Berita Metro

Senin, 08 Januari 2018  18:29

Demo Warga, Tolak Risma Maju Pilgub Jatim

Demo Warga, Tolak Risma Maju Pilgub Jatim
Beberapa warga Surabaya melakukan aksi demo menolak Tri Rismaharini maju di ajang Pemilihan Gubernur Jatim, Senin (8/1).

SURABAYA (BM) – Suhu politik menjelang Pilgub Jatim semakin memanas, sejak mundurnya Azwar Anas. Bukan saja elit politik yang geger, sejumlah warga Surabaya pun turut ‘memanaskan’ suasana, dengan cara mekakukan aksi demo menolak Tri Rismaharini dicalonkan ke ajang pemilihan Gubernur Jatim. Kali ini massa datang dengan jumlah yang lebih banyak dari demo yang dilakukan sebelumnya.

Pantauan di lokasi, warga datang dengan menggunakan beberapa kendaraan seperti angkot dan kendaraan pribadi. Mereka membentangkan spanduk beragam dukungan kepada Risma agar tetap memimpin Surabaya dan menyelesaikan tugasnya sampai akhir masa jabatan.

Mereka tampak menggunakan ikat kepala putih bertuliskan Save Risma. Mereka juga memberikan surat pernyataan sikap yang diterima oleh perwakilan dari Pemerintah Kota Surabaya.

"Jangan lagi Bu Risma diseret-seret ke politik Pilgub. Bu Risma biarlah di sini, menyelesaikan tugasnya sebagai Wali Kota," kata Cak Narto salah satu korlap.

Sekadar diketahui, sejak mundurnya Abdullah Azwar Anas dari Calon Wakil Gubernur Jatim Jumat lalu, ada desas-desus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan mengusung Risma menggantikan Anas.

Tapi, pada Sabtu (5/1/2017) kemarin Tri Rismaharini Walikota Surabaya menegaskan tidak tertarik dengan Pilgub Jatim. Dia juga memberi dukungan kepada Anas agar kuat menghadapi terpaan isu politik ini.

Wali Kota Tri Rismaharini bahkan kembali mengungkapkan kekesalannya kepada wartawan akibat terus ditanya soal Pilkada Jatim. Padahal sudah berkali-kali dia sampaikan akan tetap menjadi Wali Kota Surabaya hingga akhir masa jabatan.

"Kan saya sudah bilang saya tidak maju, masak tidak percaya omonganku," kata Risma seusai berkunjung ke Museum Nahdatul Ulama (NU) di Surabaya, Senin (8/1/2018).

Kata Risma, akan bahaya jika perkataan pemimpin seperti dirinya tidak konsisten dengan apa yang dilakukan. "Bisa bahaya kalau statmennya mencla-mencle (plin-plan) kasihan rakyatnya," ucap Risma.

Risma menegaskan, dirinya akan tetap memegang janjinya kepada warga Surabaya, yakni memimpin hingga akhir masa jabatan. "Saya sudah bilang sejak lama dan sudah diketahui Bu Megawati, saya tidak bisa," tegas Risma.

Nama Risma kembali mungemuka pasca munculnya kabar Abdullah Azwar Anas, cawagub pendamping Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengundurkan diri setelah diserang foto panas mirip dirinya belum lama ini.

Pesan Kyai

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf ( Gus Ipul) menyambangi kediaman Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, pada Senin (8/1/2018).

Kedatangan Gus Ipul adalah dalam rangka melaporkan perkembangan politik jelang Pilgub Jatim 2018.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul juga menyampaikan pesan dari para kyai dan ulama Jatim, utamanya dari warga Nahdliyyin.

"Tadi harapan para ulama saya sampaikan. Pertama, para ulama tetap dalam satu barisan. Kedua, berharap nasionalis-religius PDI-P dan PKB tetap bersama dalam Pilkada Jatim 2018," kata Gus Ipul kepada wartawan usai pertemuan dengan Megawati, Senin petang.

Saat ini Gus Ipul diusung sebagai calon gubernur oleh PDI-P dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Mulanya ia didampingi oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Namun, usai beredarnya foto-foto mirip dirinya di media sosial, Azwar Anas memutuskan untuk mengembalikan mandat yang diberikan oleh partai padanya.

"Kita terus terang tidak menyangka. Kalau ibarat jalan, saya sudah 30-40 persen dengan Mas Anas. Sudah jalan ini. Tetapi ada proses seperti ini, ya kita hormati, kita tunggu lah," ucap Gus Ipul.

Mengenai pengganti Azwar Anas, Gus Ipul juga menyampaikan bahwa pihaknya beserta para kyai dan ulama Jatim menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan Megawati.

"Kalau saya inginnya bisa saling melengkapi, memperkuat, dan meneruskan apa yang sudah direncanakan selama ini," pungkasnya.

 

Didekati Gerindra

Merespons dukungan yang diberikan oleh Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta Partai Amanat Nasional (PAN) kepadanya, Gus Ipul mengatakan dalam politik tidak ada yang tidak mungkin.

Saat ini dua partai pengusung Gus Ipul adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ditanya mengenai kemungkinan membuka kerja sama dengan Gerindra dan PKS, Gus Ipul terkesan diplomatis.

"Lho, politik itu kan tidak ada yang tidak mungkin. Tetapi tadi sudah disampaikan pesannya kyai dan ulama. (Jadi) Tunggu besok," kata Gus Ipul kepada wartawan usai bertemu dengan Megawati di kediamannya, Jakarta, Senin (8/1/2018).

Dalam pertemuan tersebut, Gus Ipul menyampaikan pesan dari kyai dan ulama dari kalangan Nahdliyyin kepada Megawati, bahwa mereka tetap bersatu untuk kubu nasionalis-religius.

Para kyai dan ulama ingin agar PKB dan PDI-P tetap bisa bekerja sama dalam Pilkada Jatim 2018.

"Tadi harapan para ulama saya sampaikan. Pertama, para ulama tetap dalam satu barisan. Kedua, berharap nasionalis-religius PDI-P dan PKB tetap bersama dalam Pilkada Jatim 2018," ucap Gus Ipul.

Ketika dikonfirmasi bahwa pesan kyai tersebut menjadi pegangan dalam menentukan pendampingnya, Gus Ipul menjelaskan pada prinsipnya yang ditekankan para kyai dan ulama bukan soal koalisi.

"Tetapi kerjasama. Kerja sama bisa dengan siapa saja. Tetapi memang ada keinginan, kerjasama yang sudah ada diteruskan, dan tentu membuka peluang kerjasama dengan partai lain," kata Gus Ipul.

Sebelumnya, tiga partai yang belum menetapkan dukungan untuk Pilkada Jawa Timur 2018, yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) memberi sinyal untuk merapatkan dukungannya kepada calon Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf (Gus Ipul).

Bahkan, PAN dan Gerindra disebut sudah menyiapkan kadernya masing-masing. Hal itu diungkapkan oleh Presiden PKS Sohibul Iman.

"Kami ke Gus Ipul dengan menyodorkan cawagub yang sudah disepakati ketiga partai. PKS mengusulkan Kang Yoto (Bupati Bojonegoro Suyoto), demikian juga PAN, lalu Gerindra menyodorkan pak Moekhlas (Laksamana Madya TNI (Purn) Moekhlas Sidik)," ujar Sohibul melalui pesan singkat, Senin (8/1/2018).

"Kami serahkan kepada Gus Ipul mau ambil yang mana," tuturnya.

 

Bukan Ipong

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menepis isu Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, sebagai bacawagub Gus Ipul di Pilgub Jawa Timur. Ipong, kata Hasto, fokus di Ponorogo, bukan dampingi Gus Ipul.

"Pak Ipong ada di Jawa Timur, tapi beliau sebagai Bupati di Ponorogo, bukan sebagai calon yang akan dampingi Gus Ipul," ujar dia di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Senin (8/1).

Hasto enggan menyebutkan nama-nama yang masuk bursa pengganti Azwar Anas yang mundur beberapa waktu lalu. Dia berdalih fokus untuk mengurus pendaftaran para calon kepala daerah yang sudah ditetapkan. Hasto juga menampik adanya pembicaraan alot soal pendamping Gus Ipul.

"Kita enggak alot kan dengan doa dan dengar aspirasi banyak pihak dan menunggu isyarat langit," tukas dia. (mer/det/kom/tit)




Berita Terkait