Berita Metro

Kamis, 11 Januari 2018  23:24

Angka Kecelakaan Meningkat, Kadisnaker Ingatkan Perlunya K3

Angka Kecelakaan Meningkat, Kadisnaker Ingatkan Perlunya K3
SURABAYA (BM) – Bekerja memang ladang ibadah. Tapi ada baiknya, pekerja dan perusahaan sama-sama peduli akan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Karena itulah K3 Nasional (k3N) digelar agar masyarakat semakin peduli dengan K3. 
 
“Tanggal 12 Januari hingga 12 Februari adalah bulan K3 Nasional. Dan upacara bulan K3N dipusatkan di Jawa Timur,” terang Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans)Provinsi Jawa Timur Setiajit, SH, MM dalam Konfrensi Pers yang di gelar di kantor Disnakertrans  Provinsi Jawa Timur Jl Dukuh Menanggal Surabaya, Kamis (11/1). 
 
Lanjut Setiajit, angka kecelakaan kerja meningkat. Karena itulah harus dibudidayakan K3 yaitu dengan rutin melakukan pemeriksaan dan pengawasan. “Di Jawa Timur untuk kecelakaan kerja di tempat kerja, total 2017 14.552 kasus, yang cacat 768 kasus misalnya kaki patah, lengan patah, bibir sumbing.  Sedangkan yang masih dalam proses pengobatan 3.329 kasus, meninggal dunia 101 kasus dan sembuh 10.354 kasus,” katanya.
 
Sementara itu, untuk Laka lantas (kecelakaan kerja tapi di lalu lintas) pulang kerja atau berangkat kerja terdapat  5.324 kasus. Kecelakaan kerja di luar perusahaan jumlah 1.755 kasus (cacat 87 kasus, pengobatan 648 kasus, meninggal 48 kasus dab sembuh 972 kasus). 
 
“Maka total angka kecelakaan kerja di Jawa Timur 21.631 kasus.  Jumlahnya cukup tinggi, kecelakaan kerja sudah darurat untuk Jawa Timur.  Menurut saya, kenapa kasus kecelakan kerja tinggi? Karena sebagian besar disebabkan human eror atau kelalaian pekerja. Tapi tentu perusahaan harus memberi standar operation prosedur yang jelas karena itu penting sekali,” ungkap Setiajit. 
 
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Binwasnaker dan K3) Budi Hartawan mengatakan untuk mengkampenyekan  seluruh perusahaan untuk terus melakukan K3, karena K3 menjadi nafas dari setiap kegiatan perusahaan karena setiap apapun aktifitas yang dilakukan perusahaan berkaitan dengan K3. 
 
“Contoh kecil, lampu karyawan harus diperhatikan. Karena kalau kurang terang bisa menyebabkan mata sakit. Yang simple seperti itu. Atau mungkin masuk ruang kerja, harus dihitung debu-debunya karena itu bisa menganggu kesehatan karyawan kerja,” jelas Budi. 
 
Imbuhnya, belum lagi karyawan terpapar bahan kimia atau asbes misalnya, jadi banyak hal yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk membuat kerja karyawan sehat dan selamat. Nah ini perlu dikampanyekan. Kalau tidak melaksanakan K3 akan menjadi masalah.  “Bulan K3 dikampanyekan selama satu bulan, tapi bukan berarti setelah itu K3 tidak jalan. Tapi harus tetap jalan,” pesannya. 
 
Hadir pula dalam kesempatan tersebut yaitu Direktur Bina Penegakan Hukum Ketenagakerjaan Kementrian Ketenagakerjaan RI Brigjen Pol. Drs M Iswandi, SH, M.Si. Iswandi mengatakan bahwa Ketika kecelakaan melanda  maka ada korelasi dengan perekonomian keluarga. 
“Makanya itu kenapa penting digelorakan betul K3. Instrumen eror terbesar, datangnya dari diri karyawan sendiri. Dengan K3, kalau bisa dimaksimalkan maka ada produktifitas. Tapi ketika K3 tidak dijalankan maka akan menyebabkan tingkat kemiskinan,” terangnya. 
 
Selain itu, misalnya ada perusahaan yang tidak memberikan upah sebagaimana yang disyaratkan. Maka akan didatangi dan diberi nota dan diberi jangka waktu. Tapi jika tidak juga memberikan bayaran seperti UMR maka akan disidik dan diberi penegakan hukum. 
“Di beberapa negara maju, terdapat occupation safety and health management. Dan kalau dilakukan dengan baik maka menguntungkan kita semua,” katanya. (era/udi) 
 



Berita Terkait