Berita Metro

Senin, 04 Desember 2017  17:50

Buwas Geram, Produsen PCC Bidik Anak-anak

Buwas Geram, Produsen PCC Bidik Anak-anak
Kepala BNN Komjen Budi Waseso menunjukkan pabrik pembuatan PCC.
SOLO (BM) - Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap belasan tersangka produsen pil PCC di Semarang, Solo dan Sukoharjo. Meski bukan termasuk narkoba, PCC dikategorikan sebagai obat terlarang. Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas) mengatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah melarang peredarannya sejak 2013.

"Tahun 2013 sudah dinyatakan tidak boleh beredar. Memang bukan narkoba, tapi termasuk obat keras. Izin edar ditarik dan dilarang BPOM dan Kemenkes," kata Buwas saat jumpa pers di pabrik PCC di Solo, Senin (4/12/2017).

Buwas mengatakan pil PCC diedarkan dengan pangsa pasar anak-anak. Hal tersebut dilakukan untuk meregenerasi konsumen narkoba.

"Ini adalah upaya jaringan narkotika meregenerasi pangsa pasarnya. Anak-anak diracuni dan ke depan akan mengkonsumsi narkoba," ujar Buwas.

Pil PCC dijual dengan harga murah, sehingga anak usia SD dan SMP mampu untuk membelinya. Per butir pil PCC dihargai Rp 5 ribu.

"Disalahgunakan anak SD-SMP karena harganya Rp 4 ribu sampai 5 ribu per butir. Dampaknya memabukkan, fly. Kalau dicampur kopi atau minuman keras hampir seperti zombie," ungkap dia.

Pil PCC dari Solo diedarkan dengan merek Zenith. Obat terlarang itu telah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kalimantan dan Sulawesi menjadi titik distribusi terbanyak.

Pabrik pil PCC di Solo, kata Buwas, mampu memproduksi tak kurang dari 5o ribu pil PCC per hari. Diperkirakan sejak mulai beroperasi Januari 2017.

"Ini luar biasa, karena produksinya jutaan. Sehari bisa 20-50 ribu pil. Itu bisa lebih bila bahan baku mencukupi," kata Buwas.

Barang bukti yang diperoleh di Solo antara lain buku tabungan beserta kartu ATM, sejumlah ponsel, jeriken dan drum berisi bahan baku, serta 3 juta butir pil PCC merek Zenith.

Pil PCC yang disita, beberapa masih dalam belum belum dikemas. Sisanya sudah dikemas dalam tablet obat bermerek Zenith.

Polisi menangkap tujuh orang yang diduga terlibat dalam kegiatan terlarang di Solo maupun Sukoharjo, yakni Wildan, Jaja Isworo, Heri Dwimanto, Maryanto, Susilo, Suwardi dan Abid. Mereka dikendalikan oleh jaringan Sri Anggoro alias Ronggo.

Wartawan juga sempat diajak masuk melihat isi pabrik. Terdapat tiga mesin besar pencetak PCC dan bahan-bahan baku, antara lain carisoprodol, magnesium dan alkohol.

"Semua alatnya dari luar negeri, canggih, makanya ini pabrik bukan ecek-ecek. Jaringannya pasti punya cabang di mana-mana. Mungkin Bandung, Jogja, Surabaya ada. Tapi dikendalikan satu orang ini," ujarnya.

Seperti diketahui, rumah yang digunakan sebagai pabrik PCC di Solo itu ialah milik Siti Masifa. Rumah tersebut disewa oleh pelaku sejak delapan bulan yang lalu.

Warga sekitar mengaku tidak mengetahui aktivitas di dalam rumah itu. Sebab, kondisi rumah selalu tertutup. Beberapa kali warga melihat mobil boks keluar masuk rumah.

"Tertutup terus (rumahnya), hanya beberapa kali ada mobil boks keluar masuk. Sama sering dengar suara 'dug dug', kayanya suara mesin," ujar Karwanto, penjaga rumah di sebelah TKP, kemarin.

 

Semarang

Sementara itu, dua tersangka utama dan 11 karyawan diamankan dari pabrik pembuat obat terlarang PCC di Kota Semarang. Dari pengakuan para tersangka, mereka sudah memproduksi sejak 3 bulan terakhir.

"Bilangnya mesti baru kalau tertangkap, mengakunya 3 bulan padahal sudah produksi jutaan butir," kata Kepala BNN, Komjen Budi Waseso di lokasi penggerebekan, Jalan Halmahera, Kota Semarang, Senin (4/12/2017).

Para tersangka utama Joni (38) dan Ronggo (52) dihadirkan di depan rumah untuk kepentingan jumpa pers, sedangkan 11 karyawan berada di dalam rumah atas nama Ahmad, Zaenal, Tono, Panuwi, Ade Ruslan, Hartoyo, Budi, Kriswanto, Ade Ridwan, Krisno, dan Suroso.

"Ada 11 pelaku atau tersangka yang kita amankan," imbuhnya.

Buwas menjelaskan keterlibatan para karyawan masih tetap diselidiki, jika terbukti tahu pekerjaannya adalah membuat obat terlarang makan akan diproses hukum lebih lanjut.

"Ini karyawan digaji Rp 9 juta, Rp 5 juta, macam-macam," pungkas Buwas.

Untuk diketahui, rumah mewah yang digunakan untuk memproduksi PCC dan Dextro itu bisa menghasilkan 9 juta butir obat terlarang setiap harinya. Mereka juga memiliki gudang di Jalan Gajah Dalam Semarang.

 

Untung Rp 2,7 M per Bulan

Penghasilan pemilik pabrik PCC di sebuah rumah mewah di Kota Semarang mencapai Rp 2,7 miliar setiap bulan. Gaji karyawan pun cukup tinggi.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengatakan dalam sehari mereka bisa menghasilkan 9 juta butir obat terlarang PCC dan Dextro. Keuntungan Rp 2,7 miliar yang diterima 2 tersangka utama yaitu Joni (38) dan Ronggo (52) sudah merupakan keuntungan bersih setelah menggaji karyawan.

"Rp 2,7 miliar dapat keuntungan bersih. Ini karyawan digaji Rp 9 juta, Rp 5 juta (per bulan), macem-macem," kata Buwas saat jumpa pers di lokasi, Jalan Halmahera, Semarang, Senin (4/12/2017).

Mereka mengirim produknya ke Kalimantan untuk diedarkan. Kemasan ada yang dikemas per 1.000 butir dan ada yang dikemas dengan memalsukan merek obat tertentu. Pengiriman bervariasi sesuai pesanan.

"Ini 1 dus 20 ribu butir. Pengirimannya ke wilayah-wilayah. Ada yang terima 1 orang 50 dos berarti 1 juta butir," tandas Buwas.

"Satu butir Rp 3.000 sampai Rp 6.000," imbuhnya.

Dari penghasilan yang sangat banyak itu, BNN bersama Polri akan melacak indikasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) termasuk aliran dana dari tersangka.

"TPPU-nya akan diungkap bersama PPATK akan telusuri, ada bukti transfer," pungkas Buwas.

 

Barang Bukti

Berbagai barang bukti diamankan dari penggerebegan pabrik PCC di Kota Semarang. Ada pistol peluru karet dengan jenis yang sama digunakan oleh BNN.

Barang bukti lainnya yaitu pistol dengan peluru karet. Kepala BNN Komjen Budi Waseso atau Buwas menegaskan perlu penelusuran soal kepemilikan dari senjata tersebut termasuk jika ada indikasi keterlibatan oknum yang memberikan Joni senjata.

"Senjata sementara amunisi karet, tapi ini diganti amunisi tajam jadi (bahaya). Ini senjatanya CZ ya, jangan-jangan kerjasama sama BNN, nih. BNN juga CZ, jangan-jangan dapet dari BNN," ujarnya.

Buwas meminta kepada Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono yang mendampinginya dalam jumpa pers agar mengungkap terkait kepemilikan senjata tersebut.

"Ini pistol diakui (oleh pelaku) izin bela diri. Tolong pak Kapolda dia itu psikotes atau tidak, siapa tahu ada petugas dikasih pil terus tanda tangan izin," pungkas Buwas dengan nada bercanda.

Sementara itu Condro menjelaskan pihaknya jelas akan menelusuri terkait kepemilikan senjata itu. Kepolisian juga ikut membantu dalam pengembangan kasus termasuk apakah bahan yang masuk itu secara ilegal atau legal.

"Terkait senpi, akan cek apakah proses kepemilikan senpi peluru karet ini sesuai prosedur atau tidak," kata Condro. (det/kom/tit)




Berita Terkait