Berita Metro

Kamis, 29 Maret 2018  15:46

Kurikulum LKP Menyesuaikan Kebutuhan

Kurikulum LKP Menyesuaikan Kebutuhan
Dilantik: Proses pelantikan DPD dan DPC FPLKP Jatim periode 2018-2023.
SURABAYA (BM) – Sebagai pendidikan non formal, lembaga kursus dan pelatihan (LKP) memiliki keluwesan dalam proses pembelajaran. LKP bisa menyambungkan lulusan kepada dunia usaha dan dunia industri (DUDI) serta memberi penambahan ilmu agar lulusan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan DUDI.

Ketua Forum Pengelola LKP (FPLKP) Jatim Nun Jamianto mengatakan, saat ini semua serba digital. Para pengelola LKP diminta memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangan bisnis. Bila pengelolaan masih sama, LKP akan ketinggalan zaman. Belum lagi perubahan pendidikan dan DUDI terus berkejar-kejaran dengan perkembangan teknologi. “LKP harus berani berimprovisasi,” kata Nun disela Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus DPD dan DPC FPLKP Jatim periode 2018-2023, Kamis (29/3).

Dia menjelaskan, keberadaan FPLKP Jatim bisa dijadikan ajang diskusi dalam menghadapi perubahan yang ada. Misalnya berdiskusi tentang penyusunan kurikulum yang sesuai dengan industri dan metode mengajar serta pengajaran yang mudah diterima oleh peserta kursus. Semua itu dilakukan bertujuan lulusan LKP benar-benar cocok dengan kepentingan DUDI atau berani membuka usaha baru.

Nun menjelaskan, lulusan sekolah formal selama ini sudah banyak dilatih sekolah. Tetapi, dari sisi soft skil masih kurang. Mentalnya juga lemah. “Hari ini ditegur oleh pimpinan, besoknya sudah mengundurkan diri. Kalau bekerja harus diawasi, kalau tidak diawasi tidak bekerja,” ungkapnya. Maka, kata dia, FPLKP jadi ajang diskusi untuk menjawab itu semua. “LKP bisa membantu lulusan SMK, sarjana, Poltek, menyambung dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Dia mengatakan, kurikulum LKP didesain secara fleksibel. Berbeda dengan pendidikan formal yang tidak bisa diubah di tengah jalannya pembelajaran. “LKP tidak terlalu diikat dengan peraturan atau bisa diganti sewaktu-waktu di tengah jalan untuk menyesuaikan kebutuhan,” kata pria yang juga Direktur LKP Inzaghi Gigantara Surabaya ini.

Ketua Pembina FPLKP Jatim Harun menambahkan, LKP memiliki potensi yang cukup luas dibandingan pendidikan formal. Salah satu potensi itu mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten serta memiliki sinergi dengan DUDI. “Keberadaan FPLKP ini sangat positif. Banyak potensi yang bisa dimaksimalkan,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Harun, dari 38 kabupaten/kota se Jatim sudah berdiri forum LKP di 30 kabupaten/kota. Dengan menjalin sinergi banyak pihak, baik pemerintah maupun swasta, LKP berpotensi menciptakan lapangan kerja dan memperbanyak unit usaha. “Jatim potensinya cukup bagus,” ungkap mantan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim ini.

Direktur Utama Caraka Paramita menyatakan, tantangan dan peluang bisnis bagi LKP ada tiga. Pertama menyiapkan kecakapan hidup (life skill) yang meliputi etos kerja, interpersonal skil, seni komunikasi, hingga penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. “Itu masih minim di generasi milenial saat ini,” katanya.

Potensi kedua adalah menyiapkan pengetahuan bisnis. Ketiga ialah menyiapkan lapangan kerja baru seiring pergeseran dunia teknologi. “Kita masuk revolusi industri 4.0, itu dengan automasi, artifisial intelegen, big data analitik, sehingga akan banyak bidang digital yang menjadi pekerjaan baru yang perlu digali,” pungkasnya. (sdp)



Berita Terkait