Berita Metro

Rabu, 20 Desember 2017  17:55

Tilep Rp 400 Juta, Dihukum Percobaan

Tilep Rp 400 Juta, Dihukum Percobaan
Terdakwa Edah Ratnasari saat menjalani persidangan di PN Surabaya, Rabu (20/12/2017).

SURABAYA (BM) - Majelis hakim yang diketuai Anne Rusiana menjatuhkan vonis hukuman percobaan terhadap Edah Ratnasari, terdakwa kasus penipuan dan penggelapan. Warga Ketintang Permai ini dinyatakan terbukti menilep uang Rp 400 juta milik PT Bumi Manggala Wisesa (BMW).

Dalam amar putusannya, hakim Anne menjelaskan, terdakwa yang tidak ditahan selama persidangan ini terbukti mencairkan dua bilyet giro milik PT BMW ke rekening bank Mandiri miliknya. Terlebih lagi, terdakwa telah mencairkan bilyet giro tersebut tanpa sepengetahuan dan perintah dari PT BWM.

Tak hanya itu, uang dari pencairan bilyet giro tersebut ternyata digunakan untuk keperluan pribadi terdakwa. Atas perbuatanya itulah, PT BMW mengalami kerugian sebesar Rp 400 juta. “Mengadili, menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara, dengan masa percobaan selama satu tahun,” ujar hakim Anne saat membacakan amar putusannya di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (20/12/2017).

Dengan vonis ini, maka terdakwa tidak perlu menjalani hukuman penjara. Hukuman penjara akan berlaku jika nantinya terdakwa kembali melakukan tindak pidana dalam kurun waktu satu tahun.

Vonis yang dijatuhkan hakim Anne ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sumanto. Jaksa dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim ini sebelumnya menjatuhkan tuntutan selama satu tahun penjara kepada terdakwa.

Perlu diketahui, Edah Ratnasari didudukan sebagai terdakwa atas laporan PT Bumi Manggala Wisesa (BMW). Laporan ini dilakukan lantaran Edah telah mencairkan dua bilyet giro senilai Rp 400 juta tanpa sepengetahuan PT BMW.

Untuk memperlancar aksi tipu gelapnya, awalnya Edah mendatangi kantor PT BMW yang berlokasi di Jalan Kertajaya, Surabaya. Saat itu Edah mengaku menagih pembayaran pengiriman batu pecah dari PT BMW ke PT Beton Prima Indonesia (BPI).

Edah melakukan penagihan berdasarkan surat pernyataan tagihan dari PT BMW yang ditandatangani dirinya sendiri. Kemudian Edah mendatangi Edwin Santoso, akunting PT BPI untuk meminta uang tagihan pengiriman batu pecah ke PT BPI sebesar Rp 400 juta. Kemudian PT BPI menyerahkan dua bilyet giro senilai Rp 400 juta kepada Edah.

Setelah dua bilyet dicairkan oleh terdakwa, ternyata uang tersebut tidak disetorkan ke PT BMW. Uang tersebut oleh terdakwa justru digunakan untuk keperluan pribadinya sendiri. Dalam kasus ini, Edah didakwa dengan pasal 372 dan 378 KUHP. (arf/tit)




Berita Terkait