Berita Metro

Selasa, 27 Maret 2018  18:17

Puluhan Diplomat Rusia Diusir dari Amerika Serikat dan Eropa

Puluhan Diplomat Rusia Diusir dari Amerika Serikat dan Eropa

JAKARTA (BM) - Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa mengusir puluhan diplomat Rusia sebagai bagian dari respons yang terkoordinasi atas serangan terhadap mantan agen rahasia Rusia di Inggris.

Seperti diketahui, mantan agen ganda Rusia di Inggris, Sergei Skripal dan putrinya Yulia, diserang dengan zat saraf di Salisbury, Inggris selatan, dan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Para pemimpin Uni Eropa pekan lalu mengatakan besar kemungkinan Rusia berada di balik serangan ini, namun pemerintah di Moskow menolak tuduhan tersebut.

Bantahan Moskow tak menyurutkan Presiden Donald Trump untuk mengusir 60 diplomat Rusia di Amerika Serikat. Kanada, Jerman, Prancis, Ukraina, dan sejumlah negara Eropa lain mengambil langkah serupa.

Aksi mengusir diplomat Rusia pertama kali dilakukan oleh Inggris.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menyambut baik langkah AS dan Eropa mengusir diplomat Rusia, yang ia katakan sebagai solidaritas.

"Kami menyambut baik tindakan sekutu-sekutu kami, yang jelas memperlihatkan bahwa kita berada dalam posisi yang sama untuk mengirim pesan kepada Rusia bahwa mereka tak bisa terus melanggar hukum internasional," kata PM May dalam satu pernyataan tertulis, Senin (26/03).

'Yang terbesar' sejak Perang Dingin

Bagi pemerintah di Washington, inilah pengusiran diplomat Rusia terbesar sejak Perang Dingin.

Pihak berwenang mengatakan mantan mata-mata Rusia di Inggris, Sergei Skripal dan putrinya Yulia, diserang dengan zat saraf.

Pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri menyebutkan bahwa Rusia menggunakan zat saraf untuk mencoba membunuh seorang warga Inggris dan putrinya di Salisbury.

"Serangan yang dilakukan di Inggris, sekutu kami, mengancam nyawa banyak orang dan tiga orang mengalami luka parah, termasuk seorang anggota polisi," kata Kementerian Luar Negeri AS.

Pemerintah AS menggambarkan serangan ini 'jelas-jelas pelanggaran terhadap hukum internasional dan konvensi senjata kimia'.

Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, mengatakan 14 negara Eropa memutuskan untuk mengusir diplomat-diplomat Rusia 'sebagai balasan' atas insiden di Salisbury.

Rusia menyebut langkah ini 'sangat provokatif' dan berjanji akan mengambil tindakan balasan.

"Ini adalah tindakan yang tidak bersahabat... kami akan mengambil balasan," kata pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Pemerintah Rusia mengancam akan membalas keputusan Amerika Serikat dan 14 negara Eropa yang mengusir para diplomat Rusia terkait serangan gas saraf terhadap eks mata-mata di Inggris.

"Langkah tidak bersahabat oleh sekelompok negara-negara ini tak akan berlalu tanpa dampak dan kami akan merespons," demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Rusia dalam statemen di situsnya seperti dilansir media Bloomberg, Selasa (27/3/2018).

Juru bicara kantor Presiden Rusia (Kremlin), Dmitry Peskov menyebut langkah tersebut sebuah kesalahan dan respons Rusia akan "berpedoman pada prinsip timpal balik." Dikatakannya, Presiden Vladimir Putin akan membuat keputusan final mengenai pembalasan tersebut.

 

Deklarasi Perang

Politisi Inggris, penyiar dan penulis George Galloway mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengusir 60 diplomat Rusia dan menutup konsulat Rusia di Seattle. Galloway menganggapnya sebagai "deklarasi perang."

Galloway membandingkan tindakan Amerika Serikat dengan tindakan negara-negara anggota Uni Eropa.

Dia menyebut bahwa negara-negara Uni Eropa yang terburu-buru mengikuti jejak Inggris dan Amerika Serikat dalam menanggapi keracunan bekas mata-mata Sergei Skripal hanya bertindak sebagai "negara-negara bawahan" yang melakukan apa yang diperintahkan.

"Negara-negara Eropa melakukan pengusiran diplomat dua atau tiga (diplomat), tetapi tindakan Amerika Serikat adalah semacam deklarasi perang," kata Galloway seperti dimuat Russia Today.

Mantan anggota parlemen Inggris itu mengatakan bahwa keputusan untuk mengusir puluhan diplomat Rusia merupakan kemerosotan hubungan kedua negara.

Menurut Galloway, Inggris belum melakukan penyelidikan yang serius dan tidak bias terhadap keracunan Skripal dan putrinya.

"Sejauh yang saya lihat, tidak ada investigasi," katanya.

"Putusan dinyatakan sebelum penyelidikan dimulai dan saya pikir tidak ada investigasi karena hasil penyelidikan analitis ilmiah yang serius akan menunjukkan bahwa tuduhan terhadap Rusia tidak berdasar," sambungnya.

Galloway mengatakan masih banyak pertanyaan yang tidak terjawab dalam kasus Skripal.

"Saya tidak percaya bahwa Rusia bertanggung jawab atas tindakan ini. Dan kabar baiknya adalah sebagian besar publik Inggris cenderung setuju," tandasnya. (rmo/bbc/tit)




Berita Terkait