Berita Metro

Rabu, 04 April 2018  18:31

Sukmawati Minta Maaf, Laporan Polisi Masih Bertambah

Sukmawati Minta Maaf, Laporan Polisi Masih Bertambah
Sukmawati Soekarnoputri saat menggelar jumpa pers di kawasan Cikini Jakarta, Rabu (4/4).

Jakarta (BM) - Sukmawati Soekarnoputri akhirnya menyatakan permintaan maaf atas kontroversi puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakannya di acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018. "Dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon maaf lahir dan batin, kepada umat Islam Indonesia," ujar Sukmawati sembari menangis.

Ada total lima poin yang dibacakan Sukmawati dalam konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018). Permintaan maaf itu merupakan poin kelima.

Berikut 5 poin yang disampaikan Sukmawati dalam klarifikasinya.

Sehubungan dengan dinamika dan pro kontra terkait puisi 'Ibu Indonesia' yang saya bacakan dalam acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018 yang ternyata telah memantik reaksi dari sebagian kalangan umat Islam, dengan ini saya bermaksud untuk menyampaikan klarifikasi sebagai berikut;

1. Puisi 'Ibu Indonesia' yang saya bacakan adalah sesuai dengan tema dari acara pagelaran busana yakni culture identity yang mana semata-mata dalah pandangan saya sebagai seniman dan budayawati dan murni merupakan karya sastra Indonesia.

2. Saya mewakili pribadi tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan puisi 'Ibu Indonesia'. Saya adalah muslimah yang bersyukur dan bangga akan keislaman saya, putri seorang proklamator Bung Karno yang dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh yang mendapatkan gelar dari Nahdlatul Ulama sebagai waliyyul amri addlaruri bissyaukah pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan-kebijakannya mengikat secara de facto dengan kekuasaan penuh.

3. Puisi 'Ibu Indonesia' adalah salah satu puisi yang saya tulis yang menjadi bagian dari buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia yang telah diterbitkan pada 2006. Puisi 'Ibu Indonesia' ini ditulis sebagai refleksi dari keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan yang saya rangkum semata-mata untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri Indonesia asli.

4. Puisi ini juga saya tulis sebagai bentuk dari upaya mengekspresikan diri melalui suara kebudayaan sesuai dengan tema acara. Saya pun tergerakkan oleh cita-cita untuk semakin memahami masyarakat Islam nusantara yang berkemajuan sebagaimana cita-cita Bung Karno, dalam hal ini Islam yang bagi saya begitu agung, mulia dan indah. Puisi itu juga merupakan bentuk penghormatan saya terhadap ibu pertiwi Indonesia yang begitu kaya dengan tradisi kebudayaan dalam susunan masyarakat Indonesia yang begitu berbhineka namun tetap tunggal ika.

5. Namun dengan karya sastra dari puisi 'Ibu Indonesia' ini telah memantik kontroversi di berbagai kalangan baik pro dan kontra khususnya di kalangan umat Islam, dengan ini dari lubuk hati yang paling dalam, saya (Sukmawati menangis-red) mohon maaf lahir dan batin kepada umat Islam Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi 'Ibu Indonesia'. Selain itu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Anne Avantie dan keluarga serta apresiasi dan terima kasih kepada seluruh fashion designer Indonesia agar tetap berkreasi dan produktif.

 

Dipolisikan

Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) bersama Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (GMII) melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Bareskrim Polri. Puisi 'Ibu Indonesia' yang dibawakan Sukmawati dinilai menista agama Islam.

Pantauan di lokasi, tiga orang dari TPUA tiba di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jalan Merdeka Timur, Rabu (4/4/2018) pukul 10.00 WIB. Selang 15 menit, delapan orang dari GMMI juga hadir dengan memakai almamater warna hijau bertulisan 'Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia' di bagian punggung.

"Kami melaporkan Sukmawati Soekarnoputri terkait penistaan agama," kata Wakil TPUA Azam kepada wartawan.

Azam menilai tidak seharusnya Ketua Umum Partai Nasional Indonesia Marhaenisme tersebut membandingkan ajaran Islam dengan hal yang berkaitan dengan duniawi. Membandingkan keduanya sama saja dengan melecehkan ajaran Islam.

"Dia menyamakan cadar itu malah kalah sama konde. Nah, ini ngaco. Terus yang kedua, azan itu kalah ya dengan suara lagu kidung. Azan itu mengajak kebaikan dilengkapi dengan hayya 'alash sholah, yaitu tentang masalah azan mengajak orang untuk salat. Kapan lagu kidung ini bisa melampaui azan merdunya. Nah, ini yang disebut penghinaan, pelecehan, termasuk penodaan dalam Islam," ucap Azam.

Azam berkata seharusnya Sukmawati tidak mencatut kata 'cadar' dan 'azan' bila tidak memahami syariat Islam.

"Nah kalau dia muslim, dia nggak tahu syariat Islam, ya diam. Kalau nggak tahu syariat Islam, ya jangan dipaksakan dong untuk mengembangkan bahasa. Belajar tentang syariat Islam. Dan ingat, azan dan cadar itu bagian dari syariat Islam. Artinya diatur itu, bukan sembarangan," ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua LBH GMMI Muhammad Fikri. Dia menyesalkan Sukmawati menyinggung soal cadar dan azan dalam puisinya.

"Karena dia (cadar dan azan) dalam pedoman, dalam kaidah kita. Kalau orang nggak tahu, nggak usahlah banyak bicara. Yang kita ketahui, dalam puisi itu dia nggak tahu tentang syariat Islam, tetapi kenapa dia bawa-bawa soal azan dan cadar," ucapnya.

"Kita juga sering berorasi dengan puisi, tetapi puisi tentunya tidak dengan SARA, puisi itu aksara, bukan SARA. Puisi itu bagaimana mengaitkan suatu kejadian dengan membandingkan suatu metode atau tidak dengan syariat tertentu," ucap mahasiswa Universitas Krisnadwipayana ini.

Laporan TPUA diterima Bareskrim Polri dengan laporan bernomor LP/341/IV/2018/Bareskrim dan GMNII dengan laporan nomor LP/343/IV/2018/Bareskrim. Sukmawati diduga melanggar tindak pidana penistaan agama sesuai Pasal 156 dan 156 a KUHP.

 

Imbauan Menag

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yakin Sukmawati Soekarnoputri tidak bermaksud melecehkan Islam lewat puisi 'Ibu Indonesia'. Namun begitu, Lukman meminta Sukmawati minta maaf.

"Jadi hal-hal seperti ini menurut saya mari kita dialogkan, dan bagi saya akan lebih baik kalau Ibu Sukmawati dengan jiwa besar bisa menyampaikan permohonan maaf kepada mereka-mereka yang merasa tidak nyaman dengan puisinya. Karena saya yakin beliau sama sekali tidak ada iktikad sedikitpun untuk mengusik kenyamanan perasaan umat Islam apalagi untuk melecehkan, apalagi untuk menghina dan seterusnya," kata Lukman di kantor Kemenag, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018).

Menurut Lukman, permohonan maaf Sukmawati akan dapat meredam kontroversi puisi itu. Lukman sendiri tidak mau menilai puisi itu menyinggung Islam atau tidak.

"Saya tentu memiliki pandangan saya tersendiri, tapi menurut hemat saya persoalan orang mengungkapkan itu bisa berbeda pandangan itu. Ada yang menganggap katakanlah cadar sekarang ini di internal umat Islam sendiri kan ini apakah itu syariat atau tidak itu kan juga umat Islam tidak dalam satu pandangan yang utuh itu," kata Lukman.

"Jadi hal-hal seperti ini menurut saya mari kita dialogkan," sambungnya.

Selain itu, Lukman berharap masyarakat Indonesia dapat memaafkan puisi Sukmawati. Perbedaan pandangan antara masyarakat, kata Lukman, tidak mesti selalu dibawa ke proses hukum

"Selain itu juga saya berharap mudah-mudahan kita bisa memaafkan bisa menerima apa yang dilakukan oleh Ibu Sukmawati sehingga tidak semua persoalan yang terkait dengan perbedaan pandangan di antara kita itu harus selalu dibawa ke proses hukum. Kita ini kan bangsa yang penuh kekeluargaan yang bisa saling menghargai, menghormati pandangan yang lain, bahkan kita bangsa yang bisa saling memaafkan satu dengan yang lain," ujar Lukman.

 

Kedepankan Musyawarah

Sementara itu, Polda Metro Jaya akan mengedepankan musyawarah terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri lewat puisinya 'Ibu Indonesia'. Polisi membuka kemungkinan kasus tersebut diselesaikan di luar pengadilan.

"Kita mengingat masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat yang bermusyawarah, berdialog, kita juga pihak kepolisian mengutamakan restorative justice artinya penyelesaian di luar pengadilan, itu bisa kalau memang nanti dilakukan kita bisa melakukan itu, seandainya nanti misalnya ada pencabutan, ada musyawarah nanti kita akan di situ," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (4/4/2018).

Jika ternyata musyawarah tak menemukan titik temu, maka polisi akan melanjutkan proses hukum laporan tersebut. Polisi juga akan memanggil sejumlah pihak untuk mendalami dugaan pidana kasus itu.

"Kalau tidak bisa dilakukan restorasi justice kalau memang itu suatu pidana nanti kita lakukan pemeriksaan, tapi kita cek kita gelar kan apakah nanti setelah melakukan pemeriksaan apakah ada unsur pidana atau tidak di situ," papar dia.

"Nanti kita juga akan menggali dari pelapor, dari saksi ahli apakah yang dilaporkan suatu tindak pidana atau bukan," sambung Argo. (det/tit)




Berita Terkait