Berita Metro

Rabu, 18 April 2018  23:47

Pakde Karwo minta Program Nasional Sinkron

Pakde Karwo minta Program Nasional Sinkron
SURABAYA (BM) - Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo meminta rencana program nasional, provinsi dan kab/kota harus sinkron. Sinkronisasi ini terkait tiga hal yakni penurunan kemiskinan, penurunan pengangguran, dan penurunan kesenjangan.
 
“Sinkronisasi program ini merupakan ketentuan yang ditentukan Bappenas. Karenanya, setiap program yang dibuat bukan fokus pada growth yang tinggi tapi harus berdampak pada tigal hal tersebut,” ungkap Pakde Karwo, sapaan lekat Gubernur Jatim, pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah/RKPD Prov. Jatim tahun 2019, di Grand City Convex, Surabaya, Rabu (18/4).
 
Pakde Karwo menjelaskan, sinkronisasi ini sangat diperlukan karena tantangan akan adanya bonus demografi yang terjadi pada tahun 2030 di skala nasional, dan khusus Jatim pada tahun 2019. Setelah periode tersebut, pertumbuhan populasi usia produktif menurun dan mengakibatkan pertumbuhan basis pendapatan per kapita juga melambat.”Kita harus pandai memanfaatkan bonus demografi ini akankah menjadi bonus atau justru bencana? Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan agar kita tidak terjebak pada middle income trap,” terangnya.
 
Lanjutnya, menghadapi tantangan bonus demografi ini Pemprov Jatim fokus dalam pengembangan sumber daya manusia/SDM pada RKPD tahun 2019. Hal ini penting dilakukan karena pembangunan SDM diyakini bisa menjadi pengungkit pertumbuhan inklusi dan kunci dalam pemerataan kesejahteraan. “Strategi lepas dari middle income trap ini yaitu dengan pembangunan manusia yang berdaya saing khususnya bidang pendidikan dan kesehatan,” tukas Pakde Karwo.
 
Di bidang pendidikan, Pemprov Jatim telah melakukan moratorium jumlah SMU dan SMK. Bahkan, saat ini telah diterapkan program dual track strategy untukmeningkatkankualitas SDM yang berdaya saing.Langkah/trackyang pertama yakni memperbaiki kualitas pendidikan formal, seperti menambahkan kurikulum di SMA, dengan menyisipkan pendidikan vokasional. “Kami juga melakukan link and match antara SMK denganindustridanPT, filial SMK-PTN, partnership SMK denganluarnegeri, SMK pengampu, ekstrakurikuler di MA, dan peningkatan sarana prasarana SMK,” urainya.
 
Track kedua, yakni melalui penerapan pendidikan vokasional ke sektor informal, seperti pembenahan Balai Latihan Kerja (BLK) berstandar internasional, sekaligus memperkuat SMK Mini melalui kerjasama dengan Jerman, dan Bosda Madin. Pihaknya meyakini penerapan program ini bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Jatim. Saat jumlah lowongan tenaga kerja yang tersedia di Jatim sebanyak 400 ribu, sedangkan Pemprov Jatim hanya bisa menghasilkan 308 ribu tenaga kerja. “Kekurangan kebutuhan tenaga kerja ini harus bisa dipenuhi oleh kab/kota, sehingga lompatan pembangunan atau quantun menuju industri akan berhasil,” harapnya.
 
Pembangunan SDM di bidang kesehatan di tahun 2019, terang Pakde Karwo, dengan memaksimalkan program promotif pereventif khususnya pengurangan AKI, AKB, dan stunting. Beberapa langkah yang dilakukan yaitu memantau ibu hamil dan balita di posyandu/ponkesdes, akses air bersih dan fasilitas sanitasi khususnya desa rawan kekeringan. Selain itu juga dengan melengkapi sarana dan prasarana fasilitas layanan kesehatan, pemahaman kesehatan reproduksi, fertilitas dan KB pada anak sekolah, dan pemenuhan gizi untuk bumil. “Kebijakan kesehatan promotif preventif sangat bermanfaat untuk mengurangi belanja kesehatan yang kuratif,” imbuh Pakde Karwo.
 
Lebih lanjut disampaikan, prioritas pembangunan tahun 2019 juga dioptimalkan pada bidang pembangunan infrastruktur baik darat, laut, udara, maritim dan agro. Di bidang infrastruktur darat diantaranya dengan percepatan pembangunan jalan tol, peningkatan dan pemeliharaan jalan arteri, pembangunan pantai lintas selatan, dan percepatan pembangunan kereta api double track. Pembangunan infrastruktur laut mencakup pengembangan kapasitas pelabuhan di Pelabuhan Probolinggo, Pelabuhan Boom Banyuwangi, Pelabuhan Paciran, dan Pelabuhan Prigi. “Infrastruktur dasar yang kita kembangkan yakni penanganan desa rawan kekeringan, KPBU Spam Umbulan, dan renovasi RTLH,” ujarnya.
 
Terkait pembiayaan, Pakde Karwo menerangkan bahwa Jatim menerapkan dua inovasi yaitu fiscal engineering dan creative engineering. Pembiayaan fiscal engineering diterapkan melalui loan agreement Bank Jatim dengan Pemprov Jatim, rekonstruksi pembiayaan subsidi ke non subsidi, pembentukan Badan Layanan Umum Daerah/BLUD, serta pendirian badan usaha yang bergerak di bidang Pedagang Besar Farmasi/PBF dan Pedagang Besar Alat Kesehatan/PBAK. Sedangkan pembiayaan creative engineering diterapkan pada pinjaman bank dan non bank, obligasi daerah, dan memperbanyak model Public Private Partnership (PPP).
 
Sementara itu, istri Gubernur Jatim Dr H Soekarwo, Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si atau yang akrab disapa Bude Karwo mendapatkan penghargaan dari 31 organisasi wanita dan organisasi kemasyarakatan. Penghargaan tersebut diberikan  sebagai bentuk ungkapan cinta kasih masyarakat Jawa Timur. Bude Karwo yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) selalu mendedikasikan dirinya bagi keluarga dan masyarakat.
 
Ke-31 organisasi wanita dan kemasyarakatan tersebut di antaranya Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Ikatan Istri Pegawai OJK, Himpunan Ratna Busana, Ikatan Istri Pimpinan BUMN Jatim, IWAPI Jatim, dan Asosisai Perajin Batik Jawa Timur. Penghargaan ini diberikan kepada Bude Karwo saat acara pembukaan Kartini’s Day “Perempuan dan Karya” di Atrium Mall Grand City Surabaya, Rabu (18/4).
 
Dalam sambutannya usai meraih penghargaan, Bude Karwo menyampaikan terimakasih kepada masyarakat Jawa Timur yang dinilainya sangat luar biasa dan memiliki semangat juang yang tinggi. Selain itu, selama hampir sepuluh tahun masyarakat Jatim sangat kooperatif untuk diajak maju. “Terimakasih banyak atas penghargaan luar biasa ini. Berkat bapak ibu semua Provinsi Jatim dinobatkan sebagai pemerintah terbaik dalam penilaian se-Indonesia baik dari sisi pemerintahan maupun pertumbuhan ekonominya. Mas Karwo hadir pada saat dan masyarakat yang tepat,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
 
Bude Karwo mengatakan, apa yang selama ini dilakukannya sebagai bentuk  tanggungjawab moral dan konseskuensi logis sebagai istri kepala daerah yakni Gubernur Jatim. Untuk itu, ia memiliki tanggungjawab untuk berkiprah dan terjun langsung ke masyarakat.
 
Menurutnya, apa yang telah ia lakukan selama ini bukan sekadar untuk mengejar penghargaan, melainkan bentuk tanggung jawabnya. Sehingga tidak hanya sekadar kegiatan populis, tapi ia juga turun ke lapangan hingga desa/kelurahan untuk mengecek langsung keadaan masyarakat termasuk soal gizi buruk. 
 
Tak hanya itu, Bude Karwo juga giat melakukan kegiatan untuk mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan (empowering) kaum perempuan. Tahun 2010, lanjutnya, sebelum pemerintah pusat menyatakan gerakan empowering kaum perempuan, Jatim telah lebih dulu melakukan hal ini. Ia juga terus mendorong peningkatan kesehatan dan pendidikan ke seluruh kab/kota di Jatim. “Kami harap di sisa kepemimpinan Mas Karwo akan berakhir dengan amanah,” harapnya.
 
Sementara itu, Ketua Himpunan Ratna Busana Jatim, Nuniek Silalahi mengatakan, penghargaan yang diberikan kepada Bude Karwo ini sebagai bentuk ungkapan rasa cinta dan terimakasih dari masyarakat kepada ibunya masyarakat Jatim.
 
Menurutnya, Bude Karwo sebagai pendamping Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo selama hampir 10 tahun ini, telah menggunakan sebagian besar waktunya untuk mengabdikan dirinya demi kesejahteraan masyarakat.  “Waktu pertama kali kami menyampaikan maksud ini, beliau sempat ragu-ragu dan bertanya apa dasarnya, kami jawab dasarnya adalah rasa cinta, tulus dari hati yang paling dalam,” katanya.
 
Menurutnya, banyak organisasi yang menyatakan dukungan terhadap pemberian penghargaan ini. Ia berharap, saat Pakde Karwo tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Jatim, Bude Karwo berkenan tetap bersama-sama dalam mengabdikan diri sebagai sarana dalam menyejahterakan masyarakat.  “Ibu (Bude Karwo) adalah Kartini masa kini, apa yang ibu lakukan merupakan perwujudan dari cita-cita Kartini. Ibu selalu ada di hati kami,” katanya.
 
Dalam acara pembukaan ini, diisi peragaan busana bertajuk ‘Perempuan Kebaya dan Batik’ dan penampilan 21 wanita yang melukis bersama-sama. Acara yang berlangsung dari tanggal 18-22 April ini diramaikan dengan berbagai lomba, talkshow serta stand pameran yang terdiri dari fashion, furniture, aksesoris, serta berbagai stand kuliner khas Jatim seperti rawon dan pecel. 
 
Turut hadir dalam acara ini Wakil Ketua II Dekranasda Jatim yang juga istri Ketua DPRD Provinsi Jatim, Dra. Hj. Lilik Abdul Halim Iskandar, Ketua Persit Chandra Kirana Pengurus Daerah V Brawijatya, Ibu Mia Arif Rahman, Ketua Jalasenastri, Ibu Retno Didik Setiyono, Ketua Dharma Wanita Persatuan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Hj. Chairani Yuliati Akhmad Sukardi, S.Sos, serta ibu-ibu dari berbagai organisasi wanita yang ada di Jatim. (adv/era)
 
 



Berita Terkait