Berita Metro

Kamis, 03 Mei 2018  22:02

SMK Didorong Kembangkan Agrobisnis dan Agroteknologi

SMK Didorong Kembangkan Agrobisnis dan Agroteknologi
Beri Kesan: Gubernur Jatim Soekarwo menuliskan pesan untuk penguatan revitalisasi pendidikan vokasional.
SURABAYA (BM) – Bidang agrobisnis dan agroteknologi menjadi salah satu orientasi revitalisasi pendidikan vokasi di Provinsi Jatim. Pasalnya, potensi agro di Jatim sangat besar sekali baik sisi primer maupun sekunder. Bahkan, dengan teknologi sederhana, Jatim surplusnya Rp 164 triliun dibanding dengan provinsi lain.

Hal itu disampaikan Gubernur Jatim Soekarwo usai membuka Seminar Nasional dan Pameran Karya SMKN 12, Agrobisnis dan Agroteknologi sebagai Orientasi Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Jatim, di Jatim Expo, Kamis (3/5). Menurut dia, potensi itu harus diisi oleh pendidikan yang terarah yang dinamakan rekonstruksi pendidikan. “70 persen pendidikan vokasional harus terstandarisasi minimal BSN,” katanya.

Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, melanjutkan, pendidikan vokasional bisa melalui dua cara. Pertama pendidikan formal SMK, kedua dual track SMA serta Aliyah. “SMA dan Aliyah harus ada pendidikan vokasionalnya. Kalau tidak kita bisa pada posisi sulit,” terangnya. Untuk itu Pemprov Jatim menarget tahun 2019 komposisi 70 persen SMK dan 30 persen SMA tuntas. 

Untuk meningkatkan standar kualitas SMK, lanjut Pakde Karwo, Pemprov Jatim tahun 2018 telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 300 miliar untuk pembenahan dan pembangunan inkubator-inkubator pelatihan. Inkubator ini dibutuhkan untuk membuka dan menyerap tenaga kerja di bidang industri, dan untuk mewadahi siswa SMK yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. “Lewat inkubator-inkubator yang dibuat nantinya akan semakin melatih ketrampilan siswa-siswa SMK dan bisa menjawab tantangan dunia usaha dan industri,” urainya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Saiful Rachman menambahkan, pengembangan SMK ke arah pertanian dan pengolahan hasil pertanian sesuai dengan potensi masing-masing. Saat ini ada sekitar 50 SMK negeri dan beberapa SMK swasta yang sudah berjalan. “Yang SMKN 5 Jember itu sudah mengembangkan kerja sama dengan Belanda, kemudian SMK di Gondang, Nganjuk juga terus didorong,” katanya.

Mantan Kepala Badiklat Jatim ini menyatakan, SMK di Gondang lahannya cukup luas dengan 23 hektar. Teknologi pertanian di sekolah tersebut juga berkembang. Bahkan, beberapa produk hasil pengolahan pertanian sudah bisa dikatakan layak jual. “Rata-rata, SMK yang mengembangkan sektor pertanian didukung penuh alumninya. Alumninya itu untuk pertanian sangat fanatis,” jelasnya.

Contoh lain, lanjut Saiful, adalah SMKN di Jember. Sekolah itu memiliki peternakan yang menghasilkan ayam petelur. Telurnya itu untuk konsumsi wilayah Jember dan ayam pedagingnya juga untuk konsumsi wilayah Jember. “Dan kemarin itu ditambah lagi dengan ternak kelinci. Kelinci itu tidak ada yang terbuang, urinnya juga dijual untuk pupuk cair. Jadi sudah hebat,” tandasnya. (sdp)



Berita Terkait