Berita Metro

Rabu, 02 Mei 2018  20:54

Opinium: Unggah, Uji, dan Ungkap

Opinium: Unggah, Uji, dan Ungkap
Serah Terima: Gubernur Jatim Soekarwo.(kanan) bersama Inisiator Opinium M. Hasanudin (tengah) dan Noe Letto (kiri).
SURABAYA (BM) – Berangkat dari asumsi bahwa masyarakat Indonesia masih mau berbuat baik, sejumlah pemuda di Jatim yang bernaung di Yayasan Pawiyatan Suluh Nagari membuat aplikasi penguji informasi hoax bernama opinium. Namun, aplikasi ini bukan mesin pembuat keputusan, melainkan sebagai wahana penguji oleh komunitas di dalam opinium. Aplikasi tersebut sudah bisa diunduh di Google playstore.

Peluncuran aplikasi disela acara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Jatim yang diselenggarakan di Gedung Negara Grahadi, Rabu (2/5). Gubernur Jatim Soekarwo pun menyambut baik keberadaan aplikasi tersebut. “Opinium merupakan inisiatif anak-anak muda Jatim dengan rasa nasionalisme baru yang memikirkan keselamatan generasi dari berbagai predator informasi, yakni hoax,” katanya.

Pakde Karwo, sapaan akrab gubernur, menjelaskan, hampir bersamaan dengan adanya pesta demokrasi, aplikasi ini membantu pemilih untuk rasional dan mendapat informasi yang benar. “Ini aplikasi luar biasa, bayangkan bagaiman berita difilter kemudian ada di database dan dipisahkan. Yang belum ada data resminya nanti di-searching,” terangnya.

Dia mengapresiasi diserahkannya aplikasi opinium kepada Pemprov Jatim. Ke depan, aplikasi ini akan diserahkan kepada Menteri Komunikasi dan Informatika agar dapat digunakan secara nasional. “Kami sudah melakukan pertemuan dengan akademisi, tugas kami pemerintah mengajak dan mendorong. Ini sumbangan yang luar biasa,” tegasnya.

Inisiator Opinium, M Hasanudin mengatakan, aplikasi ini untuk menguji hoax, bukan mesin pembuat keputusan. Komunitas di dalamnya memunyai tagline unggah, uji, dan ungkap. Jadi, setiap orang mengunggah informasi yang ingin diketahuinya atau yang sudah diketahuinya, kemudian informasi tersebut diujikan kepada komunitas di opinium. “Dari situ, si pengguna yang akan memutuskan sendiri,” katanya.

Dia menjelaskan, proses pengujiannya berdasar interaksi komunitas yang tergabung di dalam opinium. Setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. Tetapi, bukan one man one vote, karena setiap pendapat di dalam opinium itu memunyai bobot yang berbeda. Bobot ini ditentukan reputasi si pemberi vote. “Nah, bobot ini yang akan menentukan nilai persentase pada informasi yang diujikan itu,” ujarnya.

Perlu diketahui, lanjut dia, informasi yang bisa diunggah ke opinium bukan hanya url atau sumber dari internet yang memunyai alamat, tapi bisa juga dari pesan broadcast WhatsApp, Line, Telegram, foto, serta video.

Penasehat Opinium Sabrang Mowo Damar Panuluh mengungkapkan, setiap postingan di opinium mengandung topik. Reputasi users akan sebuah topik dibangun setelah mampu memberikan kontribusi. “Karena kamu dapat reputasinya bukan dari merespons, tapi dari responsmu yang direspons orang lain. Orang lain yang merasa dapat manfaat dari respons tadi,” kata pria yang akrab disapa Noe Letto ini.

Noe mengaku, di opinium reputasi dirinya tinggi di topik agama, setelah itu politik, dan internasional. “Jadi nanti kalau vote urusan agama, bobotku akan lebih berat dibanding orang yang tidak punya bobot di urusan agama,” tegasnya. Hal ini, lanjut dia, untuk menghadapi akun anonim dan buzzer. “Misalkan di sini kamu punya akun 100 dengan vote truth terus, bobotnya bisa tetap kecil karena kamu belum membangun reputasi,” tuturnya.

Sebagai sebuah aplikasi, pihaknya tetap meminta adanya timbal balik atau feedback dari pengguna opinium. “Misalkan ada masukan bagusnya begini. Kemudian ada crash di aplikasi, silakan beri masukan. Karena ini akan terus berkembang,” tandasnya. (sdp)



Berita Terkait