Berita Metro

Rabu, 16 Januari 2019  17:44

Charta Politika: Jokowi-Ma'ruf 53,2%, Prabowo-Sandi 34,1%

Charta Politika: Jokowi-Ma'ruf 53,2%, Prabowo-Sandi 34,1%

Jakarta (BM) - Charta Politika kembali merilis hasil survei terkait Pilpres 2019. Hasilnya, elektabilitas pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Survei tersebut dilakukan pada 22 Desember 2018 sampai 2 Januari 2019. Survei dilakukan kepada 2.000 responden dari 34 provinsi yang dipilih dengan metode multistage random sampling. Margin of error dari survei +- 2,19%, dengan tingkat kepercayaan 95%.

"Ini angka riil bisa kita sebut sebagai angka elektabilitas ketika survei dilakukan artinya kalau pemilu dilakukan 22 Desember sampai 2 Januari, yang memilih pasangan nomor 01 elektabilitasnya 53,2%, nomor 02 elektabilitasnya 34,1%, yang menjawab tidak tahu 12,7%," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di Kantor Cahrta Politika di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (16/1/2018).

Yunarto menerangkan, Charta Politika juga melakukan survei dengan indikator tingkat kemantapan memilih capres cawapres. Hasil survei yang didapat yakni 80,9% mantap memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, sementara 79,6% mantap memilih Prabowo-Sandiaga.

"12,8% menjawab tidak tahu," ujar Yunarto.

Yunarto mengatakan Provinsi Jawa Barat akan menjadi daerah tempur. Survei di bulan Desember, Jokowi unggul di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Bali, dan Papua. Sementara Prabowo unggul di DKI-Banten.

"Pak Prabowo masih unggul di Sumatera, DKI dan Banten. Lumbung suara Pak Jokowi di Jateng dan Jatim. Terjadi pertarungan menarik sehingga Jabar akan jadi daerah tempur karena tarik menarik. Kemudian Kalimantan Pak Jokowi masih unggul. Papua juga masih diungguli Pak Jokowi," kata Yunarto.

Berikut hasil survei elektabilitas capres-cawapres: Joko Widodo-Ma'ruf Amin: 53,2%; Prabowo Subianto-Sandiaga Uno: 34,1% ; Belum memutuskan/tidak menjawab: 12,7%.

 

8 Parpol Lolos

Direktur Riset Charta Politika Muslimin mengatakan PDI Perjuangan (PDIP) masih tertinggi dalam hal elektabilitas, yakni 25,2%. Disusul Gerindra 15,2%, Golkar 9%, PKB 8,1%, NasDem 5,3%, Demokrat 4,5%, PPP 4,3%, dan PKS 4,2%.

"Yang akan lolos hanya sekitar 8 partai, berdasarkan survei hanya PKS sampai PDIP yang peroleh 4 persen ke atas. Perindo, PAN, dan PSI, dengan margin of error 2 persen, mereka masih ada peluang, PAN dan Perindo. Kalau PSI dan Hanura belum aman dan bahkan belum lolos," kata Muslimin.

Muslimin mengatakan, dari parpol yang berpeluang lolos, yang elektabilitasnya naik karena efek buntut jas (coattail effect) adalah parpol pengusung capres, PDIP dan Gerindra.

"PDIP hampir naik hanya sedikit, 1 persen, dari Oktober sekitar 1 persen dari bulan sebelumnya sempat turun dan naik. Gerindra pada April 12,3 persen, begitu masuk Oktober penetapan calon Gerindra naik 15 persen dan sekarang 15,2 persen," ujarnya.

"PKB diuntungkan karena trennya terus naik dari 7 persen sampai sekarang 8,1 persen, ini bisa dibaca bahwa bisa saja Ma'aruf dongkrak PKB karena diasosiasikan PKB," lanjut Muslimin.

Dia menuturkan parpol lama punya kecenderungan memiliki pemilih loyal. Figur ketum parpol cukup membuat elektabilitas parpol besar masih aman untuk lolos, meski elektabilitas 3 partai lama, seperti Demokrat, PPP, dan PKS, stagnan di 4 persen.

"Ini menggambarkan bahwa parpol lama cenderung punya pemilih loyal, seperti PDIP, Golkar, PPP, dan PAN, mereka punya massa yang cukup loyal faktor figur ketum pengaruh ke pilihan partai," ujar Muslimin.

Meski demikian, Muslimin melanjutkan masih ada peluang untuk parpol yang belum aman untuk lolos parliamentary threshold.

"Tentunya masih ada 16,2 persen peluang bagi parpol untuk menambah suara, masih ada peluang bagi partai lain. Tapi apakah sebaran 16,2 ini akan merata atau ke salah satu parpol," ujarnya. (det/tit)




Berita Terkait