Berita Metro

Jumat, 25 Maret 2018  18:19

Menteri Rini: 2018, Tidak Ada Lagi BUMN yang Rugi

Menteri Rini: 2018, Tidak Ada Lagi BUMN yang Rugi
Menteri BUMN Rini Soemarno di acara Fun Bike

JAKARTA (BM) - Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan pada 2018 tidak ada lagi perusahaan yang menderita kerugian, dari jumlah BUMN yang mengalami defisit selama 2017 sebanyak 12 perusahaan.

"Tahun 2016 jumlah BUMN yang rugi mencapai 24 perusahaan, tahun 2017 turun menjadi 12 perusahaan. Tahun 2018 targetnya tidak ada lagi yang rugi," kata Rini, saat mengikuti Fun Bike BUMN 2018, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Minggu (25/3/2018).

Menurutnya, berbagai langkah akan dilakukan untuk memperbaiki kinerja keuangan terutama yang masih dalam keadaan defisit.

"Banyak cara, namun yang paling utama adalah sinergi. Misalnya, BUMN dalam satu sektor yang sama, logistik pengadaan barang bisa dikoordinasikan sehingga lebih efisien," ujarnya.

Selain itu, sinergi BUMN juga diarahkan untuk saling memanfaatkan jasa ataupun produksi yang dihasilkan beberapa perusahaan.

Dia menyoroti beberapa BUMN yang masih dalam tekanan keuangan yaitu PT Garuda Indonesia yang perlu berbenah agar kinerja operasi lebih bagus lagi.

Khusus untuk Garuda, kerugian karena lebih dikarenakan perusahaan ini terjebak dalam perang tarif dan rute penerbangan internasional yang tidak efisien. Sedangkan Krakatau Steel kerugiannya membengkak disebabkan antara lain adanya dumping baja dari China.

Untuk itu ujarnya, BUMN yang merugi harus melakukan efisiensi, termasuk menjalin sinergi antar perusahaan. BUMN yang memiliki bisnis atau usaha yang sama juga diarahkan digabung.

Pada kesempatan itu, Rini menjelaskan secara konsolidasian 128 BUMN, pada 2017 membukukan laba komprehensif Rp183 triliun, naik sekitar 10% dibanding 2016.

"Saya berterima kasih pada semua insan BUMN yang telah bekerja keras selama ini. Saya harapkan di tahun 2018, semua BUMN bisa untung dan keluarga besar BUMN bisa bahagia dan sejahtera bersama," ujar Rini.

Rini menambahkan, peningkatan kinerja BUMN tak hanya terlihat jumlah keuntungan. Namun juga berkurangnya perusahaan rugi di tahun 2017 sebesar 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Di tahun 2016 ada 24 perusahaan yang rugi, sekarang sudah tinggal 12. Tahun ini saya harap hilang semuanya (perusahaan rugi)," lanjutnya.

Untuk itu, Rini mengatakan bahwa sinergi antar BUMN harus terus dijaga. Jika dulunya BUMN-BUMN saling berkompetisi, seperti di sektor perbankan dan konstruksi, maka ia ingin mengubah konsep penilaian manajemen BUMN menjadi mengedepankan aspek sinergitas antar perusahaan.

"Ini tahun kebersamaan BUMN, maka sinergi untuk memajukan perusahaan-perusahaan harus tetap dijaga," katanya.

Beberapa BUMN yang berhasil meraih keuntungan di antaranya dari sektor perbankan, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang mencatatkan perolehan laba bersih Rp 20,6 triliun hingga akhir 2017 atau meningkat 49,5% secara year on year (yoy).

Sementara dari sektor konstruksi di antaranya PT Adhi Karya Tbk yang mencetak laba Rp 515,4 miliar dibandingkan 2016 sebesar Rp 313,4 miliar.

Sementara itu PT Hotel Indonesia Natour (Persero) atau HIN, berhasil keluar dari daftar BUMN yang mengalami kerugian, walaupun hanya membukukan laba sebesar Rp 9 juta di tahun 2017.

Kementerian BUMN merupakan transformasi dari unit kerja eselon II Departemen Keuangan (1973-1993) yang kemudian menjadi unit kerja eselon I (1993-1998 dan 2000-2001). Tahun 1998-2000 dan tahun 2001 sampai sekarang, unit kerja tersebut menjadi Kementerian BUMN. Kementerian BUMN memiliki tugas pokok dan fungsi melaksanakan pembinaan terhadap perusahaan negara/BUMN di Indonesia. (rmo/det/kum/tit)




Berita Terkait