Berita Metro

Selasa, 22 Januari 2019  08:13

Wow..!Kampung Budaya Polowijen Inovasi Motif Batik Ken Dedes

Wow..!Kampung Budaya Polowijen Inovasi Motif Batik Ken Dedes
Mahasiswi cantik membatik di Kampung Budaya Polowijen. (BM/Saifullah)
Sebagai warisan tradisi dan seni budaya, tidaklah gampang mengembangkan batik khas daerah tertentu. Banyaknya sumber informasi dan referensi sebagai penanda identitas Kota Malang yang menyejarah, dimana motif batik dianasir sebagai salah satu corak yang menjadi ikon Kota Malang. Maka, sah-sah saja setiap pekerja seni kriya batik menuangkan goresan tangan dan mengembangkan motif batik sebagai hasil gagasan atau inovasi.
 
Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono berpendapat, kuat alasan untuk menyatakan bahwa batik telah riil hadir di Malang pada masa pemerintahan Singhasari. Menurutnya, batik Malang bukan sekedar batik yang diproduksi di daerah Malang, namun lebih dari itu memiliki motif hias yang berakar pada tradisi seni yang menyejarah di Malang raya.
 
“Jejak arkeologis di area Malang Raya telah menyediakan bahan (referensi) berlimpah untuk dapat dijadikan sumber guna menghadirkan batik khas Malang,” katanya.
 
Referensi yang berlimpah itulah salah satu alasan kuat bagi Kampung Budaya Polowijen (KBP) secara kontinyu melakukan riset motif-motif batik Malang. Bahkan, 10 pembatik tingkat lanjut yang mengikuti workshop Kriya Batik Malang kali ini ditatar selama dua hari (28-29 Januari).
 
Instruktur workshop kriya batik Malang KBP Titik Nur Fajriyah mengatakan, workshop kali ini lebih meningkatkan pada desain motif khas Malang yang digali melalui motif patung Ken Dedes serta topeng Malang. Dalam workshop ini, lanjut ia, peserta lebih ditekankan pada teknik mencanting yang lebih rumit dan detail serta percampuran pewarnaan lebih natural.
 
Kegiatan workshop batik ini rupanya menarik perhatian Chiara  Hwa dari United International Collage China yang sedang mengikuti rangkaian kegiatan program AIESEC Universitas Brawijaya. Chiara Hwa yang dua kali datang ke KBP, mengikuti tahap demi tahap kegiatan membatik, disamping ia juga melakukan penggalian makna batik yang dicantingnya.
 
“Saya senang ada di kampung kecil ini semua belajar budaya suasana alami dan saya ikut membatik untuk hadiah ulang tahun mama saya,” ujarnya.
 
Kota Malang menyandang banyak ikon. Kota Malang dikenal dengan budaya arek dan Arema sebagai salah satu ikon spirit warga Malang Raya. Selain itu, ada Kampung Tematik Kampung Biru Arema dengan simbul Singo Edan. Kota Malang juga ikonic dengan Tugu yang melegenda sebagai identitas Pemerintah Kota Malang. Malang juga dikenal dengan ikon topeng Malang sebagai icon seni budaya dengan tari dan wayang topengnya mampu di tuangkan dalam goresan canting diatas kain. Bahkan relief Candi Singosari, patung Kend Dedes serta peninggalan artefaktual bisa diekplorasi menjadi motif batik Malang. (ahe)



Berita Terkait