Berita Metro

Senin, 26 Maret 2018  17:24

Archandra: 12 Tahun ke Depan, RI Tak Mampu Produksi Minyak

Archandra: 12 Tahun ke Depan, RI Tak Mampu Produksi Minyak
Archandra Tahar

JAKARTA (BM) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam 12 tahun. ESDM menyebut cadangan yang melimpah saat ini ialah gas bumi di mana cukup untuk sekitar 50 tahun ke depan.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, mengatakan saat ini Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Dengan asumsi produksi konstan 800.000 per hari tanpa adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.

"Tapi ini mungkin tidak 11-12 tahun ke depan, karena produksi akan turun. Tahun depan mungkin turun menjadi 700 ribu (bph) dan seterusnya," kata Arcandra, di Jakarta, Senin (26/3).

Menurut Arcandra, faktor teknologi dan temuan cadangan baru adalah kunci keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia. Teknologi eksploitasi minyak bumi saat ini hanya dapat mengambil 40-50 persen cadangan minyak dari dalam perut bumi.

"Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa menguras lebih. Selama anak cucu kita bisa menemukan teknologi itu, kita tidak akan bisa memproduksi lebih dari itu. Untuk gas lebih baik, kita masih (memiliki cadangan) 25-50 tahun ke depan," ungkapnya.

Arcandra melanjutkan, cadangan terbukti minyak Indonesia yang mencapai 3,3 miliar barel tersebut bukanlah cadangan yang melimpah. Bila dibandingkan dengan cadangan terbukti minyak dunia, hanya setara dengan 0,2 persen. Selain itu, Reserve Replacement Ratio (RRR) Indonesia juga dinilai masih rendah.

"Kita hanya mampu reserve replacement ratio 50 persen. Itu adalah rasio berapa banyak yang kita ambil terhadap berapa banyak (cadangan minyak) yang kita temukan. Kita dua kali lebih banyak mengambil daripada menemukan, sementara negara-negara tetangga RRR-nya banyak yang di atas 100 persen," tandas Arcandra.

 

Kembangkan Kilang

Arcandra Tahar mengatakan pembangunan kilang minyak mendesak. Selain untuk mendukung ketahanan energi nasional, ini juga bisa membuat Indonesia bisa hemat US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun per tahun.

Arcandra menjelaskan, Indonesia masih kekurangan pasokan minyak sekitar 900 ribu barel per hari (bph) dari total kebutuhan rata-rata 1,6-1,7 juta bph. Artinya ada kebutuhan yang harus dipenuhi lewat impor.

"Perbedaan antara kalau kita impor (produk olahan) dengan produk kilang (sendiri) ini mencapai 5%. Kalau dihitung dari harga produk RON 92 di kisaran US$ 72-74 per barel, maka spread-nya sekitar US$ 3,5 per barel, sehari kira-kira US$ 3 juta, atau sekitar US$ 1 miliar setahun. Jadi, kalau mau bikin kilang atau impor, ya kilang," ungkapnya lewat keterangan tertulis, Senin (26/3/2018).

Arcandra menjelaskan saat ini kapasitas kilang nasional sekitar 1 juta bph, sementara produksi minyak mentah nasional ada di kisaran 800 ribu bph.

"Kalau kita lihat produksi (minyak mentah) kita 800 bph, yang benar-benar menjadi hak pemerintah hanya sekitar 400 ribu (bph), sisanya hak KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) yang bisa dijual kemana saja, sehingga untuk pengolahan di kilang kita masih butuh 400 bph lagi dari impor," lanjutnya.

Pemerintah pun, jelas Arcandra, melalui Kementerian ESDM berkomitmen dalam pembangunan kilang ini.

"Pemerintah sekarang komit sekali. Kita kerjakan RDMP (Refinery Development Master Plan) yaitu meremajakan kilang-kilang eksisting (agar kapasitas meningkat), Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai. Kita bangun 2 kilang baru di Tuban dan Bontang," paparnya.

Dia menambahkan, perlu adanya pemikiran bersama dan kesadaran untuk mengakui bahwa Indonesia saat ini memiliki permasalahan untuk diselesaikan bersama terutama dalam hal ketahanan energi.

"Kita harus bisa mendefinisikan problem statement. Lalu kita cari penyelesaiannya bersama-sama. Itu yang menjadi tugas bapak-bapak semua yang hadir di sini," tegas Arcandra. (det/mer/tit)




Berita Terkait