Berita Metro

Rabu, 02 Mei 2018  18:47

Siswa Peraih Nilai di Bawah 55 Meningkat Drastis

Siswa Peraih Nilai di Bawah 55 Meningkat Drastis
Kepala Dindik Jatim Saiful Rahman (baju putih) menyerahkan secara simbolis DKHUN tahun ajaran 2017/2018, Rabu (2/5).

 

Oleh: Suluh Dwi Priambudi
SURABAYA (BM) – Hasil Ujian Nasional (UN) jenjang SMA/MA/SMK tahun ini menjadi perhatian khusus Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Saiful Rachman. Pasalnya, hasil yang diperoleh siswa cukup mengecewakan. Hal ini dapat terlihat dari jumlah siswa peraih nilai di bawah 55 yang meningkat tajam.

Saiful pun tak mau lagi berkompromi dengan hasil UN tersebut. Pihaknya memberikan peringatan keras kepada guru mata pelajaran maupun kepala sekolah agar hal tersebut dapat diperbaiki. Itu disampaikan saat pembagian Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional (DKHUN) tahun ajaran 2017/2018, Rabu (2/5).

Dalam paparannya, baik jenjang SMK, SMA maupun MA terjadi penurunan nilai yang cukup memprihatinkan. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang memperoleh nilai di bawah standar kompetensi lulusan atau nilai kurang dari 55 sebesar 78,88 persen. Persentase ini meningkat dari tahun lalu yang hanya 55,41 persen.

Untuk jenjang SMA , siswa yang mendapat nilai kurang dari 55 mencapai 85,30 persen, meningkat dari tahun lalu yang hanya 85,13 persen. Sementara untuk MA, persentase siswa yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 96,34 persen, meningkat dari tahun lalu sebesar 95,41 persen. “Kok sampai ada yang 96 persen. Kenapa tidak seratus persen saja sekalian,” katanya menyindir kepala sekolah dan perwakilan cabang dinas yang hadir di ruang Sabha Nugraha Dindik Jatim.

Saiful menegaskan, nilai di bawah 55 bisa membengkak seperti ini jumlahnya berarti ada yang salah. Apakah siswanya, gurunya atau yang membuat soal ujiannya. “Apa gurunya sudah tidak bisa bekerja maksimal atau bagaimana? Kepala sekolah juga masih terikat kontrak kinerja. Bila perlu kita lakukan penyegaran, dipindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain,” tegasnya.

Ini merupakan peringatan keras, lanjut dia, meski hasil UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. UN tetap menjadi evaluasi hasil belajar. Sejak dua tahun lalu nilai UN yang anjlok harus dijadikan acuan. Dindik Jatim perlu mengubah sikap dan mencari jalan lain. Meski sebelumnya dinas sudah membuat kontrak dengan kepala sekolah tapi juga tidak ada perubahan. “Kita pindah antar sekolah dalam kota saja dulu. Kalau diizinkan gubernur kita realisasikan. Jadi tidak ada lagi guru yang manja. Semua harus berjuang lagi,” terangnya.

Pihaknya mengakui, peserta UN umumnya memang mengeluh menghadapi jenis soal HOT tersebut. Hal itu dapat diketahui dari respon peserta melalui media sosial. “Kementerian memang telah meningkatkan standar bobot soalnya menjadi HOT (High Order Thinking). Tapi itu kan berapa persen saja dari total soal yang ada,” tutur Saiful.

Selain penyegaran tempat mengajar, Saiful juga mendorong kepala bidang pembinaan SMA dan SMK agar kembali melakukan peningkatan kompetensi guru. Hal ini dilakukan dengan mengundang dosen-dosen dari Universitas Airlangga (Unair) ataupun Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. “Hal ini harus dilakukan untuk menyikapi hasil UN yang anjlok seperti sekarang,” urainya.

Pelibatan dosen difokuskan untuk melatih guru mata pelajaran yang diujikan, khususnya matematika dan IPA. Menurutnya, kompetensi guru benar-benar masih sangat rendah. “Kita pernah bekerjasama dengan ITS untuk melatih guru fisika. Baru sampai di pre test sudah tidak ada yang lulus,” tutur Saiful.

Banyaknya siswa yang mendapat nilai kurang dari 55 ini tak lepas dari rata-rata nilai per mata pelajaran yang juga menurun. Khususnya pada jenjang SMA dan SMK yang selama ini menjadi andalan Jatim. Pada jenjang SMK misalnya, dari empat mapel yang diujikan, hanya rerata nilai Bahasa Inggris yang mengalami peningkatan tipis satu poin dari 40,81 tahun lalu menjadi 41,65 tahun ini.

Sementara tiga mapel lainnya, yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan kompetensi kompak mengalami penurunan. Sementara untuk jenjang SMA untuk peminatan IPA, IPS dan Bahasa relatif mengalami kenaikan tipis. Meski sejumlah mapel masih mengalami penurunan. “Untuk rerata nilai tertinggi mayoritas didapatkan Kota Malang. Tapi, rerata lainnya sudah cukup merata dan menyebar ke sejumlah daerah,” pungkasnya.(sdp/tit)




Berita Terkait