Berita Metro

Senin, 12 Maret 2018  14:16

Pengelolahan Lingkungan Hidup Wajib Disertai Konservasi Air

Pengelolahan Lingkungan Hidup Wajib Disertai Konservasi Air
Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan

Reporter: Komari

LAMONGAN (BM)-Dokumen Upaya Pengelolaahn Lingkuangan Hidup (UKL dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL)   yang dijadukan ke Pemkab Lamongan saat ini harus  disertakan  penbangunan konservasi air agar pelestarian lingkungan dan mencegah banjir.

 

Menurut Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan, hal ini dlakukan  dilakukan Pemkab Lamongan sebagai bagian dari kampanye untuk menjaga konservasi air tanah. Maka salah satu bangunan yang disarankan sebagai konservasi air adalah sumur resapan.

 

“UKL UPL sendiri adalah dokumen yang diperuntukkan bagi usaha atau rencana kegiatan yang tidak memiliki dampak pada lingkungan. Dan dengan mewajibkan membuat bangunan konservasi air, diharapkan dapat menyelamatkan debit air tanah di Lamongan, sekaligus sebagai tangkapan air untuk mencegah banjir”  kata Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan, Senin (12/3)

 

Agus, panggilan Agus Hendrawan juga menjelaskan  Sumur resapan ini dinilai lebih efektif menampung air dibanding biopori. Selain itu juga lebih sesuai untuk kondisi tanah Lamongan yang sulit menyerap air.

 

“Penyelamatan lingkungan menjadi salah satu program penting bagi Pemkab Lamongan. Salah satunya terkait penyelamatan sumber air” terang Agus.

 

Di tahap awal, selain mewajibkan pada dokumen UKL UPL, Dinas Lingkungan Hidup sudah mulai merintis dengan membangun 10 unit sumur resapan di sekolah adiwiyata.

 

Program Lamongan Green and Clean (LGC) yang selama ini sukses menjadi andalan meningkatkan kepedulian lingkungan hidup masyarakat juga akan mengadopsi konservasi air ini dalam kegiatannya.

 

“Lewat aksi Lamongan menabung air, LGC kali ini mewajibkan dalam setiap bangunan minimal harus ada 1 sumur resapan atau empat lubang biopori. Dengan harapan masyarakat akan terbiasa untuk melakukan konservasi air” ungkap Agus yang juga memaparkan terkait biopori, sejak tahun 2016 di Lamongan sudah terbangun sebanyak 252 ribu lubang biopori. ()




Berita Terkait