Berita Metro

Kamis, 07 Januari 2018  20:22

Jenderal Djoko Dkk Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia

Jenderal Djoko Dkk Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia, Minggu (7/1)

Jakarta (BM) – Jenderal TNI (purn) Djoko Sasonto bersama sejumlah tokoh nasional mendeklarasikan Gerakan Kebangkitan Indonesia di Gedung Is Plaza, Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Minggu (7/1/2018). Hadir Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di acara tersebut.

Tampak pula beberapa tokoh lain yang datang yaitu mantan Ketua DPR Marzukie Ali, mantan Menko Polhukam Tedjo Edhy, mantan pimpinan KPK Taufiequrachman Ruki, Lily Chodidjah Wahid, Hariman Siregar, dan Heppy Trenggono.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto yang merupakan salah satu pemrakarsa kelompok ini bersama dengan Jenderal TNI (purn) Djoko Sasonto dalam sambutannya mengatakan gerakan yang dibentuk bukanlah untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilu. Menurutnya, gerakan ini dibentuk akibat keresahan bersama untuk memajukan bangsa Indonesia.

"Kami adalah penghuni WA grup peduli terhadap negara. Kami memiliki pandangan yang sama terhadap negara ini. Gerakan ini bukan untuk menghadapi Pilkada, tapi ini untuk menggapai cita-cita Indonesia," kata Prijanto.

Sementara itu, Djoko Santoso dalam sambutannya mengaku prihatin dengan kondisi bangsa yang ada saat ini. Dia mengaku mendirikan gerakan untuk membantu menguraikan persoalan bangsa.

"Ini kami resah dengan kondisi bangsa saat ini, di mana kesenjangan semakin tinggi, kemiskinan semakin banyak," ujarnya.

"Siapakah kami ini? Kami ini adalah anggota WhatsApp group yang disebut 'Peduli Negara'. Pemikirannya macam-macam," ujar Prijanto.

"Tanggal 12 Desember 2017 kami berkumpul dan menyatakan satu pemahaman terhadap negeri ini dan mengajak rakyat Indonesia untuk bangkit. Lahirlah Gerakan Kebangkitan Indonesia," ujar Prijanto.

Pemrakarsa kelompok ini memang diisi oleh para tokoh purnawirawan. Selain Prijanto dan Djoko Santoso, ada juga Irjen (purn) Taufiqurachman Ruki. Bergantian, pemrakarsa gerakan ini berbicara di hadapan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Di acara tersebut, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso mengingatkan adanya berbagai bahaya yang mengancam eksistensi bangsa Indonesia.

"Situasi nasional yang berkembang saat ini dan ke depan, yang mengingatkan kita semua pada pilihan dan tantangan berat yakni bangkit bersama atau punah," kata Djoko dalam sambutan deklarasi Rumah Kebangkitan Indonesia yang diadakan di Ballroom Gedung Is Plaza, Pramuka, Jakarta Pusat, Minggu (7/1/2018).

Djoko Santoso menegaskan, bangkit bersama harus dilakukan saat ini untuk menghadapi berbagai gempuran peradaban di tengah gelombang globalisasi yang dikuasasi oleh kekuatan modal dan teknologi.

Yang pertama, kata dia, perlu pemimpin yang sungguh-sungguh mengamalkan nilai Pancasilais yang mampu menggalang cita-cita bangsa, agar memberikan inspirasi untuk bangkit bersatu mempertahankan NKRI.

"Serta membangun Indonesia yang maju, menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya," ucapnya.

Kedua, terang dia, semua pihak harus mampu mengenali dan memahami persoalan ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang dihadapi bangsa.

"Globalisasi yang bercirikan kapitalisme dan liberalisme ini, menyerang bangsa sehingga menimbulkan kesenjangan sosial dan ketidakadilan, yang berujung pada kemiskinan struktural, yang bisa menjadi bibit subur bagi berbagai tata nilai dan ideologi yang merusak peradaban serta jatidiri kita," jelasnya.

Ketiga, ungkap Djoko, kita harus mampu mencermati perubahan geopolitik dan perkembangan lingkungan strategis nasional, regional dan global, terutama yang bersifat predatorik dan hegemonik yang mengancam eksistensi sebagai bangsa.

Adapun faktornya yakni berupa potensi bencana alam, epidemik dan berbagai penyakit serta gangguan wilayah perbatasan.

"Secara regional kita patut mewaspadai potensi konflik Laut China Selatan dan Semenanjung Korea, sedangkan secara global kita wajib menangkal ancaman bahaya perang narkoba yang berpotensi menghancurkan masa depan bangsa," jelasnya.

Guna mengantisipasi dan menangkal berbagai ancaman tadi, Djoko Santoso mengajak semua pihak membangun kesadaran dan pemahaman tentang kondisi bangsa dan kewaspadaan nasional.

"Di bidang ekonomi kita harus bisa menahan serangan ekonomi global yang memporakporandakan perekonomian nasional, dengan menggerakkan ekonomi kerakyatan sesuai Pasal 33 UUD 1945," ujarnya.

Sementara itu di bidang peradaban, Indonesia harus bangkit merevitalisasi peradaban dalam gerak maju bangsa Indonesia di masa kini dan masa depan.

Namun ia mengingatkan, gerakan mengantisipasi dan menangkal berbagai ancaman tersebut memerlukan persyaratan yakni Revitalisasi Konstitusi, dengan kembali ke UUD-1945 untuk disempurnakan bersama.

"Demi mempertahankan keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka kita harus bangkit, bersatu, berjuang bersama menjaga tegaknya kedaulatan negara, keutuhan tanah air dan keselamatan bangsa yang adil, sejahtera, bermartabat dan berdaulat," tuturnya.

Dalam kerangka itulah, tegas Djoko, maka semangat Gerakan Kebangkitan Indonesia, bisa mempererat persatuan dan kesatuan, bergerak maju bersama dan berteriak menyadarkan adanya bahaya yang mengancam eksistensi kita sebagai bangsa.

"Kita semua harus merebut kembali masa depan kita, masa depan Bangsa Indonesia, agar betul-betul berada di tangan kita sendiri dan bukan di tangan bangsa lain," tandasnya.

Untuk itu pula mantan Panglima TNI ini menggariskan tujuh langkah gerakan yakni:

1. Penyadaran Kebangsaan ; 2. Konsolidasi Nasional ; 3. Revitalisasi Nasionalisme. ; 4. Penegakkan Kewaspadaan Nasional ; 5. Menggerakkan Roda Ekonomi Kerakyatan ; 6. Memilih Pemimpin Negara dan Bangsa yang Pancasilais ; 7. Rekonstruksi Konstitusi. (det/kom/gel/tit)




Berita Terkait