terhadap turis yang nekat mendekat ke zona merah Gunung Agung. Pasalnya, pemerintah dan otoritas terkait sudah mengeluarkan imbauan berdasarkan kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Nanti kalau kenapa-kenapa siapa yang tanggung jawab? Siapa yang ngurusi? Kalau yang ngotot petugas harus paksa ke luar. Tangkap, suruh ke luar," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status Gunung Agung menjadi awas. Kenaikan level itu diberlakukan sejak Jumat malam, 22 September 2017 pukul 20.30 WITA.

Berdasarkan data yang diamati dan dianalisis secara komprehensif oleh PVMBG, aktivitas Gunung Agung masih sangat tinggi dan belum ada tanda-tanda yang menunjukkan tingkat aktivitasnya akan menurun. Kendati begitu PVMBG belum bisa memprediksi kapan Gunung Agung akan meletus.

PVMBG telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat sekitar, pendaki, pengunjung atau wisatawan agar tidak berada di sekitar lereng gunung dalam radius 9 km dari kawah puncak gunung.

Seperti diketahui, intensitas kegempaan Gunung Agung di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, mengalami peningkatan tajam sepanjang Minggu (24/9/2017).

Peningkatan kegempaan ini menunjukkan dobrakan tekanan magma ke atas (puncak) kian nyata dan kuat.

Hal tersebut disampaikan Kabid Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementrian ESDM, I Gede Suantika, Minggu (24/9/2017), di Pos Pengamatan PVMBG, Desa Rendang, Karangasem.

 

"Kegempaan yang kami rekam besarnya semakin hari kian meningkat, dan itu berupa gempa-gempa terasa. Meningkatnya aktivitas kegempaan menunjukkan bahwa dobrakan tekanan magma ke atas itu kian nyata dan kuat," terangnya.

Semenjak status Gunung Agung ditetapkan Awas (Level IV), tingkatan tertinggi dalam gunung berapi, aktivitasnya memang semakin meningkat.

Pada Minggu (24/9/2017) sekitar pukul 13.00 Wita terjadi gempa yang getarannya cukup terasa, berkekuatan 3,2 skala ricther. Itu menunjukkan energi di dalam Gunung Agung semakin besar, dan mungkin penutupnya atau berupa lapisan permukaan Gunung Agung ini semakin lemah dengan adanya tekanan dari dalam.

"Terjadi empat kali gempa terasa dengan skala III sampai IV MMI," papar Suantika.

Menurut Kepala PVMBG, Kasbani, MMI adalah skala untuk mengukur intensitas gempa.

Skala ini menggambarkan efek yang dirasakan dari suatu gempa dari tempat yang kita rasakan.

"Skala MMI itu goncangan dan dampak gempa di tempat kejadian di mana kita berada. Saya berada di tempat pos pengamatan, sedangkan orang lain ada di tempat lain, skala MMI-nya berbeda," terang Kasbani, kemarin.

Untuk data skala MMI dari PVMBG berdasarkan apa yang dirasakan di Pos Pengamatan Desa Rendang.

Dijelaskan Kasbani, skala MMI dibagi 12 tingkatan dari I sampai yang paling parah yaitu skala XII.

Adapun aktivitas vulkanik Gunung Agung sejak Sabtu (23/9) hingga Minggu (24/9/2017) masih fluktuatif.

Dari segi kegempaan, aktivitas kegempaaan vulkanik dalam sudah mengalami perlambatan peningkatan.

"Tapi gempa vulkanik dangkal mulai meningkat perlahan. Artinya sumber tekanan seandainya terjadi letusan akan semakin dangkal," jelas Suantika.

 

Travel Advice

Ketua Tim Crisis Center Kementerian Pariwisata, Ngurah Putra, mengatakan kondisi pariwisata di Bali khususnya di beberapa titik wisata di Kabupaten Karangasem masih relatif aman.

Hal itu menanggapi munculnya beberapa travel advice terbaru terkait peningkatan status kegunungapian Gunung Agung dari lima negara.

"Lokasi Gunung Agung itu kan di Timur Bali. Di bagian timur Bali kan masih aman kecuali yang di radius 12 kilometer. Wisata di Candidase aman, Tulamben aman, Taman Ujung aman. Sementara semua masih berjalan aman. Masih banyak destinasi di Bali. Di luar radius 12 kilometer masih aman," kata Ngurah saat dihubungi KompasTravel, Senin (25/9/2017).

Ia mengatakan obyek wisata yang termasuk dalam radius bahaya seperti Pura Besakih memang sudah dikosongkan oleh otoritas terkait. Ngurah menyebut wisatawan yang ingin berwisata ke Bali bisa memilih daerah di luar radius bahaya Gunung Agung.

"Mohon maaf sebelumnya, kalau bicara travel advice itu sama saja dengan kita mengingatkan dengan warga negara Indonesia untuk berhati-hati bila ke luar negeri. Kami tak harapkan ada travel banned untuk Bali atau Indonesia," kata Ngurah.

Ia menambahkan hingga saat ini pihak Kementerian Pariwisata terus berkoordinasi dengan dinas pariwisata di empat kabupaten di Bali yaitu Bangli, Klungkung, Karamgasem, dan Buleleng untuk memantau informasi terkini tentang status Gunung Agung.

Saat ini, rapat antara otoritas terkait seperti ASITA, PHRI, Angkasa Pura 1, Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga dilakukan untuk merespon situasi Gunung Agung.

"Imbauan kepada warga negara mereka itu, ikuti jauhi lokasi radius bahaya, ikuti informasi, terutama otoritas setempat," ujarnya.

Sebelumnya, lima negara di dunia telah memperbaharui imbauan untuk warga negaranya yang tengah berada di Bali agar berhati-hati mengingat Gunung Agung sedang menunjukkan aktivitas kegunungapian. Dari informasi yang dihimpun KompasTravel, negara-negara yang mengeluarkan imbauan resmi (travel advices) adalah Singapura, Inggris, Australia, Singapura, dan Selandia Baru.

Imbauan yang diberikan seperti bagi yang tengah berlibur di Bali untuk memantau media massa dan mengikuti instruksi otoritas setempat. Pemerintah Singapura misalnya, meminta warganya untuk membeli asuransi perjalanan dan kesehatan yang komprehensif.

Pusat vulkanologi dan mitigasi bencana Geologis (PVMBG) menaikan status Gunung Agung dari level III (siaga) menjadi level IV (awas). Naiknya status ditetapkan pada Jumat (22/9/2017) malam pukul 20.30 Wita.

"Melihat perkembangan terakhir, aktifitas kegempaan vulkanik begitu tiggi dengan imi ditingkatkan statusnya dari level 3 siaga jadi 4 atau awas," ujar Kepala PVMBG Kasbaniz Jumat malam.

Dengan penetapan status awas maka radius warga, wisatawan atau pendaki diimbau tidak beraktivitas pada radius 9 km ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 kilometer. (viv/kom/det/tit)




Berita Terkait