Berita Metro

Selasa, 09 Januari 2018  23:00

Longsor 6 Titik di Trenggalek Rusak 8 Rumah Warga

Longsor 6 Titik di Trenggalek Rusak 8 Rumah Warga
TRENGGALEK (BM) -  Bencana tanah longsor kembali terjadi di Trengalek. Kali ini, terjadi secara sporadis di enam titik. Delapan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan, mulai ringan hingga berat. 
 
Kabag Protokol dan Rumah Tangga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, Triadi Atmono mengatakan, enam lokasi longsor berada di Desa Prambon di Kecamatan Tugu, Desa Puyung di Kecamatan Pule, Desa Gamping di Kecamatan Suruh, Desa Sumberdari di Kecamatan Trenggalek, serta Desa Sumurup dan Desa Masaran di Kecamatan Bendungan. 
 
"Kejadian longsor dipicu tingginya intensitas hujan yang terjadi di hampir seluruh wilayah Trenggalek. Longsor terjadi setelah hujan reda," kata Triadi kepada wartawan, Selasa (9/1).
 
Kerusakan akibat bencana tanah longsor tesebut bervariasi, mulai dari rusak ringan hingga berat. Salah satu titik longsor relatif parah terjadi di rumah milik Sumani dan Kateni di Desa Masaran Kecamatan Bendungan. Rumah milik Sumani kondisinya nyaris roboh akibat terjangan material longsor, sedangkan milik Kateni dinding rumahnya mengalami jebol.
 
"Di Desa Gamping juga hampir sama, itu menimpa rumah milik Misni dan Sutrisno. Rumahnya ini non permanen dan kondisinya miring, sehingga tadi dilakukan pembongkaran secara gotong-royong, karena berbahaya kalau tidak dibongkar," ujarnya. 
 
Triadi menjelaskan, terkait kejadian tanah longsor tersebut sejumlah personel gabungan dari TNI, Polisi, BPBD dan warga bergotong-royong untuk membantu membersihkan material longsor yang menimpa bangunan milik warga. 
 
"Jadi kalau dilihat dari beberapa lokasi, rumah warga ini memang rata-rata berada di dekat tebing. Ketinggian tebingnya bermacam-macam ada yang tiga meter ada juga yang sampai 15 meter, sehingga cukup rawan" jelas Triadi. 
 
Pihaknya mengimbau seluruh masyarakat Trenggalek yang tinggal di wilayah pegunungan dan dekat dengan tebing untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat dalam dalam beberapa hari terakhir intensitas curah hujan di wilayah Trenggalek cukup tinggi. 
 
Hujan deras yang mengguyur wilayah Trenggalek juga membuat sejumlah sungai yang melintas di dalam kota meluap. Akibatnya, lima desa di dua kecamatan terendam banjir. Kelima desa itu adalah Karangsoko, Kelutan, Tamanan, Sambirejo, Kecamatan Trenggalek serta Sumberingin dan Salamrejo, Kecamatan Karangan.
 
Ketinggian air di perkampungan setinggi lebih 1 meter, sementara banjir sempat menggenangi ruas jalan nasional Trenggalek-Tulungagung, sehingga arus lalu lintas terpaksa dialihkan melalui jalur lain. Tim SAR gabungan melakukan evakuasi para lansia dan anak-anak, karena ketinggian air di perkampungan mencapai lebih dari satu meter.
 
Koordinator Pos Basarnas Trenggalek, Asnawi Suroso mengatakan, langkah evakuasi dilakukan terhadap warga di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek sekitar pukul 22.00 WIB. "Evakuasi kami lakukan pada lansia, kemudian anak dan ibu-ibu yang baru melahirkan, karena setelah jam sembilan itu air terus naik, " kata Asnawi di lokasi.
 
Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak memastikan, saat ini seluruh tim terkait bencana alam telah bergerak melakukan pendataan dan langkah tindak lanjut. Menurutnya, bencana banjir yang terjadi di Trenggalek diakibatkan tingginya intensitas curah hujan di kawasan hulu serta perkotaan. Sehingga sungai yang ada tidak mampu menampung debit air. 
 
"Trenggalek itu ada tiga hulu, ada di Kecamatan Bendungan, Tugu dan Kecamatan Kampak, kalau dua hari saja terjadi hujan deras maka sungai tidak mampu menampung dan meluap," katanya. 
Sementara itu, banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Situbondo, menyebabkan mesin penyedot air serta pipa saluran air bersih rusak dan mengakibatkan warga di lima desa kesulitan air bersih.
 
"Pipa saluran air bersih di lima desa Kecamatan Sumbermalang rusak total akibat banjir bandang dan tanah longsor pada Minggu (7/1) sore. Saat ini banyak warga kebingunan mendapatkan air bersih," kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Situbondo, Joko Purwono.
 
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, lanjut dia, sebagian warga di lima desa yang menggantungkan pipa saluran air bersih tersebut menggunakan air sungai yang sudah kotor dan sebagian warga mengambil air bersih di desa tetangga yang bukan terdampak bencana alam.
 
Oleh katrena itu, katanya, politikus PPP itu meminta pemerintah kabupaten untuk segera memperbaiki saluran pipa air bersih, mengingat air bersih menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk minum, memasak dan mandi.
 
Lima desa yang saat ini kesulitan mendapatkan air bersih di antaranya,  Desa Baderan, Desa Taman Kursi, Desa Kelirejo, Sumberargo dan Taman Sari, Kecamatan Sumbermalang. (nt/det/udi)
 



Berita Terkait