Berita Metro

Selasa, 01 Mei 2018  17:13

Pekerja BUMN Desak Polisi Usut Penyebar Percakapan Rini

Pekerja BUMN Desak Polisi Usut Penyebar Percakapan Rini
Sekjen FSB-BUMN Tri Sasono

Jakarta (BM) - Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu (FSP-BUMN) menyambangi Bareskrim Polri siang ini. Mereka meminta Bareskrim mengusut pelaku penyebar percakapan Menteri BUMN Soemarno dengan Dirut PLN Sofyan Basir.

Perwakilan FSP-BUMN tiba di Gedung KKP Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Selasa (1/5/2018) pukul 12.00 WIB. Perwakilan FSB -BUMN itu adalah Sekjen FSB-BUMN Tri Sasono dan seorang rekannnya.

"Jadi kedatangan saya kemari ingin meminta Bareskrim menindaklanjuti siapa pengunggah daripada video ini, kami meminta untuk segera ditangkap," kata Tri kepada wartawan.

Namun, lanjut Tri, laporannya belum diterima Bareskrim, Mereka disarankan ke Direktorat Tindak Pidana Cyber Bareskrim di Tanah Abang.

"Kami diarahkan ke Siber Bareskrim dulu untuk menentukan pasal, karena itu mengandung UU ITE," ujarnya.

Tri mengatakan akibat rekaman itu viral, suasana kerja di lingkungan kementerian BUMN tidak kondusif. Bahkan, saling curiga.

"Karena ini ada penggiringan opini untuk memfitnah Bu Rini dengan (Sofyan) seolah-olah ada fee dalam proyek gas alam cair Bojonegara, Serang. (Akibatnya) Membuat suasana jadi tidak kondusif jadi saling curiga dan (meminta Bareskrim) memeriksa orang-orang yang tersebut namanya di situ karena kok bisa ada rekaman," ucap Tri.

Tri menilai percakapan dalam rekaman itu dapat mengiring opini publik Rini dan Sofyan berbagi fee di proyek receiving Terminal gas di Bojonegara. Padahal, menurutnya, percakapan keduanya membahas mengenai besaran fee yang bisa didapatkan pihak PLN dan Pertamina.

"Inilah makanya kami menilai hoax, karena itukan ada sesi sesi yang terputus gituloh karena saya melihat ini bukan masalah fee-fee ya, tapi Rini dengan Sofyan membicarakan masalah share yang harus didapat untuk Pertamina dan PLN berapa," kata Tri.

Dalam percakapan itu, kata Tri, Rini dan Sofyan berdiskusi agar fee yang didapatkan pemerintah lebih besar dibanding pihak swasta. Fee ini dinilai dapat disumbangkan kepada rakyat.

Tri juga menambahkan nama Ari Soemarno yang disebut dalam rekaman itu karena Ari adalah seorang tenaga ahli. Ari dimintai pendapat berapa fee yang layak yang didapatkan pemerintah dari proyek itu.

"Kalau Ari Soemarno ini hanya dilihat sebagai tenaga ahli lah, cuman kebenaran aja ada hubungan antara adik kakak aja. Dia memberi saran gitu, layaknya berapa sih klo untuk proyek itu," ucap Tri.

Tri juga menilai sah saja bila Rini dan Sofyan berdiskusi melalui telepon. "Kan bisa saja Bu Rini dengan dirut membicarakan itu, sharing istilahnya bukan rapat resmi, seperti juga saya dengan kawan-kawan federasi. Kalau yang resmi ya resmi kan di luar sharing bisa saja gitu," ucap Tri.

 

Kalla Group

Dalam rekaman percakapan antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir, nama Ari disebut-sebut dalam menjalankan proyek proyek itu.

Sebenarnya siapa dan apa peran 'Pak Ari' dalam proyek tersebut?

CEO Kalla Group Solihin Kalla menjelaskan, proyek di Bojonegara ini merupakan gagasan dari Kalla Group yang kemudian ditawarkan kerjasama kepada PT Pertamina (Persero) pada tahun 2013. Proyek infrastruktur Terminal Regasifikasi LNG ini akan dibangun dengan tingkat kehandalan yang tinggi serta kompetitif dibanding dengan terminal yang ada di Indonesia dan di regional.

Untuk itu, Solihin menjelaskan, pada 2013 Bumi Sarana Migas (BSM) meminta Ari Soemarno bergabung sebagai Koordinator Senior Proyek LNG di Bojonegara, Banten. Proyek terminal regasifikasi LNG ini akan menjadi salah satu cara mengefisiensikan pendistribusian gas.

"Penunjukan Pak Ari sebagai Kalla Group Senior LNG Project Coordinator didasarkan pada profesionalitas dan keahlian beliau yang sudah puluhan tahun menggeluti sektor LNG," kata Solihin dalam siaran pers, dikutip Selasa (1/5/2018).

Dia menjelaskan, proyek terminal regasifikasi LNG di Bojonegara dibangun untuk mengantisipasi ancaman defisit gas di Jawa bagian Barat dan adanya kesiapan lahan yang dimiliki oleh anak perusahaan Kalla Group sejak tahun 1990-an. Rencana pembangunan proyek ini sejalan dengan keinginan pemerintah, agar perusahaan swasta mau berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur.

Setelah melalui diskusi dan kajian bisnis di internal Kalla Group yang dipimpin oleh Senior LNG Project Coordinator yang berpengalaman, maka pada tahun 2013 diputuskan untuk menunjuk salah satu Konsultan Teknik dari Jepang yang telah berpengalaman dan memiliki teknologi terbaik, dalam merancang bangun Terminal Regasifikasi LNG, untuk melakukan studi kelayakan pendirian Terminal Regasifikasi LNG. Hasil kajian Konsultan Teknik menunjukan bahwa lokasi tersebut sangat ideal untuk dimanfaatkan sebagai Terminal Regasifikasi LNG di darat.

Menurut Solihin, pada 12 Mei 2014 MoU kerjasama BSM dan Pertamina ditandatangani dan kedua pihak setuju untuk melakukan joint study. BSM setuju untuk mengalokasikan 30 Ha lahan dan mengajak Tokyo Gas Co Ltd dan Mitsui untuk bermitra dan membentuk joint venture Terminal Regasifikasi dengan kapabilitas pendanaan, teknologi, dan operasional pengelolaan terminal dan distribusi.

Dia menambahkan pada 1 April 2015 Pertamina telah meneken pokok-pokok kesepakatan (head of agreement/HoA) dengan BSM untuk membangun terminal penyimpanan dan regasifikasi LNG Bojanegara senilai US$ 500 juta. Dari hasil kajian lebih dalam diputuskan bahwa Pertamina harus mengamankan pelanggan terbesarnya, yaitu PLN.

"Oleh sebab itu PLN sebagai off-taker diajak dalam kepemilikan Proyek LNG di Bojonegara dan pembahasan terus berlanjut hingga awal tahun lalu," ujarnya. (det/rmo/tit)




Berita Terkait