Berita Metro

Rabu, 03 Januari 2018  17:49

Disdik Jatim Beber Hasil Investigasi Kasus Penahanan Ijazah

Disdik Jatim Beber Hasil Investigasi Kasus Penahanan Ijazah
Kasek SMAN 3 Lamongan Wiyono dan Plt Kacab Disdik Jatim Wilayah Lamongan Puji Astutik memberi keterangan pers.

Seorang siswa SMA di Lamongan dikabarkan mengirim surat ke Basuki T Purnama atau Ahok karena ijazahnya ditahan pihak sekolah lantaran menunggak biaya. Siswa tersebut meminta bantuan ke Ahok untuk menebus ijazahnya.  Berita tersebut telah viral di media sosial, dan menjadi perhatian banyak pihak.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur, Saiful Rachman, mengirim tim investigasi, dan telah membeberkan ke publik. 

Dalam klarifikasinya, Disdik Jatim menulis sebuah surat keterangan yang memuat 8 poin tetang kronologi kasus yang viral itu.

Disdik membenarkan siswa yang berinisial FM (siswi yang dianggap surati Ahok) adalah siswa SMAN 3 Lamongan yang lulus tahun 2017. Siswa itu bukan pelajar SMAN 30 Lamongan seperti yang disinggung beberapa pihak.

Menurut Disdik, FM tidak pernah mendatangi sekolah untuk cap tiga jari dan pengambilan ijazah sejak kelulusannya pada Mei 2017.

FM baru mendatangi sekolah pada 28 Desember 2017, sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu FM diketahui datang bersama seorang perempuan yang mengaku sebagai wali murid. Adapun maksud dan tujuan kedatangan FM adalah meminta nomor rekening sekolah dan rincian tunggakan sekolah.

Saat itu, kepala sekolah yang bernama Wiyono mempersilakan keduanya untuk menghadap. Perempuan tersebut mengatakan bahwa "FM menang lomba menulis puisi Ahok" tanpa menyebut bila FM berkirim surat ke Ahok.

Wiyono kemudian menanyakan untuk apa meminta nomor rekening sekolah. Perempuan tersebut menjawab bahwa nomor rekening tersebut digunakan untuk menerima hadiah lomba puisi Ahok. Menurutnya, hadiah tersebut akan digunakan untuk mengambil ijazah dan membayar tunggakan ke sekolah. Saat percakapan terjadi, perempuan tersebut menyodorkan HP kepada Wiyono, namun kepala sekolah itu menolak membacanya. Menurutnya, percakapan itu tak ada kaitannya dengan pengambilan ijazah.

Wiyono kemudian mengatakan, untuk mengambil ijazah langsung ke Tata Usaha tanpa ada biaya dan tidak perlu meminta nomor rekening sekolah. Wiyono kemudian mengantar FM ke TU untuk mengambil ijazah. Saat itu, FM baru membubuhkan cap 3 jari di ijazahnya. Selanjutnya, FM pulang membawa ijazahnya tanpa dibebani biaya sepeserpun.

Sebelum meninggalkan sekolah, Wiyono berpesan kepada FM bila ia menerima hadiah, sebaiknya digunakan modal usaha atau untuk melanjutkan pendidikan.

Disdik Jatim juga menyebut kepala sekolah Wiyono tidak pernah menjalin komunikasi dengan Natanael Ompusunggu sebagaimana yang diberitakan beberapa media.

Berdasarkan klarifikasi tersebut, Disdik Jatim menyimpulkan tidak benar SMAN 3 Lamongan menahan ijazah siswanya yang berinisial FM.

FM sendiri disebutkan memang memiliki tunggakan biaya sekolah sebesar 2 juta rupiah. Tapi, pihak sekolah dari awal menerapkan peraturan setelah siswa sekolah lulus semua biaya tunggakan dinyatakan lunas.

Oleh sebab itu, munculnya pengakuan ijazah tersebut diberikan atas bantuan Ahok dan orang dekatnya, adalah hal yang tidak benar.

 

Membantah

Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Lamongan membantah pihaknya telah menahan Ijazah milik Fadilah Maretta yang lulus dari SMAN 3 tersebut pada tahun 2017 lalu.

“Ijazah tersebut sebelumnya belum diambil, dan kami tidak melakukan penahanan. Dan syarat pengambilanya harus dilakukan oleh pemiliknya sendiri karena harus dilakukan cap 3 jari” kata  Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Lamongan Wiyono pada sejumlah awak media saat di kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Lamongan, kemarin.

Menurutnya, saat ini masih  ada sebanyak 10  Ijazah yang belum diambil oleh pemiliknya, setelah  milik Fadilah Maretta diserahkan.

"Siswa yang belum ambil sebelumnya sebanyak 11, termasuk milik Fadilah Maretta. Tapi kan anaknya harus cap tiga jari, jadi enggak bisa diwakilkan. Harus anaknya langsung yang datang, akan saya berikan," ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Plt  Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Lamongan, Puji Astutik yakni tidak ada penahanan Ijazah di SMAN 3 Lamongan.

"Ada banyak hal yang menyebabkan seorang siswa belum mengambil ijazahnya dan sebenarnya bisa diambil setiap saat, asalkan diambil oleh siswa yang bersangkutan karena ada cap tiga jari yang harus dijalani oleh siswa tersebut," kata Puji yang menegaskan kalau mengambil ijazah pun tidak ada penarikan apapun atau tanpa biaya.

Khusus terkait Fadilah Maretta, dikatakan oleh Puji, panggilan Puji Astutik , pada 28 Desember lalu, siswa atas nama Fadila Maretta datang ke sekolah SMAN 3 Lamongan untuk mengambil ijazah karena telah memenangkan lomba menulis puisi Ahok dan ditemui oleh kepala sekolah SMAN 3 Lamongan. Dan Karena yang datang siswa itu sendiri, kata Puji, maka ijazah tersebut pun langsung diberikan ke yang bersangkutan karena yang dibutuhkan adalah cap 3 jarinya.

"Kalau soal apakah yang bersangkutan berkirim surat ke Pak Ahok atau tidak, kami sendiri tidak tahu," terang Puji.

Puji juga menuturkan, pada saat datang ke sekolah yang bersangkutan meminta ijazah. Pertemuan dengan kepsek, lanjut Puji, juga berlangsung hanya sekitar 15 menit karena ijazahnya langsung diberikan.

"Meskipun nunggak pun,  ijazah akan kami berikan karena ini berhubungan dengan hak siswa," ujarnya. (kom/tit)




Berita Terkait