Berita Metro

Kamis, 19 April 2018  21:30

Asri dan Ike Jadi Perempuan Satu-satunya di Kelas

Asri dan Ike Jadi Perempuan Satu-satunya di Kelas
Profesi dalang dalam pagelaran wayang lekat dengan sosok laki-laki. Hal itu dapat dijumpai di setiap pertunjukan wayang. Di tengah impitan tradisi itu, muncul para perempuan yang menempuh pendidikan formal demi menjadi dalang profesional.

Oleh: Suluh Dwi Priambudi

Berasal dari Dusun Gebangkerep, Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Asrining Kusuma Anindya Kharisma merelakan diri jauh dari keluarga untuk menempuh program keahlian Seni Pedalangan di SMKN 12 Surabaya. Selama bersekolah, dia indekos di Jl. Siwalankerto Selatan, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, tak jauh dari lokasi sekolah.

Asri, begitu dia biasa disapa, merupakan siswa kelas XII. Dia satu-satunya peserta didik perempuan dari tujuh (7) siswa di program keahlian Seni Pedalangan. Anak pertama dari dua bersaudara ini semula ingin mengambil Seni Tari. Darah tari mengalir ke Asri dari sosok ibunya. “Ibu saya guru tari di SMPN 2 Tarokan, Kediri. Dulu juga kuliah tari di Unesa. Kalau bapak kerja di kantor kecamatan,” kata remaja kelahiran Kediri, 10 Juli 1999 ini.

Musibah yang membuat Asri akhirnya memilih Seni Pedalangan. Dia menceritakan, saat usia 14 tahun atau kelas 2 SMP pernah jatuh dari sepeda motor. Waktu itu ayahnya menuntun sepeda motor dengan dirinya duduk di boncengan. Karena Asri mengantuk, tanpa sadar terjatuh dari sepeda motor. Oleh sebab itu, tangan kanannya patah. “Operasi dengan 26 jahitan luar dan dalam,” ujar lulusan SMPN 2 Tarokan, Kediri, ini.

Gerakan tari yang membutuhkan olah tubuh membuat tangan Asri tidak nyaman. Berbekal pengetahuan dari kakak kelas waktu SMP bahwa seni bukan hanya tari, akhirnya memilih program keahlian Seni Pedalangan. Apalagi, kata Asri, dalang perempuan sudah jarang ditemui. Kalaupun ada usianya sudah sepuh (tua). “Ingin mencari keunikan sendiri. Dalang perempuan juga jarang,” tuturnya.

Asri mengaku belajar pedalangan mulai dari nol, yakni saat masuk SMKN 12 Surabaya. “Karena saya masuk pedalangan benar-benar tidak tahu tentang pedalangan tersebut,” kata putri pasangan Sungkono dan Anjar Siswanti ini. Materi-materi pembelajaran yang cukup berat jadi kesulitan tersendiri. Asri mencontohkan materi berat itu seperti pembelajaran tentang gerak wayang, ginem atau dialog, hingga penokohan sebuah cerita. Untuk mengatasi kesulitan itu, jika ada waktu luang Asri belajar bersama teman-teman di sekolah.

Apakah tangan kanannya masih sakit saat memainkan wayang? “Ndak sakit. Ada tekniknya. Memainkan wayang lebih banyak menggerakan pergelangan tangan. Mungkin itu yang membuat tidak sakit dibanding saat menari,” tegas Asri yang mengagumi dalang Ki Sukron Suwondo. Selama proses pembelajaran di SMKN 12, dia pun lebih condong ke gaya wayang Surakarta dibanding Jawa Timuran.

Proses pembelajaran yang dijalani Asri di SMKN 12 mengantarkannya ke penampilan panggung perdana. Itu terjadi 24 Maret lalu saat menjadi dalang pembuka dalam pegelaran wayang kulit memperingati Hari Jadi Kabupaten Kediri. Dalang utama saat itu adalah Ki Didik Wibisono dari Desa Cerme, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. “Tampilnya selama satu jam. Saya mengambil lakon Gandamana Luweng,” ungkapnya.

Penampilan perdana itu pun disaksikan langsung kedua orang tua. Menurut Asri, orang tuanya merasa bangga dan akan terus mendukung keinginan Asri menjadi seorang dalang perempuan. “Saya bisa tampil di Hari Jadi Kediri karena rekomendasi beberapa dalang asal Kediri. Dalang itu sebelumnya sempat saya pilih sebagai pembimbing untuk ujian kompetensi keahlian (UKK),” ujarnya.

Selepas lulus dari SMKN 12 Surabaya, Asri berkeinginan melanjutkan studi ke Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dia memantapkan diri mengambil program keahlian Seni Pedalangan di ISI untuk meniti asa menjadi dalang profesional. “Kalau dalang laki-laki ada kata Ki di depannya. Kalau perempuan Nyi, tetap dengan nama saya asli. Nyi Asri,” tutupnya sambil menyebut nama panggung ketika mendalang.  

Perjuangan serupa dilakukan Ike Nur Kumalasari. Siswa yang kini duduk di kelas XI program keahlian Seni Pedalangan di SMKN 12 Surabaya ini merintis karier jadi dalang profesional melalui pendidikan formal. Dari 7 peserta didik di kelasnya, Ike, sapaan akrabnya, menjadi satu-satunya perempuan.
Ike mengaku mengenal seni pedalangan mulai kelas IV SD. “Tapi saat itu hanya sekadar tahu saja karena dulu belajar di sanggar untuk belajar vokal, bukan dalang,” kata putri dari pasangan Sriyono dan Kani ini.

Ketika kelas VII SMP, lanjut dia, baru mulai belajar dalang di sanggar karena disuruh orang tua. Kebetulan, sanggar tersebut adalah milik ayahnya sendiri. Sanggar tersebut berada di tempat tinggalnya, Dusun Jombangan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. “Sanggar itu milik ayah saya sendiri. Di situ mengajari pedalangan, karawitan, tari, dan lukis. Kalau pembelajaran dalang di sanggar, ayah minta bantuan seniman daerah seperti Ki Purnawan,” ujar Ike.

Dengan bekal pembelajaran di sanggar, selepas SMP Ike melanjutkan pendidikan ke SMKN 12 Surabaya mengambil program keahlian Seni Pedalangan. Dia menjelaskan, di sanggar itu lebih banyak pembelajaran praktik. Tapi di sekolah mendapat keduanya, praktik dan teori-teori lebih rinci lagi tentang pedalangan.

Sejak SMP hingga SMK sekarang ini, Ike mengaku sudah tampil sebagai dalang sekitar 40 kali. Tidak semuanya semalam suntuk, ada juga pagelaran wayang kulit siang hari. Berbagai kompetisi juga pernah diikuti. Bahkan beberapa penghargaan sempat direngkuhnya. Seperti meraih penyaji terbaik nonrangking se-Jatim dalam Festival Dalang Bocah 2013, penyaji terbaik nonrangking tingkat nasional dalam Festival Dalang Bocah 2014, serta peraih kategori penata sajian terbaik dalam Festival Dalang Bocah tingkat provinsi tahun 2016.

“Buat saya, pengalaman mengesankan itu setiap proses latihan. Apalagi kalau persiapan buat lomba. Dan yang paling mengesankan itu waktu SMP ketika awal-awal ikut lomba dalang,” kata  remaja kelahiran 21 September 2001 ini, ketika ditanya mengenai pengalaman yang paling mengesankan.

Saat awal-awal itu, lanjut dia, latihannya siang sampai malam sepulang sekolah. Tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. “Jadi, brangkat dari rumah pukul 06.15 WIB dan pulang pukul 23.00. Begitu terus selama satu bulan,” imbuhnya.

Ketika ditanya alasan memilih profesi dalang, Ike tegas menjawab untuk melestarikan kesenian tradisional di tengah arus globalisasi. Apalagi, saat ini lebih banyak generasi muda yang menggandrungi budaya luar dan lupa jati diri bangsa. “Saya sendiri tertarik dunia pedalangan karena dunia pewayangan mengandung filosofi kehidupan. Dalang perempuan juga jarang di Indonesia,” tegasnya.

Kepala Jurusan Seni Pedalangan SMKN 12 Surabaya Harnowo mengatakan, jumlah siswa pada  program keahlian Seni Pedalangan sebanyak 28. Rinciannya, kelas X diisi 14 siswa, kelas XI ada 7 siswa, dan kelas XII ada 7 siswa. Dari jumlah itu, mayoritas adalah siswa lak-laki. “Yang perempuan hanya Asri dan Ike,” terangnya.

Dia menyatakan, proses pembelajaran kepada siswa laki-laki dan perempuan hampir sama. Materi yang diajarkan, antara lain teknik getak wayang, vokal pedalangan, praktik mendalang, iringan pedalangan, lakon, pengetahuan pedalangan, serta tata teknik pentas. Namun, kalau ada yang masih lemah dalam penguasaan materi, guru akan memberi stimulus untuk lebih giat berlatih.

“Stimulus itu berupa latihan tambahan. Waktu istirahat dan mereka menganggur, saya suruh latihan dan saya tunggu sama teman-teman sekelas. Kalau pulang sekolah juga belajar mandiri. Kadang-kadang saya tunggui,” pungkasnya. (*)




Berita Terkait