Berita Metro

Senin, 06 Februari 2017  01:08

Antara Visi Dan Jebakan Fantasi

Antara Visi Dan Jebakan Fantasi
N Syamsuddin Ch Haesy
Jurnalis dan Imagineer di Akarpadi Imagineering Institute

Sejak era reformasi berlangsung dan proses pemilihan kepemimpinan nasional dan daerah berlangsung secara terbuka, teramat kerap kita bersentuhan dengan visi dan misi. Visi dan misi kemudian menjadi penting dalam banyak urusan, termasuk dalam proses asesmen kepemimpinan bisnis.
 
Di lapangan politik, khususnya untuk memperoleh pejabat publik, bahkan visi dan misi diperdebatkan. Khalayak atau rakyat dihadapkan oleh visi dan misi personal yang berpasangan ingin mendapatkan dukungan rakyat untuk memperoleh jabatan politik.
 
Dalam pelatihan "imagineering mindset" (minda rekacita) yang sering saya berikan di berbagai perusahaan dan badan usaha milik negara (BUMN), sering peserta mempertanyakan: masih perlukah visi dan misi personal? Pertanyaan yang menggelitik dan tepat.
Pasalnya, yang lebih mendasar diperlukan memang bukan visi dan misi personal, melainkan visi dan misi konstitusional. Siapa yang semestinya merumuskan visi dan misi? Bagi negara (dan berlaku) secara nasional adalah rakyat, melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Misalnya, Visi Indonesia 2045.
 
Caranya? MPR menggelar dialog skenario plan yang melibatkan representasi rakyat.
Representasi rakyat bisa meliputi lembaga pendidikan tinggi, organisasi kemasyarakatan, partai politik, organisasi profesi, dan sejenisnya.
 
MPR mempunyai waktu selama lima tahun untuk melakukan rangkaian dialog tersebut, sampai akhirnya menggelar dialog nasional skenario plan yang membawa aspirasi dan hasil dialog-dialog sebelumnya untuk merumuskan visi final negara.
 
Begitu juga halnya dengan visi korporasi, selenggarakan dialog yang mempertemukan inspirasi pemangku kepentingan dan aspirasi pemangku kepentingan ke dalam satu visi yang mempunyai rentang, bentang, dan batas waktu pencapaian tertentu.
 
Artinya visi dan misi negara atau korporasi tak harus berubah-ubah hanya karena terjadi pergantian pemimpin, karena di dalam visi dan misi itulah termaktub amanat yang harus mereka kerjakan dan laksanakan.
 
Yang kita perlukan dari para kandidat pemimpin untuk menyandang jabatan publik adalah konsep dan cara akselerasi mewujudkan visi dan misi itu.
 
Itulah yang terjadi di berbagai negara. Misalnya, jiran Malaysia.
Visi dan misi negara tak berubah sampai batas waktu pencapaiannya tiba, siapapun kandidat Perdana Menteri, anggota parlemen, dan menteri besar (Kepala Daerah)-nya.
Dengan begitu, visi dan misi negara atau korporasi menjadi titik pandang pencapaian yang mengikat semua pemangku kepentingan untuk mencapainya.
 
Visi dan misi sebagai pernyataan pandangan dan aksi mencapai tujuan, dalam konteks "imagineering mindset", berkaitan dengan intuitive reason yang mengakomodasi harapan, hasrat, dan kepentingan untuk mencapai ideal secara kolektif.
 
Maknanya, visi dan misi merupakan bagian integral dari suatu rencana strategis perubahan dari suatu keadaan tertentu ke arah keadaan yang lebih baik.
 
Pernyataan visi (dan misi sebagai komitmen aksi mewujudkannya) adalah titik anchor suatu rencana strategis kolektif secara komprehensif.
 
Visi yang dirumuskan secara kolektif dan bertingkat, merupakan puncak pernyataan cita-cita dan komitmen yang mengikat siapa saja untuk melaksanakannya secara konsisten.
Visi dan misi dirumuskan berdasarkan ideologi inti, nilai inti, yang perwujudannya digerakkan oleh budaya yang disepakati secara kolektif.
 
Karenanya, setiap pernyataan visi yang dirumuskan secara kolektif selalu disertai dengan parameter penilaian untuk mengukur pencapaiannya.
 
Selain itu, visi dan misi juga diikuti dengan berbagai bekal bagi siapa saja yang dipercaya memimpin pencapaiannya, berupa berbagai aspek keberhasilan yang berkembang selama dialog berlangsung.
 
Aspek-aspek itu, antara lain : kepemimpinan, kreativitas, inovasi, kompetensi (termasuk finance viability), integritas, dan nilai-nilai budaya, modal insan, sains dan teknologi yang berkembang dan selalu terbarukan.
 
Aspek-aspek ini ditopang kuat oleh berbagai faktor, antara lain : politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
 
Dalam pengalaman memandu penyusunan dan perumusan visi dan misi selama ini, menunjukkan, visi dan misi yang dihasilkan melalui dialog perencanaan skenario jauh lebih jelas dan mengikat seluruh stake holders dan share holders.
 
Seluruh peserta dialog memberikan kontribusi besar dan menyediakan ruang komitmen dan tanggung jawab yang kuat terhadap pencapaian visi dan misi yang dihasilkannya.
 
Berbeda dengan visi dan visi yang disusun dan dirumuskan hanya oleh segelintir orang (meskipun ahli), yang dalam banyak hal lebih hanya menyajikan "fantacy trap" (jebakan fantasi).
 
Jebakan fantasi akan menyulitkan orang banyak, karena cenderung dipaksakan pelaksanaannya menjadi kenyataannya. Selain memerlukan waktu untuk mengubahnya menjadi imajinasi kolektif dan parameternya. Termasuk sulit merumuskan dan memformulasikannya menjadi visi yang sesungguhnya.
 
Baik karena fantasi tak terukur dan memerlukan proses panjang untuk mewujudkannya menjadi realitas pertama (kenyataan sehari-hari). Juga, karena fantasi yang tak sesuai dengan realitas pertama, akan menyeret kita tenggelam ke dalam jebakan yang akan menenggelamkan kita ke dalam masalah yang terus berkembang.
 
Berbeda halnya dengan visi, yang akan selalu menjadi arah pencapaian dan memudahkan kita melakukan azimuth quantum (lompatan kembali ke arah semula), ketika tersalah jalan dalam mencapainya.
 
Kini, agaknya, kita sedang berada di suatu titik yang tak kita ketahui, mungkin sedang berada di antara visi dan jebakan fantasi dalam banyak hal. (*/ant)



Berita Terkait